Buah dari Dedikasi Tiada Henti : Tiga Guru MAN Sawahlunto Terima Piagam Penghargaan Satyalancana Karya Satya
SAWAHLUNTO, 17 Agustus 2025 Di tengah gemuruh semangat kemerdekaan yang menggema dari lembah hingga puncak bukit kota tambang tua ini, tiga sosok pendidik MAN Kota Sawahlunto berdiri tegak dengan mata berbinar di antara penerima piagam lainnya. Mereka bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh politik, tetapi guru cahaya yang setiap harinya menyalakan pelita di tengah gelapnya ketidaktahuan.
Dia adalah Oky Loly Weny Guru Qur’an Hadist (20 tahun), Erawati Guru Bahasa Inggris (20 tahun), Femita Maya Dona Guru PKn (10 tahun), tiga guru dari MAN Kota Sawahlunto yang menerima Piagam Penghargaan Satyalancana Karya Satya sebuah penghargaan kenegaraan yang dianugerahkan kepada Aparatur Sipil Negara atas pengabdian tanpa cela selama puluhan tahun lamanya.
Penghargaan tersebut diserahkan secara lansung pada Upacara Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia yang berlangsung khidmat di halaman MTs N 1 Kota Sawahlunto. Langit biru dan kibaran Merah Putih menjadi saksi bisu saat piagam itu di berikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto H. Dedi Wandra selaku Pembina Upacara, ketiganya dalam balutan batik dan senyum yang ditahan, antara haru dan bangga.
Pengabdian mereka masing-masing telah melewati rentang 10 dan 20 tahun. Dalam perjalanan panjang itu, mereka telah menyaksikan generasi demi generasi tumbuh, jatuh, bangkit, dan terbang dari ruang kelas kecil di tengah kota tambang ini, menuju cakrawala dunia yang lebih luas.
Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro mengungkapkan rasa bangga yang mendalam. “Mereka adalah wajah dari dedikasi yang tak lekang oleh waktu. Kami berhutang kepada mereka, bukan hanya karena lamanya pengabdian, tapi karena ketulusan yang menyertai setiap langkah mereka.”
Satyalancana Karya Satya bukan sekadar piagam atau medali. Ia adalah simbol dari ketekunan yang senyap, dari keringat yang jatuh tanpa pernah dihitung, dari luka yang dijahit sendiri tanpa mengeluh. Dan ketiganya telah membuktikan bahwa menjadi guru bukanlah pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.
Di tengah dunia yang terus berubah, di mana teknologi dan algoritma mengambil tempat di setiap sisi kehidupan, sosok guru tetaplah penanda arah. Mereka tak selalu disorot kamera, tak selalu trending di media sosial. Tapi bagi anak-anak bangsa, mereka adalah bintang yang tak pernah padam.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : DTB