Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Rabu , 12 Nopember 2025 .
(21 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Puji dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alhamdulillah, berkat limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, kita masih mendapatkan nikmat iman dan nikmat Islam.
Kita masih mendapatkan nikmat sehat, nikmat panjang umur, dan nikmat kekuatan.
Sehingga hati kita masih terpanggil menuruti perintah Allah, dan duduk bersimpuh di tempat yang Insyaa’ Allah penuh berkah ini.
Tidak sedikit saudara-saudara kita yang secara fisik terlihat sehat, namun kakinya tidak kuat dilangkahkan menuju masjid Allah. Mudah-mudahan, mereka segera mendapatkan taufik dan hidayah.
Dan kita yang sudah mendapatkannya, semoga senantiasa dipelihara oleh Allah, dan diberi keistiqomahan hingga penghujung usia. Aamiin ya Allah.🤲
Sholawat dan salam, semoga tercurahkan kepada pemimpin dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan perjuangan beliau, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahilan dan kehinaan.
Dan semoga sholawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Terlebih dahulu marilah kita sekalian agar selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita.
Sebab iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan hakiki di akhirat kelak.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa dijanjikan kemenangan dan Surga oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan.” (QS. An-Naba’ : 31).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali-’Imran: 185).
Allah menyebutkan banyak sifat orang-orang yang bertaqwa.
Di antaranya Allah menyebutkan empat sifat orang yang bertaqwa dalam firman-Nya :
“Sedangkan Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh dari mereka.
Kepada mereka dikatakan,:
‘Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu.
Yaitu kepada setiap hamba yang senantiasa bertaubat kepada Allah dan memelihara semua peraturan – peraturan-Nya.
Yaitu orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang ikhlas, masuklah ke dalam Surga dengan aman dan damai.
Itulah hari yang abadi.”
(QS. Qaf: 31-34).
Di dalam firman Allah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka firman-Nya dengan mengatakan:
“Sedangkan Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh dari mereka.”
Ini menunjukkan bahwa, orang-orang yang bertaqwa akan dimuliakan pada hari kiamat karena Surga didekatkan kepada mereka, sehingga mereka bisa melihat Surga dari dekat. Berbeda dengan orang-orang kafir. Mereka dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam dengan cara diseret di atas wajah-wajah mereka, sehingga mereka tersungkur di dalam Neraka Jahannam.
Kemudian, firman Allah Ta’ala:
“Kepada mereka dikatakan, ‘Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu’.”
Sebagian para ulama mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata “inilah” sebagai isyarat dekat.
Sehingga disimpulkan bahwa orang-orang bertaqwa itu melihat Surga dari dekat, dan mereka melihat keindahan-keindahan di dalam Surga.
Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa Surga itu didekatkan kepada orang-orang yang bertaqwa di dunia, yaitu dengan kerinduan mereka kepada Surga, sehingga tatkala di akhirat kelak Surga didekatkan kepada mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang ciri-ciri orang yang akan didekatkan kepada mereka Surga.
Allah mengatakan:
“Yaitu kepada setiap hamba yang senantiasa bertaubat kepada Allah dan memelihara semua peraturan-peraturan- Nya.”
“Yaitu orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang ikhlas.”
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Adapun 4 sifat orang yang bertaqwa , yaitu :
1.Pertama adalah awwab, yaitu orang yang senantiasa bertaubat.
Di dalam bahasa Arab, kata “awwab” bermakna rajaa yaitu senantiasa kembali kepada Allah.
Mereka adalah orang yang senantiasa kembali kepada Allah dalam segala kondisi. Tatkala dia diberi kenikmatan, dia tidak ujub karena dia sadar bahwa segala kenikmatan datangnya dari Allah.
Tatkala dia melakukan dosa, dia juga senantiasa kembali kepada Allah tanpa menunda-nunda taubatnya.
Dan dia beristighfar tatkala terjatuh dalam perbuatan dosa, karena dia takut meninggal dalam kondisi belum bertaubat kepada Allah.
Tatkala dia terkena musibah, dia juga selalu kembali kepada Allah.
Dia sadar bahwa musibah yang menimpanya adalah di antara takdir AllahTa’ala, dan dia tahu bahwa yang Allah takdirkan adalah yang terbaik bagi hamba-Nya, sehingga dia senantiasa berhusnudzon kepada AllahTa’ala.
Inilah sifat orang bertaqwa yang pertama.
2.Sifat yang Kedua adalah hafidzh, yaitu yang senantiasa menjaga.
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud menjaga adalah menjaga perintah – perintah Allah dan juga menjaga larangan – larangan Allah.
Dia tidak melanggar karena takut kepada Allah.
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang menjaga dosa-dosa yang telah dia lakukan, yaitu dengan tidak melupakan dosa-dosa yang dia lakukan, agar dia senantiasa bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3.Sifat yang Ketiga adalah takut kepada Allah .
Orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan olehnya, yaitu orang yang takut kepada Allah tatkala bersendirian.
Dia takut kepada Allah tatkala tirai-tirai telah tertutup, tatkala kamar-kamar telah terkunci.
Dan sesungguhnya inilah ketakutan yang hakiki.
Adapun rasa takut kepada Allah tatkala di hadapan orang lain, maka itu bukanlah hakikat takut yang sebenarnya.
Rasa takut yang sesungguhnya dari seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala baru akan tampak tatkala dia sedang bersendirian, tatkala sebab-sebab maksiat mudah untuk dia lakukan, tatkala tidak ada orang yang dapat melihatnya, maka saat itulah dia diuji bahwa apakah rasa takutnya kepada Allah berasal dari hatinya atau hanya sekedar dari lisannya.
