Salah Alat, Hancur Hajat: Rasionalitas Kekuasaan dan Krisis Kemanusiaan Modern
Oleh: Paulus Laratmase
–
Rasionalitas Tanpa Jiwa: Negara sebagai Mesin Administratif
Dalam sejarah modern, kekuasaan tidak lagi hadir terutama sebagai kekerasan telanjang, melainkan sebagai sistem yang terorganisir secara rasional. Seperti telah dianalisis oleh Max Weber, birokrasi modern dibangun atas prinsip efisiensi, hierarki, aturan formal, dan impersonalitas. Ia menjanjikan keteraturan. Namun dalam keteraturannya itulah kemanusiaan sering terkubur.
Negara berubah menjadi mesin administrasi raksasa.
Rakyat menjadi berkas.
Nasib menjadi data.
Masalah sosial direduksi menjadi indikator kinerja.
Penderitaan dipadatkan menjadi grafik.
Keadilan disederhanakan menjadi kepatuhan prosedural.
Apa yang tidak terukur dianggap tidak penting.
Air mata tidak masuk laporan.
Jeritan tidak tercatat anggaran.
Di sinilah tragedi modern bermula:
rasionalitas mengalahkan empati.
Birokrasi yang awalnya diciptakan untuk melayani manusia
perlahan mengubah manusia agar cocok dengan sistemnya.
Manusia menyesuaikan diri dengan formulir,
bukan sistem menyesuaikan diri dengan kehidupan.
Kemanusiaan lalu dipandang sebagai gangguan efisiensi.
—
Bahasa Kekuasaan: Ketika Kejahatan Disulap Menjadi Kebijakan
Kekuasaan modern tidak hanya bekerja lewat hukum,
tetapi lewat bahasa.
Sebagaimana diuraikan oleh Michel Foucault, diskursus menentukan apa yang dianggap normal, sah, dan masuk akal. Melalui bahasa administratif, kekuasaan memproduksi realitasnya sendiri.
Korupsi menjadi “inefisiensi struktural”.
Penggusuran menjadi “revitalisasi kota”.
Represi menjadi “stabilisasi keamanan”.
Pemiskinan menjadi “penyesuaian ekonomi”.
Bahasa tidak lagi menggambarkan kenyataan
ia menutupinya.
Dengan jargon teknokratik, tragedi manusia disamarkan.
Dengan istilah profesional, kekerasan dilegalkan.
Inilah estetika birokrasi modern:
kejahatan yang terdengar ilmiah.
Negara lalu tampak bekerja,
sementara rakyat perlahan dihancurkan dengan sopan.
—
Kapitalisme Politik: Ketika Negara Menjadi Alat Akumulasi
Di balik rasionalitas kebijakan, beroperasi logika yang lebih tua:
akumulasi kekayaan dan konsentrasi kekuasaan.
Sebagaimana telah lama dikritik oleh Karl Marx, sistem ekonomi yang berorientasi keuntungan cenderung menjadikan manusia sebagai alat produksi, bukan tujuan kehidupan.
Dalam bentuk modernnya, kapitalisme tidak hanya menguasai pasar
ia menembus negara.
Kebijakan disusun untuk investor,
bukan untuk warga.
Undang-undang disesuaikan dengan modal,
bukan dengan keadilan sosial.
Birokrasi menjadi pelumas kepentingan elite.
Proyek pembangunan menggusur yang miskin
demi pertumbuhan statistik.
Kemajuan diukur dari beton,
bukan dari kesejahteraan manusia.
Negara lalu tidak lagi menjadi pelindung,
melainkan manajer kepentingan oligarki.
Dan penderitaan rakyat disebut sebagai “biaya transisi”.
—
Stabilitas sebagai Mitos Politik
Dalam hampir semua rezim modern,
ketidakadilan dibenarkan atas nama stabilitas.
Kritik dianggap ancaman.
Perlawanan disebut gangguan keamanan.
Ketimpangan diterima demi pertumbuhan.
Padahal stabilitas yang dibangun di atas ketidakadilan
bukanlah kedamaian
ia adalah tekanan yang menunggu meledak.
Sejarah global membuktikan:
revolusi lahir bukan dari kekacauan,
melainkan dari ketertiban yang menindas terlalu lama.
Stabilitas birokratis sering kali hanyalah
ketenangan kuburan sosial.
—
Peradaban Global: Pola yang Berulang
Dari kota-kota megapolitan hingga negara berkembang,
pola ini berulang:
manusia menjadi angka statistik
kebijakan mengabaikan realitas hidup
pertumbuhan mengorbankan kemanusiaan
negara berpihak pada modal
Di mana-mana, rakyat diminta sabar.
Di mana-mana, elite memanen hasil.
Modernitas menjanjikan kemajuan,
tetapi sering melahirkan keterasingan massal.
Kita hidup di dunia yang semakin efisien,
namun semakin kejam.
Semakin terorganisir,
namun semakin tidak adil.
—
Salah Alat, Hancur Hajat: Inti Tragedi Modern
Kita ingin kesejahteraan
namun memakai logika pasar rakus.
Kita ingin keadilan
namun memakai hukum yang tunduk pada kekuasaan.
Kita ingin perdamaian
namun membiarkan kekerasan struktural.
Kita ingin kemanusiaan
namun membangun sistem yang membunuh empati.
Inilah kesalahan fatal peradaban modern:
menyelesaikan masalah manusia
dengan alat yang tidak manusiawi.
Negara dijalankan seperti mesin.
Rakyat diperlakukan seperti komponen.
Ketika mesin rusak,
yang dikorbankan selalu manusia.
—
Menuju Politik yang Berjiwa
Esai ini bukan menolak rasionalitas.
Ia menolak rasionalitas tanpa nurani.
Bukan menolak sistem,
melainkan sistem yang menelan kemanusiaan.
Peradaban yang sehat membutuhkan:
kebijakan yang berpikir dan merasakan
hukum yang tegas dan adil
negara yang mengatur dan melindungi
Tanpa empati, efisiensi berubah menjadi kekejaman.
Tanpa keadilan, stabilitas berubah menjadi penindasan.
Tanpa kemanusiaan, kemajuan berubah menjadi kehancuran.
—
Peradaban yang Salah Alat
Selama kita terus mengukur hidup dengan angka semata,
selama kita menutupi luka dengan jargon,
selama kita membangun kemajuan di atas penderitaan,
kita akan terus:
mencukur peradaban dengan alat yang salah.
Dan setiap generasi
hanya akan mewarisi laporan pembangunan
tanpa pernah mewarisi keadilan.
—
Biak – Papua, 2026.