April 2, 2026

Dukung Langkah Tegap, Ka.Kankemenag Dedi Wandra Motivasi 12 Siswa MAN Sawahlunto

SAWAHLUNTO, 23 Juli 2025  Dalam sebuah pagi yang cerah, ketika matahari belum sepenuhnya menyingkap tirai embun di kota tambang bersejarah itu, halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto menjadi saksi lahirnya semangat baru. Sebanyak 12 siswa terpilih, dengan mata berbinar dan langkah mantap, menerima motivasi penuh makna dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, H. Dedi Wandra.

Dalam sebuah pertemuan yang tak sekadar formalitas, namun penuh nuansa kekeluargaan dan sarat nilai kebangsaan, Dedi Wandra berdiri di hadapan mereka bukan hanya sebagai seorang pejabat, tetapi sebagai seorang ayah yang mengantarkan anak-anaknya menuju medan juang. Ia datang membawa pesan yang tak ditulis di atas kertas, melainkan diukir dalam hati: bahwa menjadi pelajar adalah bagian dari pengabdian; bahwa ilmu dan akhlak adalah dua sayap untuk terbang tinggi tanpa melupakan bumi pijakan.

“Langkah kalian adalah harapan kami,” ujar beliau dengan suara tenang namun dalam, “Bangsa ini akan bertumpu pada pundak generasi yang jujur, cerdas, dan bertaqwa. Jangan takut gagal. Takutlah jika kalian berhenti mencoba.”

Dua belas siswa pilihan ini akan mewakili MAN Kota Sawahlunto dalam anggota Paskibra Kota Sawahlunto dan akan bergabung dengan perwakilan dari SLTA lain se Kota Sawahlunto yang akan melaksanakan tugas di Hari memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 tahun 2025 ini. Mereka bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga nama orang tua. Dalam balutan seragam madrasah, mereka adalah para duta nilai-nilai Islam yang moderat, berwawasan, dan berintegritas.

Suasana haru dan bangga menyatu. Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro, menyampaikan apresiasi setinggi langit. “Kami berterima kasih atas kehadiran dan dukungan langsung Bapak Ka.Kankemenag. Kehadiran beliau ibarat mata air segar bagi anak-anak kami yang tengah haus akan motivasi dan keteladanan.”

Bukan hanya kata-kata yang ditinggalkan Dedi Wandra pagi itu, tapi juga nilai tentang pentingnya niat yang lurus, kerja keras yang istiqamah, dan doa yang tak putus. Ia mengajak para siswa untuk menjadikan proses sebagai bagian dari ibadah, menjadikan kegagalan sebagai guru, dan menjadikan keberhasilan sebagai amanah.

“Saya yakin, anak-anak ini akan mengukir prestasi. Namun lebih dari itu, saya ingin mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu jauh lebih penting dari sekadar piala,” tuturnya.

Dengan semangat yang menyala, 12 siswa itu melangkah dengan kepala tegak. Di belakang mereka, jejak-jejak harapan ditinggalkan. Di depan mereka, terbentang jalan panjang perjuangan. Tapi pagi itu telah menandai satu hal: mereka tak berjalan sendiri.

Kontributor : Nofri Hendra

Editor : DTB