May 11, 2026

ANTALOGI PUISI

Karya: Rizal Tanjung
(Terinspirasi dari cerita lisan Laratmasepaulus)

Bab I

Angin yang Menyebut Namamu

Di tepi kampung Arui Bab,
angin datang setiap sore
menyusuri daun kelapa
menyebut satu nama: Lolat… Lolat…

Aku—Pangeran Duan—menulis namamu
di punggung layar perahu
dengan tinta yang diambil
dari malam yang jatuh ke laut.

Rambutmu adalah anyaman senja
yang terurai di pundak pulau.
Matamu—danau purba
di mana nenek moyangku menaruh nyawa
sebelum mereka menjadi angin.

Dan setiap desir di dadaku,
adalah desir yang telah ditanam leluhur
di tanah batu bersulam upacara,
agar aku tahu,
siapa yang harus aku rindukan
sebelum aku mengerti rindu.

Bab II

Bulan Menyulam Wajahmu di Air

Di malam festival laut,
bulan menjahit wajahmu
di atas air yang tenang.
Lalu kupungut bayang itu,
kusimpan dalam rongga tulangku
sebagai bintang pribadi.

Kau duduk di sampan kecil
dengan mahkota dari daun ketapang
dan mata yang tahu sejarah
pulau-pulau yang dilahirkan oleh doa.

Lolat,
suaramu mengalir seperti lagu tua
yang dinyanyikan burung hutan
pada bayi laut yang belum bisa menangis.

Dan ketika kau menatapku,
angin terdiam.
Gelombang tunduk.
Waktu menunduk seperti murid.
Dan aku menjadi lelaki
yang seluruh tubuhnya
hanya ingin menjadi perahu untuk hatimu.

Bab III

Tikar Pandan yang Menyimpan Rindu

Kau anyam tikar dari pandan laut,
dengan jari-jari yang menyimpan doa,
dan setiap lipatannya adalah kalimat
yang tak bisa aku ucapkan.

“Jangan kau sentuh daun ini, Duan,” katamu,
“sebab ia menyimpan rindu yang belum diizinkan adat.”

Tapi aku sudah menyentuh
hatimu
dalam angin
dalam malam
dalam embun
yang menempel di dada tanah.

Lolat,
jika aku menjadi tikar pandanmu,
biarlah aku dilipat
dan disimpan
di bawah bantal tidurmu
agar aku mendengar
mimpi-mimpimu
tentang laut
dan tentang aku.

Bab IV

Gelombang yang Tak Bisa Diikat

Kita adalah gelombang
yang ditanam di laut yang sama
namun ditarik ke pantai-pantai berbeda.

Adat adalah karang
yang menyimpan luka masa lalu
dan kami—aku dan kau—
adalah air yang ingin menyembuhkan.

Aku mencoba mengikat gelombang
dengan suara
dengan suling
dengan janji.
Tapi laut menertawakanku.
Sebab cinta, katanya,
tak bisa diikat.
Ia hanya bisa dilepaskan,
agar ia pulang sendiri.

Bab V

Perahu yang Menyimpan Nama Lolat

Aku ukir namamu di samping perahu
dengan kuku yang berdarah.
Setiap kali perahu ini melintasi teluk,
ikan-ikan pun tahu,
perahu ini sedang memanggil seorang perempuan
yang disembunyikan oleh gunung.

“Lolat… Lolat…”
nama itu melambai
dari layar
dari ombak
dari bintang laut.

Perahu ini tahu jalan ke rumahmu
seperti tubuhku tahu arah ke dadamu.

Bab VI

Badai dan Batu Karang

Malam itu, badai datang.
Langit retak seperti dada yang ditikam janji tua.
Perahu-perahu rebah,
dan adat mengangkat tangan:
“Cinta bukan alasan melawan leluhur.”

Tapi aku bukan melawan.
Aku hanya ingin mencintaimu
dengan bahasa yang tidak pernah dimengerti oleh batu.

