Menyulam Mitos, Menghidupkan Kemanusiaan: Catatan Awal atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar
Yusufachmad Bilintention
Informasi Umum
- Judul Buku: Sun-Shattering Mythology of Tanimbar, Indonesia: A Transformative Journey to Humanity
- Penulis: Frits H. Pangemanan, Ph.D.
- Seri: Amy Habitation Series
- Kata Pengantar: Msgr. Seno Inno Ngutra, Pr.
- Kata Pengantar Khusus: Nim M. Ramirez, Ph.D.
Di antara lembar-lembar awal buku Sun-Shattering Mythology of Tanimbar, terbentang bukan sekadar pujian, melainkan gema dari para pemikir yang telah disentuh oleh kedalaman karya Prof. Frits H. Pangemanan. Halaman v hingga ix bukan hanya ruang apresiasi, tetapi juga cermin bagaimana mitos lokal menjelma menjadi narasi transformatif yang menyentuh akar terdalam kemanusiaan.
Mitos sebagai Model Pembelajaran
Erlinda G. Acierto, dalam ulasannya, menyebut karya ini sebagai model of learning yang mengintegrasikan antropologi, psikologi, sosiologi, dan teologi. Di sini, mitos tidak diperlakukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang hidup—sebuah jalan pulang menuju akar budaya dan spiritualitas yang berakar pada Tuhan. Nada tulisannya nyaris liturgis, mengingatkan kita bahwa memahami mitos adalah memahami diri sendiri dalam konteks komunitas dan kosmos.
Bagi saya, ini bukan sekadar pendekatan akademik. Ini adalah undangan untuk menulis dengan kesadaran bahwa setiap narasi memiliki potensi menjadi ruang pembelajaran, penyembuhan, dan perjumpaan.
Narasi yang Menghidupkan Kenangan
Ketika Acierto mengenang masa kecilnya, duduk di bawah cahaya lampu yang berkelap-kelip, mendengarkan cerita dari orang tuanya, saya merasa bahwa mitos bukan hanya teks, tetapi pengalaman. Ia adalah suara yang diwariskan, nyala yang tak padam, dan ikatan yang melampaui waktu. Dalam konteks ini, karya Pangemanan menjadi pemantik—menghidupkan kembali tradisi lisan sebagai fondasi spiritual dan sosial.
Sebagai penulis, saya melihat ini sebagai pengingat bahwa cerita yang kita tulis harus mampu menghidupkan kembali ruang-ruang yang telah lama sunyi. Kita tidak hanya menulis untuk dibaca, tetapi untuk dikenang.
Relevansi Lintas Disiplin dan Generasi
Susana Reyes dan Elsa Ratu menambahkan lapisan lain dalam pembacaan mereka. Reyes menekankan bahwa karya ini lahir dari disertasi yang mendalam, sementara Ratu melihatnya sebagai jembatan menuju pemahaman budaya lokal yang lebih utuh. Keduanya sepakat bahwa buku ini bukan hanya untuk akademisi, tetapi untuk siapa pun yang ingin memahami manusia melalui akar dan mitosnya.
Dalam konteks ini, saya melihat bahwa karya semacam ini tidak hanya membangun wacana, tetapi juga membangun jembatan—antara generasi, antara disiplin, dan antara spiritualitas serta realitas sosial.
Penutup: Dari Mitos ke Makna
Halaman-halaman awal buku ini mengajarkan bahwa mitos bukanlah dongeng yang usang, melainkan cahaya yang membelah gelap—seperti judulnya: Sun-Shattering. Ia menghancurkan kabut ketidaktahuan, membuka ruang bagi pemahaman, dan mengajak kita berjalan kembali ke asal—bukan untuk tinggal di masa lalu, tetapi untuk menemukan arah masa depan.
Sebagai penulis yang juga menapaki jejak spiritual dan budaya, saya merasa bahwa karya ini bukan hanya referensi, tetapi juga resonansi. Ia berbicara dalam bahasa yang saya kenal: bahasa akar, bahasa jiwa, dan bahasa cerita.