Oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), Guru Blogger Indonesia
–
Teknologi seharusnya menjadi alat pemajuan peradaban. Kehadirannya memberikan ruang kreatif, memperluas pengetahuan, dan memudahkan guru serta pemerintah dalam menyampaikan informasi. Namun, belakangan ini teknologi justru membawa wajah lain yang memprihatinkan: pergeseran nilai dan menurunnya integritas di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan pendidik.
Fenomena ini bukan sekadar isapan jempol. Di era ketika semua orang bisa bersuara, ketika kamera ponsel lebih cepat menyala dibandingkan suara hati nurani, kita menyaksikan perubahan sikap yang mengkhawatirkan: yang penting cuan, yang penting follower, yang penting viral, meski harus mengorbankan etika. Bahkan pada hal-hal yang menyangkut masa depan pendidikan bangsa.
Sebagai guru yang puluhan tahun bergelut dalam dunia pendidikan, saya (Omjay) merasakan betul getirnya situasi ini. Bukan hanya siswa yang terdampak, tetapi juga para guru yang kini justru saling memojokkan satu sama lain demi konten. Inilah fenomena yang perlu kita sikapi bersama.
1. Ketika “Cassing” Lebih Penting Dari Isi
Istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah “cassing bagus, isi kosong.”
Banyak pihak tampil luar biasa di media sosial—rapi, lantang, penuh jargon—namun ketika diuji pada substansi, ia runtuh. Ada yang mengaku pembela guru, padahal komentarnya menyulut perpecahan. Ada yang berteriak-teriak soal pendidikan, padahal tidak pernah hadir menyentuh realitas di sekolah.
Fenomena ini menggeser cara pandang publik. Orang lebih percaya pada suara paling keras, bukan pada suara paling benar. Orang memuja gaya, bukan isi. Dan celakanya, sebagian guru ikut terperangkap dalam pusaran ini.
Teknologi memang membuka panggung, tapi tidak semua yang tampil layak disebut pemain.
2. Viral Lebih Penting dari Kebenaran
Salah satu dampak paling serius dari perkembangan teknologi tanpa etika adalah normalisasi informasi yang tidak terverifikasi. Ada konten yang seolah membela guru, padahal memecah belah. Ada pula akun yang memanfaatkan isu pendidikan hanya untuk menaikkan subscriber dan follower.
Di berbagai daerah, muncul video demonstrasi di sekolah-sekolah yang bahkan dilakukan oleh kalangan guru sendiri. Tujuannya? Kadang bukan memperjuangkan kebenaran, tetapi mengejar atensi publik.
Guru terjerat dalam drama digital.
Pemerintah terburu-buru merespons demi citra.
Masyarakat bingung membedakan mana fakta, mana opini.
Padahal, pendidikan adalah bidang yang sangat sakral. Ia menyangkut masa depan anak-anak Indonesia. Bila semua diputuskan berdasarkan siapa yang paling viral, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
3. Demonstrasi yang Menyudutkan Guru: Ketika Kita Menyakiti Diri Sendiri
Yang lebih menyedihkan adalah ketika sesama guru saling mendiskreditkan.
Ada guru pro-kebijakan, ada anti-kebijakan, ada yang hanya ikut-ikutan karena terpengaruh konten media sosial. Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi yang tidak wajar adalah ketika profesi guru sendiri dijadikan bahan jualan konten.
Kita lupa bahwa:
profesi guru itu mulia,
martabat guru harus dijaga,
kritik harus berbasis data,
solusi harus diutamakan daripada sensasi.
Sebagian demonstrasi yang viral justru memberikan citra negatif pada profesi guru, seolah guru adalah pihak yang tidak pernah puas, tidak profesional, atau mudah terprovokasi. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dan ironinya lagi, kadang aksi yang viral itu justru digerakkan oleh mereka yang mencari panggung.
Omjay sering mendengar keluhan guru:
“Pak, kami bukan hanya merasa tidak didukung, tapi juga disakiti oleh sesama guru.”
Ini adalah sinyal alarm. Ketika pendidik saling melukai, siapa yang akhirnya dirugikan?
Anak-anak kita.
4. Peran Pemerintah yang Terkadang Reaktif
Pemerintah juga terkadang terbawa arus yang sama: lebih responsif pada viral daripada substansi.
Ketika sebuah isu meledak di media sosial, kebijakan bisa tiba-tiba berubah atau dibuat tergesa-gesa.
Undang-undang, regulasi, dan standar pendidikan sering kali dibuat dalam kejar-kejaran citra publik. Padahal regulasi yang menyangkut guru membutuhkan:
riset mendalam,
diskusi panjang,
keterlibatan nyata para praktisi pendidikan,
serta keberanian untuk tidak tunduk pada tekanan warganet.
Teknologi membuat pemerintah harus lebih terbuka, tetapi bukan berarti harus reaktif. Kebenaran dan kebaikan harus menjadi prioritas.
5. Guru Harus Kembali Menjadi Mercusuar: Bukan Pengejar Cuan
Teknologi sudah pasti tidak bisa dihentikan. Yang bisa kita lakukan adalah memperkokoh integritas.
Guru bukanlah influencer. Guru adalah penuntun. Guru adalah penenang, bukan penyulut. Guru adalah penyaring informasi, bukan penyebar sensasi.
Maka, sebelum membuat konten atau komentar:
tanyakan dulu apakah ini mendidik,
apakah ini memberi manfaat,
apakah ini memperbaiki keadaan,
apakah ini menjaga martabat profesi guru.
Omjay selalu mengatakan:
“Jika kita menulis atau berbicara dengan hati, maka kita akan menyentuh hati. Tapi bila kita menulis hanya untuk viral, maka kita hanya akan menciptakan kegaduhan.”
6. Saatnya Kita Berbenah: Kembali ke Jati Diri Guru Indonesia
Kita perlu gerakan moral baru di kalangan pendidik:
Mengutamakan akal sehat di atas sensasi.
Memeriksa fakta sebelum berbicara.
Tidak menggunakan profesi guru sebagai komoditas digital.
Menyelesaikan masalah melalui dialog, bukan drama.
Mengutamakan persatuan profesi daripada memperbesar jurang konflik.
Di era teknologi, tantangan kita memang berat. Namun pendidikan Indonesia hanya bisa maju bila guru tetap tegak sebagai penjaga nilai, bukan pengikut tren.
Penutup: Mari Kembali Menjadi Teladan
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah manusia di baliknya.
Jika guru terus saling menjatuhkan, jika pemerintah terus reaktif, jika masyarakat terus terpukau oleh sensasi, maka masa depan pendidikan kita akan digadaikan pada likes dan views.
Mari kita kembali pada jati diri.
Mari kita menjaga marwah profesi guru.
Mari kita menata langkah agar pendidikan Indonesia tidak dipimpin oleh algoritma, tetapi oleh kebijaksanaan.
Karena pada akhirnya, kemajuan bangsa bukan ditentukan oleh siapa yang paling viral, tetapi siapa yang paling berintegritas.