April 3, 2026
busuk hati

Oleh Anto Narasoma

MESKI sudah berumur lanjut, ternyata masih ada di antara kita yang memiliki kebusukan hati, yang selalu dengki, benci, dan menjelek-jelekkan sahabatnya.

Padahal sahabatnya itu sudah menganggap dirinya sebagai “saudara” di dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap ini selalu ia perlihatkan melalui kontek sosial maupun lewat berbagai tulisannya di media sosial.

Ah, begitu teganya ia merusak nilai-nilai sosial yang sudah terjalin selama ini.

Padahal, sebagai seorang yang memiliki kepercayaan lewat kesucian agamanya, ia begitu rajin ke masjid dan tahu jika menggunjing dan menjelek-jelekkan seseorang itu sangat berdosa.

Tapi ia selalu masa bodoh terhadap jerat hukum sosial agamanya yang menyatakan sikap itu sangat hina dan tidak akan masuk surga ketika ia sudah berpulang menghadap Ilahi.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga bagi orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi, dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kedengkian sebesar biji sawi.” ( HR Muslim).

Sesuai kaidah Islam, dalam dunia makrifat, secara psikologi —memelihara sikap iri, dengki, dan busuk hati sangat berbahaya.

Sebab, menurut Habib Umar bin Hafidz —tokoh sufi dan pendidik yang dihormati secara global dari Dar al-Mustafa Yaman, mengatakan bahwa orang yang busuk hati (iri, dengki, dan khianat), memiki jiwa dan dikotori penyakit mental yang merusak, baik bagi dirinya sendiri maupun untuk sahabat yang ada di sekitar kehidupannya.

Dia merasa seolah dirinya merupakan orang yang paling benar karena ia tidak pernah melihat ke dirinya sendiri sebagai manusia dhoif.

Berdasarkan pandangan psikologis dan nilai-nilai moral agama, jiwa mereka tidak akan tenang melihat kebahagiaan orang lain.

Dia akan selalu mengutarakan kata-kata yang memojokkan orang lain karena kedengkian yang tak ia sadari bahwa dirinya telah memelihara kedengkian dan kebusukan hati.

Ia “lupa” dengan kebaikan orang yang telah berbagi kebahagiaan melalui berbagai konteks sosial dan ilmu yang diberikan sahabatnya, sehingga ia merasa menjadi “orang paling benar” yang menjadi pembicaraan orang banyak.

Penyair Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki kebusukan hati selalu merasa “sakit hati” melihat kebesaran nama orang lain. Bahka ia selalu menjelek-jelekkan kekurangan orang lain.

Ada puisi yang mengisahkan tentang kebusukan hati orang yang pe dengki…

ISTANA BUSUK DI HATIMU

istana hati di matanya adalah bangkai
yang selalu datang ketika kedengkian menjadi busuk

baginya,
cuaca paling sejuk melahirkan kata-kata sepenuh kedengkian
ketika merasa iri dan menjadi raja paling bijak
di hatinya yang busuk

kapan kau sadari
emosi mental itu
ikut sujud tatkala pikiranmu berkubang dengki di tiap lantai masjid?
————

Dalam ilmu tasawuf, kedekian dan kebusukan hati adalah nilai mendasar yang ada di dalam diri manusia.

Pertanyannya, mampukah kita mengatasi kedengkian dan kebusukan hati yang diam-diam akan merusak perilaku kita?

Menurut Ustadz Abdul Somad Hussein, kedengkian dan kebusukan hati di dalam jiwa manusia dilandasi sifat “keakuan” yang begitu kuat mempengaruhi perilaku. Sementara yang bersangkutan selalu menyepelekan kata hatinya sendiri sebagai manusia sejati.

Harus diakui bahwa tidak semua orang yang langsung menyadari dirinya sebagai insan yang diperbudak kebusukan hati.

Karena itu ia ringan saja mencaci dan “memukul” perasaan orang lain yang dianggapnya sepele. Padahal dalam perilaku intelektual ia pernah belajar dengan orang yang ia sepelekan.

Inilah tindakan kurang ajar yang dilaknat oleh Allah SWT. Sebagai manusia hina yang selalu memanfaatkan kebusukan hatinya untuk mencaci orang lain. Karena itu ia tidak akan masuk surga meski ia rajin ke masjid.

Maka, terkait masalah itu, harusnya kita tetap istiqamah untuk memahami setiap perilaku kita.

Secara esensi tugas kita harus menyadari diri dan selalu introspeksi untuk mengetahui sudah sejauh apa nilai-nilai diri untuk berbuat baik ke pada orang lain.

Dalam ilmu tasawuf, untuk menentang kesombongan dan kebusukan hati harus ada usaha bermuhasabah —dengan cara melihat kekurangan diri sendiri sebanyak-banyak, sehingga kesadaran moral pun akan selalu hadir ke dalam hati kita.

Konsep kesadaran diri yang kita hadirkan sebagai wujud moralitas yang baik akan menundukkan kesombongan sehingga bisa meningkatkan kesadaran diri untuk tidak merasa hebat dibanding orang lain.

Meski berat untuk “mengusir” kebusukan hati, namun kita harus terus berusaha sekuatnya untuk berdoa ke hadirat Allah SWT.

Mulai dari hal kecil seperti selalu berintrospeksi diri dan memohon bimbingan Allah SWT, sehingga kita akan selalu bersosialisasi dengan orang-orang baik dan rendah hati.

Sebab, hidup hanya sekali sudah itu mati. Maka alangkah baiknya kita selalu mengingat kematian, (memento mori), mengingat Allah, berdzikir dan berdoa, membaca Al-Quran dan hadis, serta berbuat baik kepada orang lain. (*)

Palembang, 30 Maret 2026