Lolat,
jika aku gagal melawan adat,
izinkan aku menjadi batu karang
yang setia menunggu ombak
datang dan menyentuh
meski hanya sebentar.

Bab VII

Rambutmu yang Dicuri Angin

Ketika kita tak bisa bertemu,
aku menitipkan rinduku
pada angin.

Tapi angin adalah pencuri:
ia datang ke pulau Lolat,
dan mencuri rambutmu.
Lalu membawanya ke pelupuk mataku
sebelum aku tidur.

Rambutmu, Lolat,
adalah tali
yang mengikat seluruh pulau
agar tidak terlepas dari peta cintaku.

Bab VIII

Langit Tanimbar Menangis

Langit Tanimbar tak pernah hujan
tanpa menyebut namamu.

Ketika engkau menangis di malam adat,
awan menampungnya.
Dan hujan turun di pulauku
dengan suara:
“Lolat, Lolat, Lolat…”

Aku buka jendela
dan kutadah hujan
seperti aku menadah kepulanganmu
yang tak kunjung tiba.

Bab IX

Lolat Menjadi Hujan, Duan Menjadi Karang

Karena adat, karena waktu, karena dunia
tak sanggup melihat cinta sederhana,
engkau akhirnya memilih menjadi hujan.
Dan aku memilih menjadi karang.

Setiap tetesmu menyentuh aku,
aku merasa hidup.
Tapi aku tak bisa memelukmu.
Hujan tak bisa dipeluk.
Karang tak bisa berjalan.

Kita pun menjadi puisi
yang hanya bisa dibaca oleh laut.

Bab X

Laut Menyimpan Surat-Surat Rahasia

Setiap malam purnama,
aku kirim surat pada laut
kugulung dari serat nyiur
kutulis dengan arang dan air mata
dan kulempar ke dalam ombak
agar ia tiba padamu.

Lolat,
laut lebih setia dari manusia.
Ia tak pernah lupa
membisikkan namamu
pada tiap nelayan yang menebar jala.

Dan jika kau mendengar desir lembut
di antara sampan dan gelombang,
itu adalah bisikanku
yang dikirim dari jantung pulauku.

Bab XI

Pohon Sialang yang Menyimpan Doa

Di tengah kampungku,
ada pohon sialang tua
tempat para leluhur dulu menyimpan mantra.

Kini, aku menyimpan namamu di sana
dalam doa yang tak selesai,
karena cintaku padamu
adalah doa yang selalu berubah
menjadi hujan atau luka.

Di setiap musim mekar,
lebah bersarang dan madu mengalir,
dan kuharap tiap tetesnya
membawa serpih rinduku padamu
lewat angin dan ilalang.

Bab XII

Gua Tua, Batu Sunyi, dan Bayangmu

Aku pergi ke gua tua di Lermatang,
tempat roh para leluhur berdiam dalam batu.
Di sana, aku duduk.
Aku menyebut namamu perlahan
hingga gema batu menjadi suara yang mirip suaramu.

Lolat,
bayangmu tumbuh di dinding gua
seperti lukisan purba
yang tak pernah pudar.

Dan aku tahu,
bahkan batu pun tak kuasa melupakan cinta
jika ia pernah disentuh dengan ketulusan.

Bab XIII

Ritual di Atas Hutan yang Menangis

Aku ikut ritual tua
di atas bukit hutan Yamdena.
Mereka menari
dengan topeng dari kulit rotan
dan tubuh dicat arang malam.

Aku menari bukan untuk leluhur,
tapi untukmu.
Setiap hentak kakiku
adalah langkah mencari mu
di dalam dunia yang tak bisa melihat cinta.

Langit gelap,
burung-burung diam.
Hutan menangis pelan,
dan dari langit,
turun rembulan yang tampak seperti pipimu.

Bab XIV

Pulau-Pulau Kecil Menjadi Puisi

Aku mengelilingi pulau-pulau kecil:
Selaru, Wunlah, Batuputih, Lauran…
Masing-masing menjadi bait.
Masing-masing menyimpan jejak langkahmu
yang mungkin dulu pernah menari
di pasirnya.

