April 4, 2026

Entah—
Haruskah kuganti namamu, wahai entah?
Kukaji lembar demi lembar kamus batinku,
Namun huruf-hurufmu terselip di sela sunyi,
Atau barangkali memang takdirmu demikian:
Menjadi rantai halus di alam bawah sadarku.

Kau mendobrak, menghantam makna-makna baru,
Kucoba memeluk realita yang kian asing,
Namun kau mengakar, menjalar di dunia kecilku—
Duniamu dan duniaku berpisah, tak bersapa,
Seperti kayu kering yang tak mampu merintih.

Entah, aku bergulat dengan kesabaran,
Melayani ibarat penjual setia di pasar sunyi;
Namun engkau, pembeli yang pelit suara,
Hanya menawar dengan tatapan kosong
Di balik dua bola mata kaca bening itu.

Aku rampungkan ini, kususun teka-teki terakhir,
Meski kau bayangkan aku tak mampu bertahan.
Kalau bukan hikmah gunung yang menua,
Atau adab luhur seindah mekarnya mawar,
Mungkin segalanya telah karam di laut kelalaian.

Kini kau menyelinap seperti gerilya malam,
Menikam diam-diam, mendesak barisan huruf lain.
Tiarap semua makna, ambruk tak berdaya,
Seperti amanat yang kalah dalam langkah terakhir.

Surabaya, 30 April 2025