DALAM GELAP
Rizal Tanjung
–
Kita hidup
di hari-hari yang sering mati lampu
di kepala penuh tagihan, kecewa,
dan pesan “kamu kuat kan?”
yang kadang lebih berat dari kenyataan
kita berjalan
meski hati remuk kayak kaca jatuh ke aspal
meski dunia scroll ke bawah
sementara hidup kita stuck di luka yang sama
gelap itu bukan cuma malam
gelap itu saat doa terasa centang biru
tapi tak kunjung dibalas langit
gelap itu saat senyum dipaksa upload
padahal hati error total
tapi kita tetap jalan
pelan
tertatih
kadang sambil nangis diam-diam di kamar
karena berhenti bukan opsi
karena menyerah terlalu mahal
karena hidup—
meski kejam—
masih ingin kita peluk
kita bangun setiap pagi
bukan karena kuat
tapi karena masih bernapas
dan bernapas artinya bertarung lagi
kita minum kopi pahit
kayak nasib
dan belajar menerima
bahwa manis tak selalu datang cepat
kita pernah jatuh sedalam-dalamnya
sampai merasa jadi beban dunia
tapi anehnya
dari dasar itu
kita justru belajar berdiri
luka-luka berubah jadi guru
air mata jadi bahasa paling jujur
tentang betapa kita ingin bertahan
kadang hidup nendang tanpa aba-aba
hari ini tertawa
besok kehilangan
hari ini berharap
besok dikecewakan
tapi kita masih di sini
masih melangkah
meski kaki gemetar
meski dada sesak
meski masa depan kelihatan buram
kita berjalan
karena ada orang yang kita cintai
karena ada mimpi yang belum sempat jadi nyata
karena ada versi diri kita yang pantas bahagia
kita belajar kuat
bukan dari motivasi
tapi dari keterpaksaan
dari kenyataan yang tak memberi pilihan
selain maju
dan tahu tidak?
itu justru membuat kita luar biasa
kita mungkin tidak bersinar hari ini
tapi kita tidak padam
kita mungkin jatuh berkali-kali
tapi tidak tinggal di tanah
kita mungkin lelah
tapi tetap melangkah
sebab keberanian
bukan tidak takut
melainkan berjalan meski takut
dan harapan
bukan cahaya besar di ujung dunia
kadang cuma bisikan kecil:
“bertahan sedikit lagi”
jadi meskipun gelap
meskipun berat
meskipun dunia terasa tidak adil
kita tetap berjalan demi hidup
karena setiap langkah adalah bukti
bahwa kita belum kalah
dan selama kita masih melangkah—
gelap tidak pernah menang.
—-
Sumatera Barat, 2026.