Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I
Kepala MAN Kota Sawahlunto dan
Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar
Ketika Sebaris Kalimat Menyentak Kesadaran
“Membaca dunia dan dibaca dunia”sebaris kalimat yang sederhana, tetapi terasa menggelitik, seksi, dan menembus sunyi ruang akademik pada Sabtu, 22 November 2025. Kalimat itu meluncur dari Prof. Dr. Mahyudin Ritonga, M.A., Direktur Pascasarjana UM Sumatera Barat, sebagai prolog perkuliahan Program Doktoral Studi Islam kelas III.A.
Suasana ruang kuliah berubah. Mahasiswa tersentak tasintak seolah disentuh oleh getaran intelektual yang mengajak mereka meninjau ulang hubungan antara ilmu, manusia, dan semesta. Kalimat itu bukan sekadar motivasi, melainkan pernyataan filosofis yang menyimpan kedalaman, keberanian, dan cakrawala gagasan.
I. Membaca Dunia: Kewajiban Ilmuwan Muslim
Dalam perspektif Islam, “membaca dunia” bukan hanya membaca realitas fisik, tetapi membaca ayat kauniyah yang terbentang di jagat raya. Allah berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmuwan sejati adalah pembaca realitas. Membaca fenomena sosial, dinamika budaya, gelombang ekonomi global, perubahan iklim, hingga arah perkembangan teknologi.
Prof. Mahyudin mengingatkan: tak ada ulama besar yang lahir tanpa kemampuan membaca zamannya. Imam Syafi’i membaca budaya Mesir, Ibn Khaldun membaca dinamika sosial, al-Ghazali membaca pergulatan pemikiran, dan Ibnu Sina membaca denyut nadi alam semesta.
“Membaca dunia” bermakna memahami keadaan manusia, problem kemanusiaan, dan arah peradaban.
Itulah tugas ilmuwan muslim: bukan hanya membaca teks, tetapi membaca konteks.
II. Dibaca Dunia : Menjadi Cahayvxa dalam Peta Peradaban
Jika membaca dunia merupakan proses internal, maka dibaca dunia adalah konsekuensi eksternal. Dunia akan membaca bahkan menilai apa yang kita hasilkan: karya ilmiah, gagasan, inovasi, dan kontribusi peradaban.
Dunia akan membaca siapa yang berkarya.
Dunia akan membaca siapa yang melahirkan kebaruan.
Dunia akan membaca siapa yang memberi manfaat.
Sebagaimana para ilmuwan besar dahulu, nama mereka dibaca dunia bukan karena pangkat, tetapi karena kontribusi. Ibn Khaldun dibaca dunia lewat Muqaddimah. Al-Khawarizmi dibaca dunia lewat algoritma. Ibnu Haitsam dibaca dunia lewat optika.
Dalam era digital saat ini, “dibaca dunia” bermakna visibility akademik: artikel yang dirujuk, gagasan yang diperdebatkan, pemikiran yang direspons global.
Prof. Mahyudin seperti ingin mengatakan:
Ilmuwan besar tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga menabur ilmu.
III. Dialektika Ilmu : Dari Membaca Menuju Dibaca
Kalimat“membaca dunia dan dibaca dunia” menyimpan dialektika yang mendalam. Ada gerak ilmiah dua arah:
1. Membaca dunia → aktivitas epistemologis
Mengumpulkan data, memahami fenomena, menyusun teori.
2. Dibaca dunia aktivitas aksiologis
Karya ilmiah menjadi manfaat, rujukan, dan kontribusi global.
Kedua proses ini tidak boleh berhenti pada salah satunya.
Ilmuwan yang hanya membaca dunia tetapi tidak dibaca dunia, ia seperti sumur dalam yang tak pernah diakses masyarakat. Sebaliknya, ilmuwan yang ingin dibaca dunia tanpa membaca dunia terlebih dahulu hanya melahirkan karya kosong, tak bermakna.
Di sinilah mutiara kalimat itu berkilau:
Ilmu harus berdialektika dengan dunia, sehingga ia hidup, tumbuh, dan menghidupi.
IV. Perspektif Filsafat dan Sains Modern
Dalam dunia filsafat kontemporer, gagasan ini sejalan dengan pemikiran:
Jurgen Habermas ilmu harus berdialog dengan publik, menjadi bagian dari diskursus sosial.
Michel Foucault pengetahuan melahirkan kuasa, dan dunia akan ‘membaca’ bentuk kuasa itu.
Ziauddin Sardar umat Islam harus membaca dunia modern tanpa kehilangan identitas epistemologinya.
Prof. Mahyudin berada dalam arus pemikiran besar itu: bahwa ilmuwan tidak boleh menjadi penonton, tetapi aktor yang menggerakkan peradaban.
V. Konteks Mahasiswa Doktoral: Tanggung Jawab Intelektual
Bagi mahasiswa doktoral termasuk penulis sendiri kalimat tersebut mengandung teguran lembut sekaligus alarm akademik:
Jangan puas belajar tanpa berkarya.
Jangan puas membaca tanpa menulis. Jangan puas memahami tanpa menyebarkan manfaat
Kelas doktoral adalah ruang tempaan untuk melahirkan pemimpin pemikiran (thought leaders) yang mampu menjawab tantangan zamannya.
Membaca dunia menjadi kewajiban,
dibaca dunia menjadi tujuan.
Kedua-duanya menjadi jalan menuju peradaban yang tercerahkan.
VI. Menjadikan Kalimat Itu Kompas Intelektual
“Membaca dunia dan dibaca dunia” layak dijadikan kompas perjalanan ilmiah:
1. Sebagai motivasi personal, agar terus belajar, meneliti, menganalisis.
2. Sebagai etos akademik, bahwa ilmu harus melahirkan manfaat sosial.
3. Sebagai fondasi peradaban, sebab yang membaca dunia dengan jernih akan mampu memperbaiki dunia.
Kalimat Prof. Mahyudin bukan hanya prolog perkuliahan; ia adalah manifesto intelektual, ajakan untuk hidup dalam dunia ilmu dengan penuh kesadaran, keberanian, dan kontribusi.
Tasintak yang Melahirkan Kesadaran Baru
Pada pagi itu di ruang kuliah Program Doktoral UM Sumbar kami semua tersentak. Tersentak oleh kalimat yang sederhana namun dalam. Tersentak oleh tanggung jawab intelektual. Tersentak oleh perintah untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis peradaban.
Dan di titik itu kita mengerti:
Ilmuwan besar bukan hanya yang memahami dunia, tetapi yang membuat dunia memahami sesuatu melalui dirinya.
Itulah inti mutiara kalimat itu.
Itulah tugas kita sebagai ilmuwan.
Itulah jalan panjang menuju peradaban yang tercerahkan.