(Tuan Rondahaim Saragih dari Simalungun sebagai Pahlawan Nasional 2025)
Laporan Chris Poerba
–
JAKARTA, 10 November 2025 — Puji syukur, perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Garingging akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia Tahun 2025. Sosok Raja dari Pematang Raya XIV di Partuanan Raya, bergelar Raja Raya Namabajan (1828–1891) ini menjadi putra pertama dari Simalungun, dahulu dikenal sebagai Sumatera Timur—yang menerima penghormatan tertinggi negara atas jasa kepahlawanannya.
Kabar bahagia ini disampaikan oleh Chris Poerba melalui akun Facebook pribadinya, Chris Poerba , pada Senin (10/11/2025). Dalam unggahannya, ia menulis:
“Puji syukur, perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Garingging telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia (2025). Ini adalah sosok pertama dari Simalungun, dulunya disebut sebagai Sumatera Timur, yang mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional. Setelah proses pencalonannya berlangsung sejak kurun waktu lebih 20 tahun silam.”
Dalam narasi yang sama, Chris Poerba mengisahkan bahwa Tuan Rondahaim adalah Raja Raya Namabajan, pemimpin di Pematang Raya XIV, yang dijuluki oleh pihak kolonial sebagai “Napoleon der Bataks.” Ia adalah sosok yang tidak pernah tunduk kepada penjajahan Belanda, dan wafat di rumah bolon, istana kerajaannya sendiri, sebuah simbol bahwa ia menutup hidupnya dalam kedaulatan dan kehormatan.
Chris Poerba juga menyinggung pentingnya karya Pdt. Djaulung Wismar Saragih Sumbayak (1888–1968), seorang pendeta, misionaris pribumi, pendidik, dan penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Simalungun. Wismar menulis naskah monumental dalam bahasa Simalungun berjudul “Barita ni Tuan Rondahaim, na ginoran ni halak Tuan Raya Na Mabajan”, yang menjadi rujukan utama dalam pencalonan Rondahaim sebagai Pahlawan Nasional. Sayangnya, hingga akhir hayatnya, naskah itu belum sempat diterbitkan.
“Upaya penerbitan dalam bahasa Indonesia telah dilakukan sebanyak dua kali, tahun 1993 dan 2024, dengan judul ‘Rondahaim: Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun’,” tulis Chris Poerba dalam unggahannya.
Ia juga mengenang Pdt. Wismar sebagai “Luther dari Simalungun” pendeta pertama dan pendiri sekolah perempuan pertama di Simalungun pada tahun 1915, penyusun kamus “Partingkian ni hata Simaloengoen: Simaloengoen Bataks verklarend woordenboek”, dan penerjemah Alkitab pertama dari nusantara yang bekerja secara mandiri.
Dalam Museum Alkitab Indonesia milik Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Salemba, Jakarta, wajah Pdt. Wismar terpampang dalam poster “Sejarah Penerjemahan Alkitab di Indonesia.” Ia dikenang sebagai tokoh yang memperjuangkan iman, bahasa, dan pendidikan di tanah kelahirannya.
Lebih jauh, Chris juga menulis bahwa Djalam Saragih, ayah dari Pdt. Wismar, adalah pembuat sarung senjata (holster) bagi kerajaan Raya, termasuk untuk Tuan Rondahaim dan keturunannya. Senjata-senjata inilah yang turut digunakan dalam perlawanan terhadap penjajahan, memperlihatkan eratnya hubungan antara rakyat dan raja dalam mempertahankan kehormatan tanah Simalungun.
Unggahan Chris Poerba diakhiri dengan kalimat penuh makna:
“Selamat atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Semoga menjadi berkat.”
Unggahan tersebut kini ramai dibagikan oleh masyarakat Simalungun dan pegiat sejarah yang menganggap penganugerahan ini sebagai momen bersejarah bagi Sumatera Timur, pengakuan atas perjuangan, martabat, dan identitas yang selama ini hidup dalam ingatan rakyatnya.