April 14, 2026

Romo Benediktus: “Kami Hadir untuk yang Kecil, Lemah, dan Tersingkir”

Oleh : Joko

http://suaraanaknegerinews.com | Wawancara eksklusif kunjungan rohani ALMA ke Bhakti Luhur | Saumlaki, 18 Mei 2025 – Dalam balutan kesederhanaan dan semangat pelayanan yang tulus, sebuah kunjungan rohani yang sarat makna berlangsung di Yayasan dan Panti Asuhan Bhakti Luhur, Jalan Soekarno, Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian visitasi Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) yang dipimpin langsung oleh Sr. Cisilia Suratmi bersama para suster dewan ALMA, serta didampingi oleh Pembimbing Rohani ALMA, Romo Benediktus Adi Sapto Widodo.

0-2976×3968-0-0#

Dalam wawancara eksklusif bersama Suara Anak Negeri, Romo Benediktus membuka kisah panjang panggilan dan perjalanannya dalam pelayanan Gereja.

Lahir di Lampung pada Februari 1964, Romo Benediktus telah menapaki berbagai medan misi, dari Garut hingga Sintang, Kalimantan Barat, bahkan sempat menimba ilmu di Belanda selama tiga tahun.

Namun sejak 2007, ia kembali ke Indonesia dan menetap di Malang, menjalankan tugas pembinaan calon imam di Seminari Tinggi serta sebagai pembina rohani ALMA sejak 2013.

“Sebagai pembina ALMA, saya terlibat dalam banyak aspek: pembinaan, rapat, kunjungan, termasuk visitasi seperti ke Tual dan Saumlaki ini. Tujuan utama kami adalah meneguhkan dan mengarahkan para ALMA agar terus setia pada kharisma pendiri, Romo Paul Hendrikus Yansen, CM,” tuturnya.

Visitasi ke Bhakti Luhur menjadi ruang perjumpaan yang mendalam antara para penggerak karya ALMA, masyarakat, serta para pemerhati seperti anggota PERKASIH.

Kegiatan ini bukan hanya tentang inspeksi, melainkan menjadi momentum untuk menyemangati dan menyelaraskan arah perutusan dalam situasi nyata.

“Yang kami lakukan mungkin kecil, mengunjungi anak difabel, berbincang dengan pengurus panti, berdialog dengan pemerintah setempat, namun ini menjadi nyata bahwa Injil sungguh diwartakan melalui tindakan kasih,” lanjut Romo.

Ia menyebutkan keterlibatan tokoh-tokoh lokal, termasuk seorang dokter dan Wakil Bupati, yang turut menyapa dan mendukung karya ALMA di Tanimbar.

Bahkan, berkat bantuan dari Bapak Everd Fasse, Ketua PERKASIH, lahan baru berhasil diperluas untuk rencana pemindahan Wisma Panti Asuhan dari tanah keuskupan ke lokasi saat ini.

“Kami sadar bahwa ini pekerjaan besar. Tapi berkat dukungan dari berbagai pihak, seperti PERKASIH, pemerintah, dan masyarakat, tantangan menjadi peluang. Kami tidak bekerja sendiri. Ini adalah karya Allah yang harus terus melibatkan Allah dalam setiap prosesnya,” tegasnya.

Spirit pelayanan ALMA memang berbeda, mereka bukan hanya hadir di tengah masyarakat, tetapi tinggal bersama mereka yang dilayani, anak-anak kecil, difabel, yang kerap tersisih bahkan oleh keluarganya sendiri, mereka tinggal satu atap, satu meja makan, satu hati dan semangat.

“Pendiri ALMA menginginkan agar setiap anggota hidup sehati, sejiwa. Mereka bukan sekadar pekerja sosial, tapi pewarta Injil lewat kehidupan bersama. Bayi difabel diajar makan sendiri, mandi sendiri, berdiri sendiri. Itu bukan hal kecil, itu tanda mereka dimanusiakan,” ungkap Romo dengan mata berkaca-kaca.
Dalam pandangan Romo Benediktus,

kehadiran ALMA bukan hanya menjawab kebutuhan rohani dan sosial, tetapi juga menjadi oase kemanusiaan di tengah dunia yang kian pragmatis.

Visi besar ALMA, melayani yang miskin, kecil, dan tersingkir terus dihidupi, bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam langkah nyata dan pelayanan sepenuh hati.

“Ini bukan hanya tugas kami, ini tugas semua orang yang punya hati. Pemerintah, gereja, masyarakat, kami ingin melibatkan semua. Karena yang kami layani adalah saudara kita, ciptaan Allah yang sama-sama punya hak untuk hidup dan bahagia,” pungkasnya.

Lebih jauh, Romo Benediktus menegaskan bahwa seluruh karya dan pelayanan ALMA berakar pada spiritualitas dan panggilan rohani sebab tanpa dasar itu, katanya, misi mereka hanya akan menjadi kegiatan sosial biasa.

“Pendiri kami tidak ingin kami hanya menjadi pekerja sosial. ALMA hadir untuk membentuk pribadi-pribadi yang mandiri, bahkan dari kelompok paling rentan seperti bayi difabel,” ujarnya.

Menurut Romo, hal-hal sederhana yang kerap dianggap remeh oleh orang normal, justru menjadi perjuangan besar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di sinilah, menurutnya, pelayanan ALMA menemukan makna terdalamnya.

“Setelah menjalani proses terapi dan pendampingan di sini, mereka akan kembali ke keluarga atau masyarakat, membawa bekal kemandirian dan rasa percaya diri bahwa mereka juga manusia yang punya hak hidup, hak untuk bekerja, dan dihargai,” ucapnya dengan nada penuh harapan.

0-2976×3968-0-0#

Meskipun tidak mudah, ALMA terus berupaya keras, terutama bagi anak-anak yang masih dalam usia dini.

“Anak-anak masih bisa dilatih, diterapi, dibimbing secara bertahap. Kami menerima dari usia bayi sampai 18 tahun. Untuk yang dewasa, tentu lebih sulit. Tapi untuk yang muda, harapan itu masih besar,” tuturnya.

Sambung Romo mengakhiri, inilah bentuk pelayanan yang sejati, menjangkau yang paling lemah, membangkitkan harapan dari mereka yang kerap dilupakan, memanusiakan kembali mereka yang selama ini tersisih, dan semua itu dilakukan bukan karena sekadar kewajiban sosial, melainkan karena dorongan iman dan cinta kasih.