LEGASI LITERASI PANGERAN DIPONEGORO
oleh ReO Fiksiwan
–

“Di Manado, Diponegoro dan para pengikutnya hidup dalam keterasingan, jauh dari tanah Jawa yang dicintainya, namun tetap menjaga martabat sebagai seorang pemimpin yang tidak tunduk pada kekuasaan kolonial.” — Peter Carey(77), Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785–1855(2014).
Novel fiksi sejarah tiga tahun Pangeran Diponegoro, Manado 1830, terbit pertama 2017, karya Reiner Ointoe, telah menjadi panduan jejak literasi sejarah untuk mengenali ulang seorang tokoh utama dalam lima tahun Java Oorlog.
Panduan literasi, hari ini(13/3/2026), dari toko buku Gramedia, satu lokasi dari toponim pengikut Pangeran Diponegoro, Pondol, Perkumpulan Putra Putri Literasi Sulawesi Utara
(PPLSU) mengajak sejumlah anggotanya menapak tilas lokasi bersejarah sang pangeran.
Dalam novel itu, lebih dari sepuluh lokasi menjadi tempat Pangeran Diponegoro dan sembilan pengikutnya wira-wiri selama kurang lebih tiga sejak ia tiba di pelabuhan Manado, 23 Juli 1830 dengan kapal fregat Pollux, nama bintang terang di rasi Gemini(Beta Geminorum) dan secara etimologis berarti “sangat manis.”
Sebagai pelaksana napak tilas literasi, PPLSU yang diampu ketuanya, Bara Prima Selvanus, putra sulung Gubernur Sulut, Mayjen(Purn.) Yulius Selvanus, hanya menetapkan lima lokasi.
Berikut kelima lokasi itu: Pelabuhan Manado, Fort Niew Amsterdam, Kampung Cina, Kampung Islam, Wale Tasikela dan Kampung Borgo sebagai tujuan wisata literasi sejarah.
Tentu, sejumlah lokasi itu memiliki asal-usul penamaan(toponim) yang dalam novel digambar secara menarik dan lebih mengukuhkan akan ingatan(recalling culture) yang romantis kultural.
Salah satu lokasi, Lawangirung, di mana pengikut Pangeran Diponegoro bermukim memiliki toponim, lawang(pintu) dan ireng(hitam).
Para pengikut pangeran menandai pondok mereka dengan pintu hitam(lawangirung) sebagai ekspresi semiotik(tanda) bahwa mereka merupakan migran dari Magelang, Jawa Tengah.
Selain itu, dekat lokasi itu, kampung Borgo telah lama dihuni mereka yang berasal dari keturunan Portugis, seperti Mahieu, Wingkler, Bastian, Lorenzo, Voges, bercampur dengan orang lokal.
Dua di antara lokasi di sekitar kampung Borgo, selain Lawangirung, makeret(toponim asal Minahasa: keret = berteriak atau bakuku) dan teling(pertahanan) sangat menarik dilukiskan dalam novel itu.
#Legasi Literasi Pangeran Diponegoro
– Novel Fiksi Sejarah
Novel Tiga Tahun Pangeran Diponegoro, Manado 1830 karya Reiner Ointoe(terbit pertama 2017) menjadi salah satu karya penting dalam literasi sejarah Sulawesi Utara.
Novel ini menyoroti masa pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ditangkap Belanda, khususnya tiga tahun awal di Manado bersama sembilan pengikutnya.
Lebih dari sepuluh lokasi di Manado digambarkan sebagai tempat persinggahan sang pangeran sejak kedatangannya di pelabuhan Manado, 23 Juli 1830.
Narasi ini bukan sekadar fiksi, tetapi juga panduan literasi untuk mengenali ulang tokoh utama Perang Jawa(Java Oorlog) yang berlangsung lima tahun(1825–1830).
#Napak Tilas Literasi 2026
Hari ini, 13 Maret 2026, komunitas Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU) mengadakan kegiatan napak tilas literasi sejarah.
Dipimpin ketua Bara Prima Selvanus (putra sulung Gubernur Sulut, Mayjen (Purn.) Yulius Selvanus), mereka menelusuri jejak Diponegoro di Manado.
#Lokasi yang dikunjungi:
Pelabuhan Manado: tempat berlabuh kapal fregat Pollux yang membawa Pangeran Diponegori bersama istri, adik, ipar dan lima pengikutnya.
1/ Fort Niew Amsterdam:
Kantor keresidenan Manado sekaligus rumah tahanan Pangeran Diponegoro, istri, adik dan iparnya Tumenggung Dwipoyono.
2/ Kampung Cina:
Lokasi tempat tokoh fiksi, Tionghoa keturunan dan sekutu dari Jansen, tangan kanan Residen Manado, Daniel William Francois Petermaat.
3/ Kampung Islam:
Lokasi, kini sekitar mesjid tua, Fathbul Mubin, tempat Diponegoro bersilaturahmi dengan warga lokal.
