April 11, 2026

INPEX Dorong Peluang Usaha Lokal dari Proyek Masela

Screenshot_20260315-004955

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Suasana kebersamaan Ramadan terasa hangat di Aula Hotel Galaxy, Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (12/3/2026).

Pemerintah daerah, tokoh agama, jurnalis, serta perwakilan industri hulu migas berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh INPEX Masela Ltd bersama SKK Migas.

Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan di daerah sekaligus membahas perkembangan proyek strategis nasional Abadi Masela yang selama ini dinantikan masyarakat Tanimbar.

Manager KKKS INPEX Masela Ltd, Zaki Zein, menjelaskan bahwa pengembangan proyek Masela memiliki sejumlah faktor penting yang harus dipenuhi sebelum investasi besar benar-benar dijalankan.

Ketersediaan lahan menjadi faktor utama
Menurut Zaki, salah satu faktor penting adalah ketersediaan lahan yang akan digunakan dalam pembangunan infrastruktur proyek, termasuk rencana pembangunan akses jalan.

Ia mencontohkan adanya kawasan pulau dan hutan yang harus dipertimbangkan secara matang, terutama terkait dampaknya terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.

“Satu, harus ada ketersediaan lahan. Kemarin kan ada Pulau Nustual sama hutan. Untuk masyarakatnya juga dipikirkan misalnya kalau hutannya dipakai, masyarakatnya mau ke mana,” ujarnya.

Zaki mengatakan pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi telah membentuk tim terpadu untuk membahas persoalan tersebut, termasuk mekanisme kompensasi bagi masyarakat yang terdampak.

“Nanti mungkin setelah Lebaran tim terpadu yang dipimpin gubernur akan datang ke Tanimbar untuk bicara langsung bagaimana menilai dan memberikan kompensasi kepada masyarakat,” katanya.

Kajian teknis dan kelayakan ekonomi
Selain persoalan lahan, pengembangan proyek juga bergantung pada hasil kajian teknis melalui tahapan Front End Engineering Design (FEED).

Dalam tahapan ini berbagai aspek teknis akan dihitung secara rinci, termasuk desain fasilitas, spesifikasi pipa, hingga perkiraan biaya pembangunan.

“Kedua adalah FEED, nanti dilihat ketebalan pipanya berapa, bentuknya seperti apa, kemudian akan keluar biaya fasilitasnya berapa. Apakah masih ekonomis atau tidak,” ujarnya.

Jika hasil kajian tersebut menunjukkan proyek masih layak secara ekonomi, maka pengembangan akan dilanjutkan sesuai rencana.

Stabilitas sosial penting bagi investasi
Zaki juga menekankan pentingnya stabilitas sosial dalam mendukung kelancaran proyek yang nilai investasinya diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.

Ia mengingatkan bahwa gangguan sosial dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap suatu daerah.

“Bayangkan mau berinvestasi Rp300 triliun di suatu tempat, kalau diganggu secara sosial bagaimana? Pasti investor tidak mau, nanti semua bisa rugi,” ujarnya.

Menurut Zaki, menjaga stabilitas sosial menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, masyarakat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan daerah.

Peluang ekonomi dari multiplier effect
Zaki menilai masyarakat tidak seharusnya hanya melihat proyek Masela dari sisi peluang menjadi tenaga kerja di perusahaan.

Menurutnya, potensi ekonomi yang lebih besar justru berada pada multiplier effect yang muncul dari aktivitas proyek.

Ia memberikan contoh kebutuhan logistik yang sangat besar ketika proyek memasuki fase konstruksi.

“Misalnya ada 12 ribu pekerja di sini yang butuh makan siang. Kalau satu orang makan satu telur saja, berarti butuh 12 ribu telur. Tanimbar siap tidak?” ujarnya.

Selain telur, kebutuhan lain seperti beras, sayur, daging, dan ikan juga akan meningkat secara signifikan selama proyek berlangsung.

“Beras untuk 12 ribu orang, sayur, ayam, ikan, itu semua peluang. Tapi sering dilupakan, yang dipikirkan hanya bagaimana jadi pegawai INPEX,” kata Zaki.

Ia mengingatkan bahwa masa kerja langsung di proyek mungkin hanya berlangsung beberapa tahun, sementara peluang usaha pendukung dapat berjalan lebih lama bahkan setelah proyek beroperasi.

“Kalau jadi pegawai mungkin hanya tiga tahun saat konstruksi. Tapi kalau usaha suplai makanan itu bisa berkelanjutan sampai proyek beroperasi,” ujarnya.

Dorong lahirnya pengusaha lokal
Zaki berharap pemerintah daerah bersama masyarakat dapat mulai mempersiapkan sektor usaha yang mampu memenuhi kebutuhan proyek, seperti peternakan, perikanan, hingga pertanian.

Ia menilai potensi wilayah Tanimbar sangat besar untuk mendukung kebutuhan logistik tersebut.

“Misalnya dari sekarang dibuat keramba-keramba ikan atau tambak ikan. Lautnya bersih tapi saat ini belum banyak dimanfaatkan,” katanya.

Menurut Zaki, jika peluang tersebut dimanfaatkan dengan baik, masyarakat lokal justru dapat memperoleh keuntungan ekonomi yang lebih besar dibanding hanya bekerja sebagai karyawan proyek.

“Tolong bersama pemerintah daerah memikirkan bagaimana menciptakan pengusaha-pengusaha lokal yang bisa menyuplai kebutuhan makanan saat konstruksi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa informasi mengenai porsi tenaga kerja lokal sebenarnya telah tercantum dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek Masela.

“Ada di dokumen AMDAL kami porsinya untuk Maluku berapa persen dan untuk Tanimbar berapa persen. Itu domain publik dan bisa dilihat di website Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Zaki.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta perusahaan, proyek Abadi Masela diharapkan tidak hanya menjadi proyek energi nasional, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.(rls:joko)