Dan aku pahat namamu
di atas kulit kerang
yang kuletakkan di altar batu,
agar laut tahu
kau masih perempuan
yang kuinginkan sampai akhir musim.

Bab XV

Anyaman Bulan di Rambutmu

Jika malam datang tanpa bintang,
aku tahu—itu karena bulan sedang menyusup ke rambutmu
dan tidur di sana.

Rambutmu, Lolat,
adalah hutan yang wangi,
adalah gua yang lembut,
adalah sungai yang mengalirkan
lagu-lagu tentang rindu yang belum punya ujung.

Aku ingin jadi angin
yang menelusuri seluruh helainya
dan mati perlahan di ujung telingamu
dengan satu bisik:
“Aku masih mencintaimu.”

Bab XVI

Leluhur yang Kini Mengerti

Pada suatu pagi,
aku mendengar tetua berkata:
“Cinta Duan dan Lolat adalah adat yang belum ditulis.”

Dan sejak itu,
mereka mengganti kata ‘durhaka’
dengan ‘berani’.
Mereka menyebut nama kita dalam upacara
dengan nyala bara dan bunga cempaka.

Kini, cinta kita tidak lagi asing,
ia telah menjadi lagu
yang dinyanyikan saat pernikahan
dan ketika bayi lahir di tengah badai.

Bab XVII

Jika Aku Adalah Ombak, Kau Adalah Pantai

Jika aku terlahir kembali,
aku ingin menjadi ombak
yang setiap saat datang padamu,
dan mati pelan di kaki pasirmu.

Dan jika kau adalah pantai,
kau akan sabar
menerima tubuhku yang luka
yang membawa serpih garam,
dan pecahan bulan
dari tempat aku berlayar.

Karena cinta,
adalah ombak dan pantai
yang saling menyentuh,
meski tak pernah bisa bersatu.

Bab XVIII

Lagu Cinta dari Lembah Terakhir

Di lembah terakhir,
tempat matahari lambat tenggelam,
aku mendengar suara.
Bukan burung, bukan manusia,
tapi suara daun,
yang menyanyikan lagu lama:
“Duan mencinta, Lolat menunggu.”

Dan aku duduk di sana,
seperti batu yang tak bisa menjelaskan apa itu cinta,
tapi sanggup menanggungnya
berabad-abad.

Bab XIX

Surga yang Tercipta dari Namamu

Jika kelak dunia dibongkar
dan pulau-pulau terbelah,
aku ingin hanya satu yang tetap:
namamu.

Karena bagiku,
surga bukan tempat dengan emas dan malaikat,
tapi tempat di mana suaramu mengisi udara
dan langkahmu menciptakan jejak di pasir hatiku.

Lolat,
jika surga ada di langit,
aku rela menjadi bintang.
Jika surga ada di laut,
aku akan menjadi karang
yang menunggumu selamanya.

Bab XX

Nyanyian Tanpa Akhir

Maka setiap kali anak-anak Tanimbar bertanya,
“Siapa itu Duan dan Lolat?”
Orang tua akan berkata:
“Mereka adalah cinta yang tak bisa disatukan
oleh dunia,
tapi dipersatukan oleh langit.”

Dan jika malam tenang,
dengarlah:
ombak masih menyebut nama mereka
seperti mantra,
seperti doa,
seperti nyanyian yang tak akan padam
di tanah di mana cinta adalah pulau paling suci.

Anak-anak kini menyanyikan lagu kita
di sekolah,
di dermaga,
di hutan.

Mereka tak tahu
lagu itu adalah darah dan air mata
yang pernah kita pilih
sebagai bahasa
cinta yang tak diizinkan.

Tapi aku senang, Lolat.
Sebab kita abadi
di lidah burung
di bisik daun lontar
dan di pelajaran paling sederhana:
bahwa cinta sejati
tak pernah benar-benar pergi.

Sumatera Barat,2025