4/ Wale Tasikela:
Lokasi sekitar kantor Walikota Manado sekarang atau dekat Watu Sumanti, tempat warga lokal bertemu.
5/ Kampung Borgo:
Lokasi bermukim beberapa warga lokal dari Minahasa, Portugis(ditandai kuburan Borgo) dan migran Jawa.
Lokasi-lokasi ini dipilih karena memiliki nilai historis dan toponim yang kuat, sebagaimana digambarkan dalam novel.
#Toponim dan Ingatan Kultural
– Lawangirung:
berasal dari kata lawang(pintu) dan ireng(hitam). Para pengikut Diponegoro, setelah bermukim di situ, menandai pondok mereka dengan pintu hitam sebagai simbol migrasi dari Magelang, Jawa Tengah dan menghindar dari salah paham yang dilakukan warga Borgo, Makeret dan Teling.
– Kampung Borgo:
dihuni keturunan Portugis(Mahieu, Wingkler, Bastian, Lorenzo, Voges) bercampur dengan masyarakat lokal.
– Makeret:
dari bahasa Minahasa, keret berarti berteriak atau bakuku. Lokasi tokoh fiksi dari Borgo dan Minahasa hidup. Komunitas ini sebelum melakukan aktivitas mereka membuat ritual keret(berteriak) atau bakuku.
– Teling:
bermakna pertahanan, menjadi bagian penting dalam narasi novel. Lokasi tokoh fiksi Kalekos hidup bersama komunitas alifurunya.
Toponim ini bukan sekadar nama tempat, melainkan penanda semiotik yang mengikat memori kolektif masyarakat.
Novel Ointoe berhasil menghidupkan kembali recalling culture yang romantis kultural.
Dua di antara peristiwa romantis, ketika Pangeran Diponegoro jatuh hati pada putri dari anggota garnisun keresidenan, Letnan Hasan Nur Latif(tokoh real), nama fiksinya: Meimuna Nur Latif.
Kisah ini disinggung sedikit oleh Peter Carey dalam Takdir, namun dalam fiksi akhirnya dinikahi Lumintang, putra fiksi asal Minahasa bercampur Portugis dan Tionghoa. Nama fiksi Lumintang sendiri dalam bahasa Pinyin(Tiongkok) berarti pembuat saluran air.
Kedua, pertunangan yang berakhir penikahan dari tokoh fiksi pengikut Diponegoro, Karinda, dengan Wulan asal Tomohon. pelayan kios Baba Liong di sekitar kampung Cina.
#Legasi Literasi dari novel ini bertujuan:
1/ Sejarah hidup kembali:
Novel dan napak tilas menjadikan Diponegoro bukan hanya tokoh Jawa, tetapi juga bagian dari memori kolektif warga Sulawesi Utara.
2/ Literasi sebagai panduan:
Membaca novel menjadi langkah awal, menapak tilas lokasi menjadi penguatan pengalaman dalam memori kolektif warga.
3/ Identitas lokal:
Toponim dan kisah pengikut Diponegoro memperkaya identitas Manado sebagai ruang pertemuan budaya Jawa, Minahasa, dan Portugis dan warga lokal lainnya seperti Bantik, Arab, Cina dan Maluku.
#Ringkasan dan Aspek Detail
Novel Tiga Tahun Pangeran Diponegoro, Manado 1830(Reiner Emyot Ointoe, 2017)
– Tokoh utama:
Pangeran Diponegoro & sembilan pengikutnya.
– Periode sejarah:
Pengasingan awal di Manado, mulai 23 Juli 1830 hingga dipindahkan ke Fort Rotterdam, Somba Opu Makasar kini, pada 1833 dan wafat 1855, yang diangkat kembali oleh Komunitas literasi Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU).
– Lokasi napak tilas meliputi:
Pelabuhan Manado, Fort Niew Amsterdam, Kampung Cina, Kampung Islam, Wale Tasikela dan Kampung Borgo.
– Makna toponim:
Lawangirung, Borgo, Makeret, Teling hingga Tasikela sebagai simbol migrasi dan pertahanan budaya.
Akhirnya, legasi literasi Diponegoro di Manado ini, bukan hanya soal sejarah pengasingan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat hari ini merawat ingatan melalui novel, toponim, dan napak tilas.
#coverlagu:
Lagu Mijil Sekarsih dibawakan oleh Eddy Laras bersama Endang, dirilis tahun 2020 di platform musik digital seperti Spotify.
Maknanya, kata “mijil”(sendu) sendiri digunakan Pangeran Diponegoro ketika menulis Babad Tanah Jawa di Manado, berakar dari tradisi tembang macapat Jawa, khususnya jenis Mijil, yang sarat pesan moral, etika, dan ajaran luhur tentang kehidupan.
#credit foto cover buku terbitan pertama(2017) dan poster kegiatan literasi sejarah dari PPLSU.