Gunung Debu Jiwa
Yusufachmad Bilintention
Debu menempel, bermilyar-milyar,
melumuri, bercampur, tersebar,
tak selalu tampak,
kecuali digores, disingkap, digaruk.
Hanya tangan yang peka
menemukan gunung debu,
bukan tangan yang enggan mengais,
menyibak, menggali jiwa.
Mata yang buta mendamba terang,
indahnya dunia tak tersentuh.
Hanya yang pernah merasakan panas
akan bersyukur pada sejuk.
Hanya kaki yang menyelam
mengerti kedalaman.
Mengapa banyak merasa perkasa,
takkan tumbang, takkan runtuh?
Apakah tubuh utuh
tak butuh debu yang melekat?
Kita lupa, debu kembali pada tanah,
menyatu, hilang,
tak ada yang peduli.
Apakah kita hanya bangga
pada lumpur berbau busuk yang menyerang?
Atau kita kira debu abadi,
tetap kokoh, bahagia, gagah,
takkan pernah hancur?
Surabaya, 10 Januari 2025