Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Empat Maksiat Hati Yang Bisa Menghapus Pahala Amal Ibadah

Rasulullah ﷺ Bersabda :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim) .
==============
Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Ahad , 23 Nopember 2025 .
(02 Jumadil Akhir 1447 H)

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kita kepada Allah ﷻ yang tidak henti – hentinya melimpahkan karunia dan nikmat – Nya kepada kita semua, termasuk nikmat taufik, hidayah, dan nikmat berjama’ah seperti sekarang ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ .
Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabat, para tabiin, tabi’ut tabiin-nya, hingga kepada kita semua selaku ummatnya.

Dan marilah kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah ﷻ.
Sebab, hanya bekal taqwa kita bisa lebih memaksimalkan ketaatan kita kepada-Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk larangan-Nya.

Setiap anggota tubuh kita ada bentuk-bentuk maksiatnya.
Mulai dari tangan, kaki, mata, telinga, hingga hati.
Namun, di antara kemaksiatan paling merugikan yang dilakukan oleh anggota tubuh kita, tampaknya kemaksiatan hati. Mengingat kemaksiatan hati sendiri bersifat tersembunyi, sulit teridentifikasi dan sulit untuk diobati.
Oleh sebab itu, siapa pun yang di antara kita yang hendak menata dan menghindari kemaksiatan seluruh anggota tubuh kita, sebaiknya terlebih dahulu menata dan membersihkan hati. Tak terkecuali dari kebiasaan dan kemaksiatan-kemaksiatan yang biasa dilakukannya.

Kaitan dengan kemaksiatan hati,
setidaknya ada 4 kemaksiatan yaitu :

1.Maksiat hati yang pertama adalah riya saat beramal.
Sebagaimana yang kita maklumi, riya’ sendiri beramal karena ingin terlihat baik di mata orang lain.

Padahal, Allah ﷻ sendiri telah melarang sifat ini, bahkan menyebutnya sebagai syirik kecil, sebagaimana yang dalam ayat Al-Qur’an:
“Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya,” (QS. Al-Kahfi : 118).

Ditafsirkan para ulama, syirik dalam beribadah pada ayat ini adalah sifat riya’ atau beramal ingin terlihat orang lain. Selanjutnya, riya’ juga tidak hanya beramal ingin terlihat orang lain.
Tetapi juga takut beramal semata takut terlihat orang lain juga termasuk riya’ yang dapat menggugurkan pahala amal itu sendiri, dan tergolong maksiat hati dan tercela di mata syari’at Islam.

Untuk menjauhi sifat riya’, maka marilah kita memperbaiki niat amal ibadah kita.
Sayangilah amal kita, agar tetap bernilai dan berpahala di sisi Allah.
Tanamkan dalam hati, akibat sifat riya, amal yang kita lakukan hanya akan sia-sia dan tanpa balasan dari yang Maha Kuasa.

Selanjutnya, berbuatlah sewajarnya.
Jangan pernah berlebihan.
Stabilkan hati kita saat berbuat kebaikan.
Jangan terganggu jika ada yang memuji amal kita.

Begitu pun saat ada yang mencela. Ingat, beramallah karena Allah, bukan karena manusia.
Betapa pun besar kecilnya amal, akan tampak di hadapan Allah dan akan dirasakan balasannya:
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji gandum, niscaya dia akan melihat balasannya.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya,” (QS. Az-Zalzalah : 7-8).

2.Maksiat hati yang kedua adalah rasa ujub.
Rasa atau sifat ujub sendiri, yaitu melihat kemampuan beramal atau kemampuan taat kepada Allah datang dari diri sendiri.
Sama halnya dengan sifat riya’, sifat ujub juga dapat menghapus pahala amal.
Tidak hanya itu, sifat ujub biasanya ditandai dengan sifat takabur, sombong, angkuh, dan menolak kebenaran yang biasanya ditandai dengan melihat diri lebih terhormat, lebih mulia, dan lebih agung dari orang lain, serta melihat orang lain lebih rendah dari kita.

