PEGAWAI RENDAHAN YANG KUREMEHKAN TERNYATA…. (11A)
Penulis: Estriana Tamsir
–
“Zaskia, mana laporan penjualan bulan ini? Kamu udah bikin ‘kan sesuai arahan saya?” tanya Pak Ramdani, kepala bagian di divisi pemasaran dengan setengah berbisik.
“Udah dong, Pak Dani,” jawab Zaskia dengan sikap centilnya.
“Langsung di print saja sepuluh. Saya dan Pak Radit mau berangkat rapat ke kantor pusat sekarang. Kalo udah kelar ngeprint, suruh aja si Naura antar ke kantor pusat!” perintah lelaki berusia 40 tahun yang masih melajang hingga sering mendapatkan julukan bujang lapuk.
“Baik, Pak. Bapak jangan lupa transfer ke rekening saya nominalnya sesuai perjanjian. Saya dapat bagian empat puluh persen ‘kan?” tanya Zaskia memastikan jatah bagiannya sesuai kesepakatan.
Zaskia dan Pak Ramdani bersekongkol melakukan kecurangan dengan memanipulasi data penjualan di lapangan demi keuntungan pribadi.
“Iya, bawel banget kamu! Awas saja rahasia kita sampai bocor,” bisik lelaki berpenampilan parlente itu.
“Sip.” Zaskia mengacungkan jempolnya.
Zaskia dan Pak Ramdani tidak menyadari bahwa Naura yang tengah membersihkan kaca jendela di sudut ruangan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan keduanya.
Naura mencium gelagat tidak beres. Ia curiga dua karyawan itu bersekongkol melakukan kecurangan. Pastinya merugikan perusahaan milik papanya.
Zaskia sambil memberikan setumpuk kertas kepada Naura. “Hei, Naura, antar ini ke kantor pusat! Kasihkan ke Pak Dani di ruang meeting. Paham!”
“Diantar sekarang, Mbak?” tanya Naura ragu. Pekerjaannya mengelap kaca jendela tanggung, tinggal sedikit lagi selesai.
“Nggak, tahun depan! Sekarang lah! Buruan antar. Pak Dani sudah nungguin itu. Pake nanya lagi.”
Wajah Naura seketika berubah merah. Ia sungguh geram dengan keangkuhan Zaskia. Ingin rasanya ia memberi pelajaran kepada gadis sombong itu.
“Be go kok dipiara,” gumam Zaskia saat Naura sudah berbalik badan.
Telapak tangan Naura mengepal saat mendengar um patan Zaskia. Meski marah, ia masih berusaha menahan diri. Belum waktunya untuk membongkar penyamarannya.
Naura masih harus menyelesaikan misinya, memastikan perasaan Raditya terhadapnya terlebih dulu. Setelah membuka penyamarannya, Naura pastinya akan membalas semua perlakuan kasar Zaskia.
Gadis berpenampilan cupu itu bergegas menuju ke kantor pusat yang berjarak tidak begitu jauh dari kantor pemasaran. Untuk menghindari pajak, papanya sengaja membangun beberapa kantor secara terpisah.
Setelah memarkirkan sepeda motor bututnya, Naura melangkah mantap ke sebuah ruangan bertuliskan “Meeting Room”. Untung sekuriti yang berjaga di pos tidak mengenali siapa dirinya. Kacamata lebar dan penampilan cupunya cukup sukses membuatnya tampak seperti gadis culun. Sesampainya di depan pintu ruangan rapat yang tertutup, Naura mengetuk pintu.
“Masuk!” Sebuah suara bariton bernada berat menyuruhnya masuk.
Setelah dipersilakan masuk, Naura dengan percaya diri melangkah menuju meja panjang berbentuk persegi panjang yang bisa memuat hingga puluhan orang. Semua kursi sudah penuh terisi. Hanya tinggal satu kursi yang tersisa. Kursi kehormatan untuk CEO.
“Naura … sini laporannya!” panggil Pak Ramdani seraya melambaikan tangan. Raditya yang duduk di sebelahnya sempat melirik Naura sekilas.
“Ini, Pak.” Naura melangkah mendekati pria yang kepala bagian depannya sedikit botak itu lalu memberikan tumpukan kertas di tangannya.
Pak Ramdani menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu memang sombong. Kelakuannya mirip Zaskia yang sok bossy. Hanya mengucapkan terima kasih saja rasanya terlalu berat untuk dilakukannya.
Naura membalikkan badannya, melangkah menuju pintu keluar dengan perasaan dongkol karena merasa usahanya tidak dihargai. Rasanya ia ingin memecat Pak Ramdani andai dia jadi CEO.
Di saat yang bersamaan seorang pria paruh baya juga melangkah memasuki ruang meeting. Hampir saja keduanya bertabrakan di depan pintu.
“Papa,” seru Naura hanya dalam hati. Gadis itu hanya membungkukkan badan tanda hormat dan melemparkan senyum.
Pak Hutama menahan senyum melihat penampilan putrinya yang tampak cu pu dan kam pungan. Tidak ada yang akan mengira bahwa gadis cu lun yang berada dihadapannya adalah putri kandungnya.
Setiap hari Pak Hutama memang bekerja di kantor pusat. Baru kali ini keduanya bertemu di kantor dan berpura-pura tidak saling mengenal satu sama lain.
Judul: PENYAMARAN ANAK BOS
SUDAH TAMAT DI KBMAPP