April 5, 2026

bambang oeban

Di tepian pantai Laut
bagian selatan tanah Jawa akulah lelaki dengan rambut dikibas angin senja, mata tajam memandang ke batas biru laut tempat rahasia purba disembunyikan gelombang yang tak pernah lelah,
mencium bibir ke hamparan pasir putih.

Kudaku—betina hitam,
berbulu kilap basah embun,
matanya berkilau bagai batu giok, menyimpan sumpah dan dendam,
dari leluhur yang pernah
menantang badai.

Aku berdiri di tepian pantai Laut Selatan tanah Jawa, ombak menerjang, membawa bisik-bisik Nyai yang abadi, menguji nyali, menggoda nyawa, Kuku besi kuda menghentak
tanah basah.

Setiap dentum
seperti genderang perang memanggil arwah para pejuang
yang gugur di medan ombak, mereka berbaris di cakrawala, membentuk kabut yang menari dengan cahaya
redup senja.

Aku lelaki yang tak berjanji pada siapa pun, selain pada laut
pada ombak,
pada kuda betina hitamku yang akan membawaku menembus malam menuju rahim gelap samudra, tempat takdirku menunggu dengan mata yang tak berkedip.

Parang Teritis Yogya
1 Agustus 2025