Dalam pandangan makrifat Al-Qur’an, sifat ujub dan sifat-sifat turunannya ini merupakan sifat yang tidak disukai Allah ﷻ, sebagaimana tersirat dalam ayat yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong,” (QS.An-Nahl : 23).

Selain itu, sifat sombong juga merupakan sifat yang membahayakan dan menjauhkan pelakunya dari balasan surga, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya:
“Tidak akan masuk surga bagi seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari sifat takabur.” (HR. Muslim).

Untuk menghindari sifat ujub, sombong, dan takabur ini, maka sadarilah bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah ﷻ.
Semua manusia berasal dari tanah dan tercipta dari air hina. Sadari pula oleh kita bahwa yang membuat hamba istimewa di hadapan Allah hanyalah ketakwaan. Kendati ada perbedaan dan kelebihan harta atau jabatan, semua itu hanya titipan semata dari-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.

3.Maksiat hati yang ketiga adalah hasud dan dengki.
Hasud artinya sifat tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, bahkan jika bisa nikmat itu hilang dari orang tersebut dan beralih kepada diri kita.
Sementara sifat dengki adalah menyembunyikan kebencian dan permusuhan terhadap orang lain.

Orang yang memiliki sifat-sifat ini selalu merasa berat hatinya jika orang lain mendapat kebaikan atau nikmat.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ sudah mewanti-wanti sifat hasud dan dengki ini.

Salah satunya dalam ayat berikut ini:
“Janganlah kamu berangan-angan atau iri hati terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain,”
(QS. An-Nisa : 32).

Sementara dalam haditsnya, Rasulullah ﷺ juga sudah mengingatkan perihal bahayanya sifat hasud. :
“Sesungguhnya sifat hasud dapat memakan kebaikan seperti halnya api memakan kayu bakar,”
(HR. Abu Dawud).

Selain itu, ada lima bahaya lain bagi pemilik rasa hasud dan dengki, yaitu selalu merasa bingung dan sempit yang tak berkesudahan, musibah yang tak mendapat balasan, bermunculannya perbuatan tidak terpuji, terkuncinya pintu hidayah, dan tertimpanya murka Allah.

Untuk menghindari sifat hasud dan dengki, marilah kita memperbanyak syukur dan rasa rida terhadap pemberian Allah.
Sebab, datangnya sifat hasud dan dengki ini biasanya datang dari hati yang tidak puas terhadap karunia Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.

Terakhir, maksiat hati yang ke 4 adalah merasa ragu kepada Allah dan putus asa terhadap rahmat-Nya.Padahal, selaku seorang mukmin, kita wajib memiliki ‘aqaidul iman dan keyakinan yang kuat terhadap Allah ﷻ.

Yakin terhadap wujud atau keberadaan-Nya dan sifat-sifat wajib lainnya.
Keraguan kepada-Nya selain merupakan maksiat hati juga merupakan dosa besar.
Demikian halnya dengan sifat putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah.

Hal itu jelas merupakan hal yang dilarang dan tidak disukai Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Dzat yang mengampuni semua dosa.”(QS. Az Zumar : 53).

Sifat ragu dan putus asa terhadap rahmat Allah, biasanya lahir sifat-sifat buruk lainnya seperti tidak sabar, tidak tawakal, menafikan takdir, bahkan sifat buruk sangka pada Allah. ​​​​​​​

Untuk menghindari sifat buruk sangka pada Allah, marilah kita tingkatkan keimanan, keyakinan, dan keilmuan tentang Allah.
Ingat, apa pun yang berikan kepada hamba-Nya adalah baik dan mendatangkan hikmah.
Hanya pengetahuan kita saja yang terbatas dan tidak mengetahui rahasia-Nya. Semoga kita jauh dari macam – macam maksiat hati dan diberi pertolongan oleh Allah untuk menjauhinya agar kita mampu menghadap Allah dengan membawa hati yang bersih.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته