Hari ke-10 Ziarah Bersama RD. Ponsianus Ongirwalu: Langkah Iman di Tanah Fatima
Oleh: joko
Jejak Doa di Valinhos: Peziarahan RD. Ponsianus Ongirwalu Mengenang Cinta Bunda Maria, Peziarah Menapaki Jalan Salib, Menyusuri Tempat Penampakan Bunda Maria di Fatima
http://suaraanaknegerinews.com | Udara pagi di Fatima terasa sejuk ketika rombongan peziarah memulai hari kesepuluh perjalanan rohani mereka. Rabu (22/10/2025).
Di antara wajah-wajah yang penuh harap dan doa itu, tampak RD. Ponsianus Ongirwalu, Vicaris Episcopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar & Maluku Barat Daya, yang dengan penuh kesungguhan memimpin konselebrasi kudus di Kalelinha, tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi penampakan Bunda Maria.
Selepas misa pagi, langkah mereka berlanjut menyusuri Via Dolorosa, atau Jalan Salib, yang melewati Valinhos — tempat Bunda Maria pernah menampakkan diri kepada tiga anak gembala kecil.
Di setiap perhentian salib, peziarah merenungkan penderitaan Kristus, seraya mengenang kesetiaan Bunda Maria yang menyertai Putranya hingga ke Golgota.
“Setiap langkah di tanah ini mengajarkan kita arti kesetiaan dan pengharapan,” tutur RD. Ponsianus Ongirwalu dengan nada lembut usai prosesi jalan salib.
Mengunjungi Rumah Para Visioner Fatima
Jacinta dan Francisco, Dua Anak yang Dipilih Langit
Usai santap siang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah sederhana milik Jacinta dan Francisco Marto, dua dari tiga anak kecil yang mengalami penampakan Bunda Maria pada tahun 1917.
Rumah itu kini menjadi tempat doa dan refleksi bagi ribuan peziarah dari seluruh dunia.
Di antara aroma kayu tua dan cahaya lembut yang masuk dari jendela kecil, para peziarah diajak merenungkan kesederhanaan hidup anak-anak tersebut, yang dengan kepolosan dan iman teguh menjadi saksi kasih ilahi.
Tak jauh dari rumah itu, mereka juga mengunjungi makam Jacinta dan Francisco serta kapel adorasi kekal, tempat umat berdoa dalam keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus.
Enam Penampakan di Fatima
Cinta, Doa, dan Pesan Perdamaian dari Surga
Kisah penampakan di Fatima merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Gereja Katolik.
Terjadi sebanyak enam kali dari 13 Mei hingga 13 Oktober 1917, peristiwa itu menjadi panggilan universal untuk doa dan pertobatan.
13 Mei 1917: Tiga anak gembala Lucia dos Santos, Francisco Marto, dan Jacinta Marto melihat cahaya terang dan sosok wanita berselubung putih yang mengaku sebagai Bunda Maria.
Ia meminta agar umat berdoa Rosario setiap hari demi perdamaian dunia.
13 Juni 1917: Pesan pertobatan kembali disampaikan, dan Bunda Maria meminta anak-anak itu mempersembahkan hidup mereka bagi keselamatan jiwa-jiwa.
13 Juli 1917: Bunda Maria menyingkapkan tiga rahasia Fatima dan meminta doa untuk menghentikan Perang Dunia I serta mengonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria Tak Bernoda.
19 Agustus 1917: Karena ditahan pemerintah, anak-anak tidak hadir di tempat semula. Namun Bunda Maria menampakkan diri di Valinhos, tempat yang kini dikunjungi RD. Ponsianus bersama para peziarah.
13 September 1917: Ia menguatkan janji bahwa perang akan segera berakhir.
13 Oktober 1917: Mukjizat matahari terjadi di hadapan ribuan orang, sinar langit menari, dan banyak yang bertobat menyaksikan tanda itu.
Pesan Fatima terus bergema: doa, pertobatan, dan perdamaian. Tiga kata yang menjadi napas dari setiap langkah ziarah.
Basilika dan Kapel Penampakan
Simbol Iman yang Hidup di Tanah Portugal
Di jantung Sanctuary of Fatima, berdiri megah Basilika Bunda dari Fatima, bergaya Neo-Barok dengan menara setinggi 65 meter yang dihiasi 62 lonceng. Suara dentangnya setiap jam menjadi pengingat akan panggilan doa bagi seluruh umat.
Dibangun antara tahun 1928–1953 dan ditahbiskan pada 7 Oktober 1953, basilika ini kemudian diberi gelar Basilika Minor oleh Paus Pius XII.
Di dalamnya terdapat makam Francisco dan Jacinta Marto, serta 15 altar yang masing-masing didedikasikan bagi misteri Rosario.
Tak jauh dari sana berdiri Kapel Penampakan, bangunan kecil yang dibangun tepat di atas lokasi asli penampakan Bunda Maria.
Di altar kapel itu berdiri patung Bunda Maria dari Fatima, ditempatkan di atas penopang yang menandai pohon ek tempat penampakan pertama terjadi.
Setiap hari, ribuan peziarah datang, berlutut, merangkak, atau melambaikan saputangan putih sebagai tanda bakti.
Di sinilah, kesunyian dan iman bersatu dalam ritual yang melintasi waktu dan bahasa.
Menapaki Jalan Cinta dan Iman
Refleksi RD. Ponsianus Ongirwalu
Bagi RD. Ponsianus Ongirwalu, ziarah ke Fatima bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peziarahan batin untuk memperdalam makna panggilan dan pelayanan.
“Bunda Maria mengajarkan kita untuk selalu setia, meski dalam penderitaan. Di tanah ini, kita belajar bahwa cinta sejati selalu disertai pengorbanan,” ujarnya.
Perjalanan hari kesepuluh di Fatima menjadi momentum permenungan bagi seluruh peziarah.
Di setiap langkah, doa, dan tetes air mata, mereka menemukan kembali makna kesetiaan kepada Tuhan, sebagaimana diajarkan oleh Bunda Maria lebih dari seabad yang lalu.