4.Sifat yang Keempat adalah orang yang datang dengan hati yang semangat beribadah dan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Itulah empat ciri-ciri orang yang bertaqwa.
Maka barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat empat ciri ini, maka sungguh dia telah beruntung dan berbahagia di dunia dan di akhirat, karena akan dikatakan kepada mereka :
“Masuklah ke dalam Surga dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.” (QS. Qaf: 34).
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.” (QS. Qaf: 35).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Bila penduduk Syurga telah masuk ke Syurga, maka Allah berfirman, :
‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’
Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih?
Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam Syurga dan menyelamatkan kami dari Neraka?’.”
Beliau bersabda,:
“Lalu Allah membukakan hijab pembatas Wajah-Nya, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah dapat memandang Rabb mereka.” (HR. Muslim).
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Di antara empat sifat tersebut, yang perlu kita renungkan pada kesempatan kali ini adalah takut kepada Allah Ta’ala tatkala bersendirian. Sesungguhnya takut kepada Allah tatkala bersendirian adalah ibadah yang mulia dan akan diberikan ganjaran yang besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya untuk dihisab ada dua Syurga baginya.” (QS. Ar-Rahman: 46).
Sebagian ulama menafsirkan, tatkala seseorang sedang bersendirian, dan dia hendak bermaksiat kepada Allah, kemudian dia ingat bahwasanya dia akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak, sehingga akhirnya dia meninggalkan maksiat tersebut, ganjaran bagi orang yang seperti ini adalah dua Surga dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karenanya perlu untuk kita senantiasa ingat sifat ini, terutama di zaman sekarang, yang mana sangat mudah bagi seseorang untuk bermaksiat tatkala sedang bersendirian. Sebagian orang atau pemuda di waktu sahur mereka disibukkan berpindah dari satu perkara yang haram kepada perkara haram yang lainnya, sementara sebagian orang lain sedang shalat malam dan bermunajat kepada Allah.
Sebagian orang disibukkan dengan website demi website yang berisi sampah.
Hendaknya kita bertaqwa kepada AllahTa’ala dan takut akan hari yang mana kita akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara hal yang dapat membantu kita untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala kita sedang bersendirian adalah mengingat bahwa kita akan dihisab oleh Allah.
Para ulama telah sepakat bahwa jika seseorang berdosa kemudian bertaubat dan beristighfar kepada Allah, maka dosanya, hukumannya akan dihapus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun para ulama beda pendapat, apakah catatan dosanya terhapus atau tidak.
Pendapat yang Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa, jika seseorang telah bertaubat, maka catatan dosanya akan dihapus bersama dengan siksaannya. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah.” (QS. Hud: 114).
Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmdzi).
Pendapat yang Kedua, ini juga pendapat yang dipilih oleh para Muhaqqiqin sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wa Al-Hikam, bahwa yang dihapus hanyalah siksa dan hukuman, sedangkan catatan tidak akan terhapus.
Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).
Menurut ulama yang memilih pendapat kedua, yang dimaksud kebaikan akan menghilangkan keburukan adalah menghilangkan hukuman tanpa menghilangkan catatannya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Pada hari kiamat orang mukmin akan dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla dengan sangat dekat sekali hingga tubuhnya menyentuh Allah.
Setelah itu Allah akan memberikan pengukuhan atas dosa-dosanya. Kemudian Allah akan bertanya,
“Apakah kamu tahu dosamu?”
Orang mukmin itu menjawab:
“Ya Tuhanku,
Saya tahu dosa saya.”
Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menyembunyikannya untukmu ketika di dunia dan pada hari ini Aku telah mengampunimu.”
Lalu orang mukmin itu diberi catatan amal baiknya.
Sementara orang-orang kafir dan munafiq akan dipanggil dengan suara yang keras di hadapan semua makhluk :
“Mereka inilah orang-orang yang telah mendustakan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim).
Secara lahir hadits ini menunjukkan bahwasanya orang-orang akan kembali diingatkan akan dosa-dosa yang telah dia lakukan meskipun dia telah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, sungguh memalukan tatkala kita melakukan maksiat, kemudian tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah ingatkan akan hal itu pada hari kiamat kelak tatkala kita sedang dihisab oleh Allah.
Sungguh kondisi yang sangat memalukan. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata:
“Sungguh aku malu dihadapan-Mu, meskipun Engkau telah mengampuniku.”
Hasan Al-Bashri Rahimahullah pernah ditanya tentang nasib seseorang di akhirat yang berbuat dosa kemudian bertaubat dan beristighfar. Beliau mengatakan:
“Dia akan diampuni, akan tetapi dosanya tidak akan terhapus dari buku catatannya sampai Allah memperlihatkan kepadanya dosa tersebut.
Kemudian Allah bertanya kepadanya tentang dosa yang dia lakukan.”
Kemudian Al-Hasan menangis dengan terisak-isak, lalu berkata, “Jika kita tidak menangis meskipun karena rasa malu tatkala diperlihatkan dosa-dosa kita pada saat itu, maka sudah sepantasnya kita menangisi diri kita.”
Dengan taubat yang sungguh-sungguh inilah, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, melimpah berkah dan ridho-Nya, serta akan memasukkan kita ke dalam Syurga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.
Untuk itu, mari kita semua segera bertaubat, jangan sampai terlambat.
Dan semoga Allah berkenan menjaga ketaqwaan kita, menjaga keimanan kita, dan semoga hidayah ini tetap menyertai kita hingga akhir hayat.
Aamiin ya Mujibas Sa’ilin.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته