April 11, 2026

Neneng Memberikan Contoh Nyata di Tengah Budaya Omon-Omon

neneng

Oleh: Novita sari yahya

Pagi datang perlahan di sebuah kampung kecil di pinggir kota. Matahari baru saja naik dari balik deretan rumah sederhana yang berdiri rapat di sepanjang jalan sempit. Cahaya keemasan menyentuh atap seng dan genting tua. Udara masih sejuk, dan suara ayam yang berkokok bersahutan dengan langkah anak-anak yang berangkat ke sekolah.

Di ujung gang, seorang perempuan sedang menata beberapa buku di atas meja kayu. Namanya Neneng.

Rumahnya sederhana. Halamannya tidak luas, hanya cukup untuk beberapa kursi plastik dan sebuah pohon mangga yang sudah tua. Di bawah pohon itulah biasanya anak-anak kampung berkumpul setiap sore.

Neneng mengangkat sebuah buku, meniup debu tipis di sampulnya, lalu menyusunnya dengan rapi.

Seorang tetangga yang sedang menyapu halaman berhenti sejenak dan memperhatikan.

“Buku lagi, Neng?” katanya sambil tersenyum.

Neneng menoleh.

“Iya. Ada yang mengirim dari kota.”

“Masih ada orang yang mau menyumbang buku?”

Neneng mengangguk pelan.

“Masih ada. Tidak banyak, tapi cukup.”

Tetangganya mendekat dan melihat tumpukan buku itu.

“Anak-anak nanti datang lagi?”

“Datang,” jawab Neneng. “Biasanya setelah pulang sekolah.”

Tetangganya mengangguk.

Di kampung itu, semua orang sudah tahu kebiasaan Neneng. Hampir setiap sore halaman rumahnya berubah menjadi tempat belajar sederhana. Tidak ada papan nama. Tidak ada spanduk. Tidak ada pengumuman besar.

Hanya anak-anak yang datang membawa rasa ingin tahu.

Bagi Neneng, itu sudah cukup.

Siang hari kampung itu tiba-tiba menjadi ramai. Beberapa mobil berhenti di depan balai warga. Orang-orang berpakaian rapi turun satu per satu.

Seorang ibu yang sedang membeli sayur bertanya kepada temannya.

“Ada acara apa?”

“Katanya kegiatan pemberdayaan perempuan.”

Beberapa warga datang ke kantor desa. Kursi-kursi disusun rapi. Sebuah mikrofon dipasang di meja depan.

Seorang perempuan berdiri dan mulai berbicara.

“Saudara-saudara sekalian,” katanya dengan suara lantang, “perempuan harus berani maju. Kita harus mandiri. Kita harus memperjuangkan perubahan.”

Orang-orang bertepuk tangan.

Ia melanjutkan pidatonya.

“Kita harus membangun kesadaran masyarakat. Kita harus bergerak bersama untuk perubahan sosial.”

Kata-katanya terdengar indah. Banyak orang mengangguk.

Neneng duduk di barisan belakang. Ia mendengarkan dengan tenang.

Seorang ibu yang duduk di sampingnya berbisik.

“Bagus ya, pidatonya.”

Neneng tersenyum.

“Iya, bagus.”

Acara itu berlangsung lama. Setelah itu semua orang makan bersama. Kamera ponsel menyala di mana-mana. Banyak yang berfoto.

Menjelang sore, rombongan itu pergi.

Balai warga kembali sepi.

Seorang ibu berjalan bersama Neneng menuju jalan kecil.

“Semoga kampung kita jadi lebih maju,” katanya.

Neneng mengangguk.

“Semoga.”

Ibu itu kemudian bertanya lagi.

“Neng, nanti sore anak-anak tetap belajar?”

“Tetap.”

“Bukunya masih ada?”

Neneng tersenyum kecil.

“Selama masih ada anak yang mau membaca, buku pasti ada.”

Sore hari halaman rumah Neneng kembali ramai.

Beberapa anak duduk melingkar di bawah pohon mangga. Ada yang membaca buku cerita, ada yang membuka buku pelajaran.

Seorang anak mengangkat tangan.

“Bu Neneng.”

“Iya?”

“Kalau kita rajin membaca, kita bisa jadi apa?”

Neneng tersenyum.

“Kamu bisa jadi apa saja.”

“Benarkah?”

“Benar. Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Harus terus belajar dan tidak mudah menyerah.”

Anak-anak itu mengangguk.

Di sudut halaman, beberapa ibu duduk sambil berbincang. Mereka juga belajar membuat kerajinan kecil.

Salah satu dari mereka berkata pelan.

“Dulu saya tidak pernah berpikir bisa menjual hasil kerajinan.”

Neneng menjawab tenang.

“Semua bisa dipelajari. Yang penting mau mencoba.”

Beberapa waktu kemudian sekelompok mahasiswa datang ke kampung itu. Mereka ingin melihat kegiatan yang dilakukan Neneng.

Seorang mahasiswa bertanya, “Ibu Neneng?”

“Iya.”

“Kami dengar ibu membuat gerakan literasi di kampung ini.”

Neneng tersenyum tipis.

“Gerakan besar sekali namanya.”

Mahasiswa itu tertawa.

“Tapi ini penting, Bu.”

Mereka duduk di kursi bambu di halaman.

Seorang mahasiswa berkata serius.

“Menurut kami perubahan sosial harus dimulai dari kesadaran kolektif masyarakat.”

Mahasiswa lain menambahkan, “Kami sedang mempelajari teori pemberdayaan masyarakat.”

Neneng mengangguk.

“Teori itu penting,” katanya.

Lalu ia menunjuk anak-anak yang sedang membaca.

“Tapi mereka juga penting.”

Mahasiswa itu mengikuti arah jarinya.

Neneng berkata pelan, “Kalau anak-anak ini bisa membaca, mereka punya kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.”

Seorang mahasiswa bertanya lagi.

“Ibu tidak pernah membuat seminar atau diskusi besar?”

Neneng tersenyum.

“Saya tidak pandai berbicara panjang.”

“Lalu kenapa ibu melakukan semua ini?”

Neneng menjawab sederhana.

“Karena kalau kita hanya berbicara, tidak ada yang berubah.”

Mahasiswa itu terdiam.

Waktu berjalan.

Perlahan-lahan banyak hal berubah di kampung itu.

Anak-anak mulai rajin membaca. Beberapa di antara mereka bahkan membantu adik-adiknya belajar.

Ibu-ibu mulai membuat kelompok usaha kecil.

Suatu sore seorang ibu datang dengan wajah cerah.

“Neng, saya sudah bisa membayar uang sekolah anak saya dari hasil jualan.”

Neneng tersenyum.

“Itu kabar baik.”

Ibu itu berkata dengan mata berbinar.

“Terima kasih sudah mengajarkan kami.”

Neneng menggeleng pelan.

“Kita belajar bersama.”

Suatu hari seorang wartawan datang membawa kamera.

“Ibu Neneng?”

“Iya.”

“Saya ingin menulis tentang kegiatan ibu.”

Neneng terlihat agak canggung.

“Apa yang ingin ditulis?”

“Gerakan sosial ibu.”

Neneng tertawa kecil.

“Saya tidak punya gerakan besar.”

“Tapi kegiatan ibu memberi inspirasi.”

Neneng menatap halaman rumahnya.

Anak-anak masih duduk membaca di bawah pohon mangga.

“Saya hanya melakukan hal kecil,” katanya.

Wartawan itu bertanya lagi.

“Menurut ibu, kenapa kegiatan seperti ini penting?”

Neneng berpikir sejenak.

“Karena kita hidup di zaman yang penuh kata-kata.”

“Maksudnya?”

“Banyak orang pandai berbicara tentang perubahan. Banyak yang membuat pidato panjang. Banyak yang berjanji.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi perubahan tidak datang dari kata-kata saja.”

“Lalu dari mana?”

Neneng menjawab tenang.

“Dari tindakan.”

Malam mulai gelap. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu.

Halaman rumah Neneng perlahan kembali sepi setelah anak-anak pulang.

Neneng duduk di kursi kayu.

Angin malam berhembus pelan.

Ia memandang tumpukan buku di meja kecil.

Ia tahu dunia sering dipenuhi orang yang pandai berbicara.

Pidato tentang kemiskinan.
Pidato tentang pemberdayaan.
Pidato tentang perubahan.

Namun sering kali semua itu berhenti pada kata-kata.

Neneng tidak pernah ingin menjadi tokoh besar. Ia tidak ingin berdiri di panggung. Ia tidak ingin menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Ia hanya ingin bekerja.

Melakukan hal kecil yang bisa membantu orang lain.

Dari halaman rumah yang sederhana itu, sebuah pelajaran pelan-pelan tumbuh.

Bahwa perubahan tidak selalu datang dari suara yang paling keras.

Kadang perubahan datang dari kerja yang dilakukan dengan sabar.

Dari tangan yang terus bekerja.

Dari hati yang tidak lelah peduli.

Di tengah budaya omon-omon yang ramai, Neneng memilih jalan yang berbeda.

Ia tidak banyak bicara.

Ia bekerja.

Dan dari kerja kecil itu, masa depan mulai tumbuh.