Pastor Pius: Iman Sejati Tak Cukup Hanya Taat, Tapi Harus Berbelas Kasih
Oleh : joko
Dalam renungan Jumat pagi di Saumlaki, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat untuk mengedepankan kasih dalam hidup beragama, bukan sekadar ketaatan yang kaku atau kritik yang melukai.
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Jumat pagi, 18 Juli 2025
Suasana tenang menyelimuti wilayah Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan. Di balik sunyinya pagi, suara kasih kembali digaungkan dari Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki yang dikenal penuh kelembutan dan refleksi rohani yang menyentuh.
Dalam renungannya hari ini, Pastor Pius mengajak umat untuk merenungkan makna sejati dari iman dan ketaatan, terutama di tengah kehidupan sosial yang kian kompleks.
Ia mengutip Injil Matius 12:1–8, yang menggambarkan peristiwa Yesus membela para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat karena kelaparan.
“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, dan bukan persembahan,” ujar Pastor Pius, mengutip kata-kata Yesus dengan nada tenang namun penuh penekanan.
Kritik yang Membangun, Bukan Menghakimi
Dalam refleksi tersebut, Pastor Pius menyampaikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap tergoda merasa paling benar hanya karena merasa telah menjalankan aturan agama. Namun, menurutnya, ketaatan ritual tanpa kasih tidaklah cukup.
“Kadang kita berpikir, yang penting sudah taat menjalankan perintah agama. Tapi bagi Yesus, itu belum cukup. Iman yang benar itu diwujudkan dalam belas kasih kepada sesama,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kritik dalam hidup bersama itu penting, namun semestinya dibungkus dengan kasih, bukan dengan nada menghakimi atau menjatuhkan.
“Kritik itu sah-sah saja, tapi bukan untuk menghakimi. Kita hanya saling mengingatkan agar sesama tetap berjalan dalam rel yang benar. Yang utama adalah kasih yang merangkul demi kebaikan bersama,” tegasnya lagi.
Belas Kasih dalam Praktik Sehari-hari
Pesan Pastor Pius menjadi pengingat penting di era digital dan sosial media yang penuh dengan ujaran, kritik tajam, bahkan perundungan. Dalam situasi ini, ajakan untuk menghidupkan belas kasih sebagai identitas umat beriman menjadi semakin relevan.
Menurut Pastor Pius, kasih tak berhenti di kata-kata atau doa, tapi harus terlihat nyata dalam sikap hidup: memberi pengampunan, menyapa yang tersingkir, dan menguatkan yang lemah. Itulah cara terbaik untuk menunjukkan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Iman yang Menghidupkan, Bukan Menghakimi
Refleksi yang disampaikan Pastor Pius di Jumat pagi ini bukan hanya menjadi pesan spiritual bagi umat Katolik, tapi juga menjadi panggilan kemanusiaan universal—bahwa dalam setiap interaksi, kasih harus menjadi napas kehidupan.
Saat dunia makin ramai dengan suara dan penilaian, semoga suara kasih tak pernah padam. Karena seperti pesan Yesus yang disampaikan Pastor Pius: “Yang Kukehendaki adalah belas kasihan.”