Oleh : Eka Teresia S.Pd.M.M
–
Dalam perjalanan hidup ini, kita pasti bertemu dengan beragam karakter. Salah satu yang paling menonjol—dan kadang menjengkelkan—adalah tipe orang yang arogan. Mereka berjalan dengan dada membusung, seolah-olah seluruh pencapaian institusi atau keberhasilan besar sebuah tim hanyalah berkat jasa mereka semata.
Suara mereka akan menggelegar di setiap kesempatan.
“Coba tidak ada saya! Program ini tidak akan berjalan.”
“Ingat, bertahun-tahun saya yang menjalankan agar Program ini sukses. Kalau saya tidak turun tangan…”
Narasi ini, yang terus diulang-ulang, bukanlah itu tanda dari seorang haus Validasi ?. Justru, ini merupakan topeng yang digunakan untuk menutupi ketidakmampuan mereka yang sesungguhnya. Mereka sadar bahwa kontribusi mereka saat ini mungkin tidak signifikan, atau bahkan tidak ada. Jadi, satu-satunya cara untuk merasa “hebat” dan diakui adalah dengan menjual kenangan lama. Mereka terus-menerus mengungkit kebaikan atau bantuan masa lalu sebagai mata uang untuk mendapatkan pengakuan di masa kini.
Ini adalah ironi yang menyedihkan. Mereka bekerja keras, bukan demi hasil terbaik, tapi demi mendapat tepuk tangan paling keras.
Padahal, dalam ajaran agama mana pun, bahkan dalam etika kemanusiaan universal, sudah ditekankan: Kebaikan sejati tidak butuh diumbar. Kebaikan yang ikhlas adalah seperti menanam benih di tanah yang subur; ia tumbuh dan berbuah tanpa perlu diiklankan. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat tulus akan menemukan balasannya sendiri, sering kali dalam bentuk yang jauh lebih indah dan tak terduga, bukan dari pujian manusia.
Orang yang benar-benar hebat dan berkontribusi besar cenderung diam. Mereka fokus pada pekerjaan selanjutnya. Mereka tahu bahwa pengakuan terbaik datang dari hasil yang konsisten, bukan dari volume suara saat menceritakan kisah sukses masa lampau.
Intinya, sifat mengungkit-ungkit jasa adalah strategi si arogan. Mereka ingin kita mengakui kehebatan mereka dengan paksa. Tugas kita hanya satu: tersenyum dan tahu bahwa kebaikan yang sebenarnya adalah yang tak bersuara, bekerja dalam senyap, dan hanya mengharapkan ganjaran dari Tuhan, bukan dari sorotan panggung dunia.
Padang ,3 Desember 2025