April 4, 2026

Antologi Puisi Satire oleh Rizal Tanjung

I – Prolog Bayangan

Cinta,
kau adalah bayangan yang terlalu setia,
bahkan ketika tubuhku ingin kabur dari cahaya.
Orang-orang bilang cinta itu suci—
aku bilang cinta itu pedagang kaki lima,
menjual rindu murahan dengan harga darah.
Namun entah mengapa,
aku tetap membeli,
meski dompet hatiku sudah kosong.

II – Rindu yang Tergeletak di Trotoar

Rinduku adalah pengemis,
duduk di trotoar ingatanmu,
mengulurkan tangan pada setiap langkah sepatu yang lewat.
Kau mungkin pernah menendangnya tanpa sadar,
tapi ia tetap duduk—
keras kepala seperti batu nisan
yang menolak runtuh oleh hujan.

III – Surat yang Tak Pernah Sampai

Aku menulis surat
dengan tinta air mata dan prangko doa,
lalu menyerahkannya pada tukang pos bernama Semesta.
Tapi ternyata semesta itu birokrasi paling malas,
stempel rinduku hilang,
alamatmu dicoret oleh takdir.
Dan suratku pun—
tersesat di kotak sampah bintang-bintang.

IV – Doa yang Mabuk di Langit

Aku pernah berdoa untukmu,
tapi doa itu mabuk,
tergelincir di tangga langit,
jatuh di meja para malaikat yang sibuk menghitung statistik dosa.
Mereka menertawakan isi doaku,
“Cinta? Lagi-lagi cinta?
Bukankah cinta hanya candu yang dibungkus suci?”

V – Kau, Peristiwa yang Tak Selesai

Kau adalah hujan yang berhenti sebelum sempat menumbuhkan,
kau adalah kembang api yang padam di tengah udara,
kau adalah film yang tiba-tiba diputus listrik.
Aku menonton ulang kisahmu di kepalaku—
tapi ending-nya selalu diganti oleh sunyi.

VI – Satire tentang Kesetiaan

Kesetiaan, katanya, adalah bukti cinta.
Bagi saya, kesetiaan hanyalah kelalaian berpikir.
Karena siapa yang waras
akan tetap memilih satu wajah
dari ribuan kemungkinan yang lebih baik?
Aku, rupanya.
Aku waras dalam kegilaan yang paling bodoh.

VII – Malam-Malam Bercakap dengan Langit

Langit itu tukang gosip,
aku sudah sering titip namamu padanya.
Tapi ia malah sibuk memamerkan bintang
kepada kekasih lain di atap dunia.
Rinduku?
Disimpan di arsip awan,
menunggu giliran hujan.

VIII – Ironi Sebuah Pelukan

Pelukanmu dulu hangat,
sekarang ia berubah jadi museum kosong.
Aku masuk, melihat sisa-sisa poster tentang kita,
berdebu, robek,
dan ada tulisan kecil di pojok:
“Pameran ini ditutup sampai waktu yang tak ditentukan.”

IX – Kesalahan Membaca Cinta

Aku menulis cinta seperti puisi,
kau membacanya seperti kontrak hutang.
Aku tanda tangan dengan darah,
kau tanda tangan dengan tawa.
Kini aku membayar bunga rindu,
sementara kau jalan-jalan
dengan bunga yang lain.

X – Satire Tentang Janji

Janji adalah gula-gula basi,
manis di mulut, lengket di lidah,
tapi bikin sakit gigi ingatan.
Kau pandai sekali membungkusnya
dengan kertas berwarna.
Dan aku—
bodoh sekali membuka bungkus itu setiap malam.

XI – Kota Sunyi

Aku membangun kota di dalam kepalaku,
jalan-jalannya bernama “Rindu”,
alun-alunnya bernama “Kenangan”.
Penduduknya hanya aku seorang,
dan patung tengah kota—
adalah wajahmu yang selalu dipoles hujan.

XII – Satire Rindu

Rindu adalah tukang kredit,
datang tiap malam,
menagih bayaran.
Dan aku yang miskin rasa,
hanya bisa membayar dengan air mata,
cicilan paling murahan dalam sejarah manusia.

XIII – Kau yang Tak Pernah Mengerti

Kau membaca aku
seperti membaca iklan baris.
Satu baris, satu rupiah,
murah,
dan bisa dilupakan besok pagi.
Sementara aku menulis kau
seperti kitab suci.
Aneh, bukan?

