April 3, 2026
Copilot_20260223_054820

Yusufachmad Bilintention

Ikhlas : Percakapan di Beranda

Di sebuah sore yang lengang, Iqbal duduk termenung di beranda rumah. Wajahnya tampak letih, matanya kosong menatap jauh.
Iqbal: “Banyak sudah yang kulakukan untuk menyelesaikan masalahku.”
Zainal: (menoleh penuh perhatian) “Masalah apa?”
Iqbal: “Banyak. Tapi yang paling rumit adalah sakit perutku. Aku sudah ke dokter, minum obat, bahkan mencoba berbagai saran orang. Namun hasilnya tetap mengecewakan.”
Zainal: (menghela napas) “Aku tahu kamu sudah berusaha banyak cara. Sekarang terimalah keadaanmu ini dan lebih dekatlah pada Allah.”

Iqbal terdiam. Kata-kata itu sederhana, tetapi menembus hatinya. Ia menyadari bahwa ikhlas bukan berarti menyerah, melainkan menemukan damai dalam diri.

Relevansi Masa Kini

Dalam kehidupan modern, banyak orang berjuang keras menghadapi masalah kesehatan, pekerjaan, atau hubungan sosial. Upaya maksimal sering dilakukan, namun hasil tidak selalu sesuai harapan. Di saat seperti itu, ikhlas menjadi kunci: menerima keadaan tanpa kehilangan semangat, dan tetap bersandar pada Allah.

Seorang psikolog pernah menegaskan, “Ikhlas membantu seseorang mengurangi beban mental, sehingga lebih mudah menemukan ketenangan dan mempercepat proses pemulihan.”

Penutup

Percakapan sederhana Iqbal dan Zainal menjadi cermin: ikhlas bukanlah tanda menyerah, melainkan jalan menuju ketenangan. Dan ketenangan itu sendiri adalah awal dari kesembuhan.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly