Di Pundak Hening
Yusufachmad Bilintention
Di ujung malam kata menggigil,
diperas waktu hingga nadinya retak.
Mereka ingin melarikan diri,
menyelinap ke celah lengang,
bukan kilau murahan di mata rakus,
melainkan desir yang mencari dada jernih.
Aku mendamba kata yang tulus,
tetes bening dari luka,
pelita mungil di tengah badai,
napas hening yang bertahan di gelap.
Pertanyaan berputar:
apakah gelar sungguh kunci kejayaan,
apakah logika sanggup menampung seluruh rasa?
Tanya lebih lantang daripada jawab,
dan kita pun membeku.
Tak semua bisa ditaklukkan nalar,
bangunan megah pun runtuh oleh gempa,
karena bumi menulis aksara sendiri.
Puisi berjalan jauh,
menyusuri relung jiwa,
menemukan hati yang jernih,
yang diam-diam mendengar bisik semesta.
Surabaya, Januari 2026
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly