May 16, 2026

Kekuatan Dzikir dan Do’a untuk Kedamaian Bangsa

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam S3 UM Sumbar

“Dan ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.”

(Q.S. Al-Baqarah: 152)

Hari ini, bangsa kita tak hanya menghadapi tantangan yang bersifat lahiriah politik yang gaduh, ekonomi yang rapuh, dan gejolak sosial yang tak kunjung reda tetapi juga krisis spiritual yang senyap namun menggerogoti akar-akar kedamaian. Maka timbullah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: masihkah kita menyisakan ruang dalam jiwa untuk mengingat Allah? Masihkah bangsa ini menempatkan dzikir dan do’a sebagai senjata utama dalam menggapai kedamaian?

Menteri Agama (Menag) Prof. Nasaruddin Umar menghimbau agar masyarakat, khususnya tokoh agama dan umat beriman, untuk melakukan dzikir dan istighatsah demi kedamaian dan keselamatan bangsa Indonesia. Himbauan ini bertujuan untuk menyatukan hati, memperkuat spiritualitas, dan meminta perlindungan dari Allah SWT di tengah berbagai tantangan. Doa bersama ini juga menjadi penegasan peran pesantren dan agama dalam menjaga moralitas bangsa, serta upaya menyerahkan segala urusan kepada Tuhan untuk menciptakan ketenangan batin.

Tujuan Himbauan:

Menyatukan Hati Umat:

Doa bersama dianggap sebagai upaya untuk menyatukan hati seluruh elemen masyarakat dalam tujuan yang sama.

Memperkuat Bangsa:

Melalui doa, diharapkan bangsa Indonesia dapat menguatkan spiritualitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan, baik itu bencana alam maupun masalah sosial.

Mencari Perlindungan Ilahi:

Istighatsah adalah bentuk munajat dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari segala bencana dan hal buruk.

Menjaga Kedamaian dan Kesejahteraan:

Kegiatan doa dan dzikir ini bertujuan agar Indonesia selalu diberikan kedamaian, persatuan, dan kesejahteraan, serta terhindar dari perpecahan dan konflik.

Peran Pesantren dan Tokoh Agama:

Benteng Moral dan Spiritual:

Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk moralitas dan spiritualitas bangsa, serta menjadi sumber energi doa bagi ketahanan bangsa.

Menenangkan Umat:

Tokoh agama diajak untuk bersama umatnya menenangkan hati dan jiwa, khususnya di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Ajakan Lainnya:

Doa dan Kerja:

Selain berdoa, Menag juga menegaskan perlunya usaha dan kerja keras bersama dalam pembangunan bangsa.

Menghormati Perbedaan:

Dalam doa kebangsaan, umat Islam diajak untuk menjaga kerukunan antarumat beragama, toleransi, dan menghormati perbedaan, yang menjadi kekuatan bangsa.

Dzikir dan Do’a: Jalan Ilahiah Menuju Kedamaian

Secara etimologis, dzikir berasal dari kata dzakara–yadzkur–dzikran, yang berarti menyebut atau mengingat. Dalam konteks spiritual Islam, dzikir bukan sekadar repetisi lafaz, melainkan bentuk kehadiran hati di hadapan Yang Maha Hadir. Ia adalah terapi ruhani, spiritual remedy yang menenangkan, memperkuat, dan membersihkan.

Sementara itu, do’a adalah senjata kaum mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Ad-du‘ā’ silāḥul mu’min.”

“Do’a adalah senjata orang mukmin.”

(HR. Al-Hakim)

Keduanya, dzikir dan do’a, bukan hanya ibadah ritual, tetapi memiliki dimensi sosial dan nasional. Ia adalah energi kolektif yang mampu menggerakkan perubahan dari dalam ke luar. Dalam perspektif ilmu psikologi transpersonal, aktivitas spiritual seperti dzikir terbukti menurunkan stres, meningkatkan empati, dan memperkuat koneksi sosial. Dalam ilmu neuroteologi, dzikir memicu gelombang otak alfa dan theta, yang berkorelasi dengan rasa damai dan bahagia. Maka, dzikir bukan sekadar ibadah, tapi jalan ilmiah menuju stabilitas jiwa dan jika dilakoni bersama, menuju stabilitas bangsa.