XIV – Cinta, Si Penipu

Cinta itu penipu ulung.
Ia menjual kebahagiaan di muka pintu,
lalu merampok isi rumah kita di tengah malam.
Aku pun korban,
tapi aku tetap rela menyalakan lampu
agar penipu itu bisa masuk lagi.

XV – Doa yang Dipulangkan

Tuhan menelpon semesta:
“Tolong kembalikan doa ini,
terlalu remeh untuk diproses.”
Dan doa rinduku jatuh ke pangkuanku,
seperti surat tak dikenal.
Aku buka,
isinya cuma satu kalimat:
“Kau terlalu banyak berharap.”

XVI – Kesedihan yang Tertawa

Aku menangis keras-keras,
tapi tangisku malah menertawakan aku.
“Lihat betapa lucunya manusia,” katanya,
“jatuh cinta sekali,
tapi merasa hidupnya tamat.”

XVII – Satire Waktu

Waktu,
kau adalah pedagang jam tangan palsu.
Kau bilang lukaku akan sembuh,
tapi ternyata kau hanya menjual detik kosong,
yang tak pernah benar-benar menyembuhkan.

XVIII – Ironi Sebuah Rindu

Aku rindu padamu,
tapi rinduku sendiri bosan menunggumu.
Ia kabur,
mabuk di bar kenangan,
dan pulang dengan wajah lebam.

XIX – Kau, Hantu yang Cantik

Kau bukan lagi manusia,
kau adalah hantu yang cantik,
gentayangan di lorong ingatanku.
Dan aku, alih-alih lari,
malah menyalakan lilin
agar kau betah menghantui.

XX – Satire Air Mata

Air mataku mendaftar jadi pekerja tetap,
kerjanya shift malam,
menetes tanpa henti.
Kadang ia mogok kerja,
tapi tetap datang pada hari gajian:
hari ulang tahunmu.

XXI – Tuhan dan Cinta

Aku bertanya pada Tuhan:
“Mengapa Kau ciptakan cinta?”
Tuhan tertawa pelan:
“Aku hanya menciptakan rasa,
kalianlah yang memberi nama—
dan menjadikannya penyakit.”

XXII – Kau, Labirin

Kau adalah labirin yang tak punya pintu keluar.
Aku berlari-lari di dalamnya,
sampai jantungku habis,
dan akhirnya aku sadar:
kau bukan labirin.
Kau cuma jalan buntu yang dipoles cantik.

XXIII – Satire Takdir

Takdir itu birokrasi paling lambat,
berkas cintaku sudah masuk sejak lama.
Tapi sampai kini belum juga diproses.
Mungkin menunggu tanda tangan malaikat yang cuti panjang.

XXIV – Cinta sebagai Komedi

Cinta adalah komedi,
panggungnya megah,
penontonnya menangis,
pemainnya pura-pura serius.
Dan aku—
badut paling setia
yang tetap melucu meski hatinya busuk.

XXV – Kau, Sebuah Luka

Kau adalah luka yang hobi selfie.
Setiap kali aku hampir sembuh,
kau muncul lagi dengan senyum baru,
mengingatkanku betapa indahnya rasa sakit.

XXVI – Satire Perpisahan

Perpisahan seharusnya tegas,
tapi kita mengubahnya jadi drama sinetron,
berlarut, berulang,
dan selalu disisipi iklan air mata.

XXVII – Sunyi yang Menjadi Sahabat

Akhirnya aku belajar,
bahwa sunyi lebih setia darimu.
Ia mendengar tanpa bertanya,
ia hadir tanpa pamrih.
Ironis, bukan?
Sahabat terbaikku adalah ketidak-adaan.

XXVIII – Kau dalam Ingatan

Setiap kali aku mencoba melupakanmu,
ingatan menempelkan wajahmu di papan pengumuman otak.
Tulisannya:
“Dicari. Jangan pernah hilang.”
Dan aku yang bodoh,
selalu datang untuk membaca ulang.

XXIX – Cinta yang Belum Selesai

Cinta ini seperti novel murahan,
tak pernah tahu kapan tamat,
tapi terus dicetak ulang dengan sampul berbeda.
Aku bosan jadi pembaca,
tapi tetap membeli edisi barunya,
karena namamu selalu jadi judul.

XXX – Epilog Satire

Dan bila suatu hari aku tiada,
jangan cari aku di makam.
Aku sudah terlalu malas untuk berbaring di situ.
Cari aku di antara tawa yang kau tahan,
di antara satir yang kau baca,
di antara cinta yang tak selesai.
Di sanalah aku—
menjadi ironi abadi.

Sumatera Barat — Indonesia, 2025.