Opini Publik
Oleh: Tb Mhd Arief Hendrawan
–
Nangroe Aceh Darussalam, Suaraanaknegerinews.com, – Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tampaknya bersitegang buntut keputusan Kementerian Dalam Negeri atau Kemendagri memindahkan status Pulau Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek menjadi milik Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut. Keempat pulau itu secara administrasi sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Aceh.
Menanggapi keruhnya suasana, Gubernur Sumut Bobby Nasution pun berinisiatif mengajak Pemerintah Provinsi atau Pemprov Aceh untuk bekerja sama mengelola keempat pulau tersebut. Politikus Partai Gerindra itu bahkan menyambangi Tanah Rencong, julukan Aceh, guna menemui Gubernur Aceh Muzakir Manaf, untuk membahas Keputusan Kementerian Dalam Negeri (KKDN) yang tertunda kesepakatannya 10/06/2025 lalu.
“Kita ingin sama-sama potensinya dikolaborasikan. Artinya kalaupun ada sumber daya alam, ada potensi pariwisata, semuanya kita harapkan bisa dikelola bersama-sama,” kata Bobby di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu, 3 Desember 2025.
Namun, kunjungan menantu Jokowi itu tidak lagi mendapat sambutan hangat. Muzakir Manaf langsung meninggalkan Bobby dalam sebuah pertemuan. Mualem, sapaan Muzakir mengatakan tak ingin berpanjang-lebar bicara dengan Bobby. Ia meminta Gubernur Sumut itu bicara dengan para stafnya.
“Silakan nanti anda bicara dengan bapak-bapak ini,” kata Ketua Umum Partai Aceh menunjuk ke arah para stafnya.
Pada kesempatan lain pada Jurnalis SANN.com Muzakir Manaf menjelaskan bahwa saat itu ia tak berkenan mengikuti kunjungan Gubernur Sumut itu sampai akhir, karena menolak KKDN dan harus menghadiri acara di Meulaboh, sehingga meninggalkan lokasi saat itu.
Ia menjelaskan, empat pulau itu merupakan kewenangan Aceh dari segi geografis, perbatasan. Karena itu, dia meminta kewenangan Aceh atas 4 pulau itu tidak perlu diperdebatkan.
“Itu memang hak Aceh, jadi saya rasa itu betul-betul Aceh dari segi apa saja, dari segi geografi perbatasan, sejarah iklim. Jadi tidak perlu kita bahas lagi. Itu alasan yang kuat, bukti yang kuat seperti itu,” kata Muzakir.
Berikut rekam jejak dua kubu kepala daerah itu, Muzakir Manaf dan Bobby Nasution.
🔹Profil Muzakir Manaf
Muzakir Manaf atau yang dikenal sebagai Mualem merupakan seorang politikus kelahiran Aceh Timur, 3 April 1964, sebagaimana dilansir dari dokumen Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sosok yang pernah menjadi Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu kini menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2025-2030 bersama Wakil Gubernur Fadhlullah.
Rekam jejak Muzakir antara lain tercatat pernah menjadi Ketua Komite Peralihan Aceh pada 2005. Kemudian pada 2007, Muzakir dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Aceh dan menjabat hingga saat ini. Ia juga pernah ditunjuk sebagai Ketua Umum Pramuka Aceh pada 2013 dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh pada 2015.
Pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Aceh 2012, Muzakir mencalonkan diri sebagai wakil gubernur mendampingi Zaini Abdullah. Pasangan ini berhasil memenangkan pemilihan dan resmi dilantik pada 4 Juni 2012. Lima tahun berselang, ia kembali maju sebagai calon gubernur dalam Pilgub Aceh 2017. Saat itu dia berpasangan dengan T.A. Khalid. Namun, mereka kalah dari pasangan Irwandi Yusuf.
Dalam Pilkada 2024, tiga partai besar yakni Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengusung Muzakir sebagai calon gubernur Aceh. Ia memilih Ketua Partai Gerindra Aceh sekaligus anggota DPR RI, Fadhlullah, sebagai pendamping. Muzakir pun terpilih sebagai Gubernur Aceh untuk periode 2025–2030.
🔹Profile Bobby Nasution
Pemilik nama lengkap Muhammad Bobby Afif Nasution ini lahir di Medan,5 Juli 1991. Bobby merupakan lulusan Sarjana (S1) dan Magister (S2) jurusan Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia adalah anak dari mantan Direktur Utama (Dirut) PT Perkebunan Nusantara (Persero) IV Erwin Nasution dan Ade Hanifah Siregar.
Bobby mengawali kariernya dengan berbisnis di bidang properti pada 2011. Ia membeli dan merenovasi sejumlah rumah bekas, lalu menjualnya kembali.
Perkembangan usaha propertinya semakin masif hingga terlibat dalam beberapa proyek besar, salah satunya di Malioboro City, Yogyakarta.
Pada Februari 2016, Bobby bergabung dengan perusahaan real estat bernama Grup Takke. Ia ditunjuk sebagai direktur pemasaran dan juga memegang sekitar 20 persen saham Takke Group. Tak hanya itu, Bobby pernah menjadi manajer klub sepak bola Medan Jaya selama 2014. Kemudian ia menikahi putri Jokowi, Kahiyang Ayu, pada 2017.
Sedangkan kiprahnya di dunia politik dimulai saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan. Saat itu, dia didukung oleh koalisi delapan partai politik (parpol); PDIP, Gerindra, PAN, NasDem, Golkar, PSI, PPP, dan Hanura. Dia pun terpilih menjadi Wali Kota Medan (2021-2024).
Pada Pilkada 2024, Bobby maju sebagai calon gubernur Sumut berpasangan dengan Surya melawan calon petahana Edy Rahmayadi. Pilkada yang dimenangkan Bobby sempat digugat ke Mahkamah Konstitusi atau MK. Namun, MK akhirnya menolak gugatan kubu Edy sehingga dengan demikian Bobby menjadi Gubernur Sumut.
Sebagai informasi, pemerintah melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri atau Kepmendagri No. 300.2.2-2138/2025 yang terbit pada 25 April 2025 menetapkan keempat pulau tersebut sebagai milik Sumut.
Mendagri Tito Karnavian menjelaskan bahwa batas darat antara Aceh Singkil dan Tapanuli Tengah sudah diteliti oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), TNI Angkatan Laut, dan Topografi Angkatan Darat.
“Berdasarkan penelitian, pemerintah pusat memutuskan bahwa empat pulau tersebut berada dalam wilayah Sumut. Keputusan ini semula sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak, tapi belakangan Muzakir menolak,” katanya.