Bangsa dalam Pusaran Krisis: Tantangan Zaman

Bangsa Indonesia berdiri di tengah pusaran perubahan global: era digital yang melenyapkan sekat, krisis ekologi yang membayangi, serta polarisasi identitas yang menajam. Konflik sosial bermunculan dari ranah maya hingga dunia nyata. Hoaks, ujaran kebencian, dan ego sektoral telah menciptakan luka-luka sosial yang dalam. Di tengah kebisingan ini, suara hati menjadi senyap.

Dalam sejarahnya, bangsa besar bukan hanya ditopang oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi oleh fondasi spiritual yang kokoh. Lihatlah bagaimana para pendiri bangsa menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai sila pertama Pancasila. Bahkan dalam sidang BPUPKI, tokoh-tokoh bangsa dari lintas agama menyepakati bahwa bangsa ini harus berdiri di atas kesadaran Ilahiah.

Namun kini, spiritualitas publik kita mulai mengering. Masjid-masjid ramai saat Ramadan, tapi sepi dalam kesadaran sosial. Dzikir dan do’a terpenjara di ruang privat, padahal ia seharusnya mengalir ke ruang publik, menjadi arus moral dalam kehidupan berbangsa.

Cahaya dari Ulama dan Generasi Muda: Harapan yang Menyala

Di balik tantangan, selalu ada harapan. Seperti bintang di langit pekat, harapan itu lahir dari suara-suara yang masih teguh berdzikir di tengah kebisingan zaman. Dari para ulama yang tak lelah membimbing umat. Dari para guru yang menanamkan nilai-nilai tauhid di ruang kelas. Dari para pemuda yang kembali mencintai Al-Qur’an dan menjadikan teknologi sebagai ladang dakwah.

Harapan itu juga tampak dalam gerakan dzikir massal yang mulai menjamur di berbagai daerah. Dzikir bukan lagi kegiatan sunyi, tapi menjadi gerakan kebudayaan. Dalam dzikir berjamaah, kita merasakan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara si miskin dan si kaya, antara pejabat dan rakyat. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.

Harapan itu juga terletak dalam kesadaran kolektif bahwa bangsa ini tidak bisa diselamatkan hanya oleh kekuatan duniawi. Kita butuh pertolongan langit. Maka dzikir dan do’a bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.

Menuju Strategi Spiritual Nasional

Kini saatnya bangsa ini menata kembali arah. Kita perlu menyusun strategi spiritual nasional—sebuah gagasan yang meletakkan dzikir dan do’a sebagai bagian dari upaya pembangunan karakter bangsa (nation building). Strategi ini mencakup:

1. Pendidikan Spiritual di Sekolah: Menguatkan kurikulum akhlak dan ibadah yang bukan hanya kognitif, tapi aplikatif.

2. Gerakan Dzikir Kolektif di Instansi: Membiasakan dzikir dan do’a dalam setiap awal rapat, sidang, dan kegiatan pemerintahan.

3. Media Dakwah yang Humanis dan Inklusif: Menyebarkan nilai dzikir melalui media sosial dengan pendekatan budaya.

4. Kampanye Do’a Nasional: Mengajak seluruh elemen bangsa untuk bermunajat demi keselamatan negeri.

Dzikir sebagai Nafas Bangsa

Seperti sungai yang mengalir tenang di lembah, dzikir dan do’a adalah aliran hidup yang menyejukkan bangsa. Dalam dunia yang terus berubah, hanya bangsa yang menjaga ruhnya yang akan bertahan.

Kita perlu menegaskan kembali identitas spiritual kita: bahwa Indonesia adalah negeri yang dibangun atas dasar iman dan do’a. Bahwa kekuatan terbesar kita bukan pada senjata atau kekayaan, tetapi pada jiwa-jiwa yang khusyuk di malam hari dan bekerja tulus di siang hari.

Mari kita kembalikan dzikir dan do’a ke pangkuan bangsa. Mari kita jadikan ia nafas kolektif yang menyatukan, menenangkan, dan menguatkan.

Karena sejatinya, kedamaian bangsa bukan lahir dari perjanjian-perjanjian duniawi semata, melainkan dari hubungan yang lurus antara manusia dan Tuhannya.

“Allāhummarhamnā bijamī‘i ahli dz-dzikri wa du‘ā’…”

Ya Allah, rahmatilah kami dengan keberadaan seluruh ahli dzikir dan do’a.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Sawahlunto, 1 September 2025

Penulis adalah Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam S3 UM Sumatera Barat.