Asal Bukan Katolik: Paradoks Benci Tapi Rindu
Oleh P Jack Dambe Cjd
–
Dalam perjalanan panjang sejarah kekristenan, Gereja Katolik sering kali menjadi saksi diam bagaimana identitas saudara-saudara terpisah terbentuk. Di kalangan tradisi Reformasi, terkadang identitas itu terbangun di atas sebuah premis sederhana namun mendalam: “Berbeda dari Roma.” Semangat untuk membedakan diri ini begitu kuat, sehingga tak jarang standar kebenaran bagi Protestantisme diukur bukan dari esensinya, melainkan dari seberapa jauh hal itu berbeda dari tradisi Katolik. Inilah yang mungkin bisa disebut sebagai fenomena halus “Asal Bukan Katolik”.
Namun, jika diamati dengan hati yang jujur, terdapat sebuah ironi yang sangat manis, namun juga menohok dalam dinamika gereja-gereja Protestan masa kini. Ada ketidaksinkronan antara apa yang sering disuarakan di mimbar mereka dengan apa yang kini mulai dipraktikkan dalam ibadah mereka.
Mari kita lihat fenomena Natal. Setiap tahun, selalu ada narasi teologis yang dibangun oleh sebagian kalangan Protestan untuk menyangkal tanggal 25 Desember. Berbagai argumen sejarah dan ilmu pengetahuan dikerahkan untuk membuktikan bahwa tanggal tersebut tidak akurat atau bahkan berakar dari tradisi non-Kristen.
Namun, di saat yang bersamaan, kerinduan untuk merayakan kelahiran Sang Juruselamat tak bisa dibendung. Gereja-gereja yang menolak tanggal penetapan Katolik tersebut, justru merayakannya dengan sukacita yang meluap-luap. Ada ketegangan antara “logika penolakan” dan “kebutuhan batin” umat Protestan untuk merayakan momen sakral tersebut. Mereka menolak kalendernya karena itu produk tradisi Katolik, namun tidak bisa hidup tanpa perayaannya.
Lebih menarik lagi adalah fenomena “kepulangan liturgis” yang sedang terjadi secara diam-diam di banyak gereja Protestan. Dulu, semangat reformasi berusaha menanggalkan segala atribut yang dianggap memberatkan, menuju ibadah yang sederhana. Namun, perhatikanlah wajah gereja-gereja Protestan hari ini. Tampak ada kerinduan mendalam akan keagungan, keindahan, dan tata cara yang khidmat, sesuatu yang selama ribuan tahun dijaga dengan setia oleh Gereja Katolik.
Kini, kita melihat para pendeta Protestan yang mulai mengenakan kasula dan stola berwarna liturgis, menggantikan jas formal biasa. Kita melihat gereja-gereja mereka yang mulai khusyuk merayakan Rabu Abu dengan pengolesan abu di dahi, sebuah ritual yang dulu mereka anggap asing. Kita melihat perjamuan kudus mereka yang kembali menggunakan piala dan roti tak beragi, serta penghormatan pada perayaan Kamis Putih, Jumat Agung yang semakin syahdu. Salib-salib yang dulu polos, kini di banyak tempat mulai menampilkan visualisasi penderitaan Kristus agar iman lebih terasa hidup. Narasi tentang larangan membuat patung sudah gugur dengan sendirinya.
Apa makna di balik semua ini?
Secara tersirat, fenomena ini adalah sebuah pengakuan tulus dari tubuh Protestantisme. Saudara-saudara kita seolah sedang menyadari bahwa tradisi yang selama ini dijaga oleh Gereja Katolik bukanlah sekadar ritual kosong, melainkan sebuah kekayaan yang memuaskan dahaga jiwa. Jiwa manusia ternyata membutuhkan simbol, membutuhkan keindahan, dan membutuhkan ritme liturgi yang tertata, yang mungkin sempat hilang dalam semangat penyederhanaan masa lalu dan sentimen: asal bukan Katolik. Tanpa sadar, Protestantisme sedang “membenarkan” praktik Katolik dengan cara menirunya.
Ini adalah sebuah ironi yang indah sekaligus menyentuh bagi kita umat Katolik. Mereka memegang Alkitab yang sama, yang dikanonisasi oleh Gereja Katolik. Mereka mengimani Trinitas yang dirumuskan dalam konsili Gereja Katolik. Dan kini, mereka pun mulai beribadah dengan cara yang semakin mirip dengan Gereja Katolik. Mereka mengambil “buah-buah” rohani yang matang dari pohon Tradisi ini, mulai dari Kitab Suci, doktrin dasar, hingga liturgi, namun di sisi lain, mimbar-mimbar mereka masih sering melemparkan kerikil kritik kepada “Pohon” (Gereja Katolik) yang menghasilkan buah yang mereka nikmati.
Mungkin, ini adalah saat yang tepat bagi saudara-saudara Protestan untuk merenung. Jika warisan iman ini begitu dicintai, jika tata cara ibadahnya begitu dinikmati karena keagungannya dan jika Kitab Sucinya dipegang teguh, bukankah itu tandanya ada pengakuan tersirat bahwa di dalam Gereja Katolik tersimpan kebenaran yang tak terbantahkan? Mengadopsi warisannya sambil terus mencaci pemiliknya adalah sebuah paradoks. Sesungguhnya, bagi mata iman Katolik, meniru diam-diam adalah bentuk pengakuan dan kekaguman yang paling jujur.
Ut Omnes Unum Sint