March 14, 2026
Copilot_20260222_161939

Yusufachmad Bilintention

Pernah anak mantuku pulang membawa kurma,
Katanya, kurma adalah sahabat sejati bagi puasa.
Ia berpuasa, meski bukan musim kurma,
Seperti rindu yang setia, meski waktu tak bersua.

Kurma, kau tumbuh di tanah yang bisu,
Di retak gurun, dalam peluk batu yang kelu.
Namun kau tak tunduk pada terik yang membakar,
Menjadi lambang teguh jiwa yang tak gentar.

Dalam kitab suci, kau bukan sekadar buah,
Kau saksi cinta Isa dan Muhammad yang Allah anugerahkan.
Kau pemersatu dalam sepi yang tak berbatas,
Di antara doa-doa yang menggema di padang yang lepas.

Manismu menyembuhkan hati yang lupa,
Lembutmu menyisipkan kekuatan di antara luka.
Di kampungku, kau adalah nafas Islam,
Bagi tetanggaku, kau cahaya Almasih yang diam-diam menyiram.

Kurma, keajaiban yang menyimpan hikmah,
Dalam ganjilmu tersimpan kesucian yang tak lelah.
Satu, tiga, lima—puasa menggenapi ganjilmu dengan doa,
Mengantar keyakinan melewati batas-batas dunia.

Di gurun yang keras, kau memberi teduh,
Seperti hati lembut yang meneduhkan gelombang angkuh.
Kurma, kau adalah kekuatan yang tak bertepi,
Bagi mereka yang merindu rasa abadi.

Surabaya, 15 Desember 2024

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly