JOKOWI’S WHITE PATH
(๐๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ)
Soloโsuaraanaknegerinews.com | Ratusan jemaah dari Tuban.ย Kalau mau salah satu contoh konkret dari “Vox populi, vox Dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan) adalah fenomena terus mengalirnya rakyat yang mendatangi rumah Jokowi. Silaturahmi. Melepas kangen, bernostalgia merasakan kehangatan dan perasaan menyatunya rakyat dengan pemimpin.

Suara mereka tidak bisa dibungkam oleh tudingan bahwa itu dibayar, dimobilisasi, dan seterusnya. Kaki mereka nyaris mustahil dirantai oleh kekuatan apapun agar tidak bergerak mendatangi rumah Presiden ketujuh RI itu. Pun hati mereka tidak bisa digoyahkan untuk menjauh dari hati lelaki dari bantaran kali Solo itu.
Kedatangan mereka tidak membawa motif tendensius apapun, kecuali “ingin bertemu”. Secara sederhana, muara perjalanan seorang pemimpin adalah ketika rakyatnya sampai pada rasa “ingin bertemu”.
Gelombang rasa seperti itu tidak bisa dibendung. Ini mengerikan, bagi seteru politik. Ini menggembirakan, bagi sekutu politik. Dan yang terpenting, ini mencerahkan, bagi siapa pun ingin belajar menjadi seorang pemimpin.
Dan puncaknya, fenomena gelombang rakyat mendatangi pemimpinnya ini, bahkan ketika ia sudah tak berkuasa, pun difitnah serta dicaci habis adalah refleksi dari rakyat yang tanpa sadar ikut “menulis konsep kepemimpinan” yang mereka butuhkan.

Seperti ini lho, seperti ketika kita terus “ingin bertemu” dengan seorang pemimpin.
Itulah makna ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ธ๐ช’๐ด ๐๐ฉ๐ช๐ต๐ฆ ๐๐ข๐ต๐ฉ, jalan terang kepemimpinan dari pinggiran. Rakyat, bersama Jokowi, tanpa sadar, secara tak langsungโsedang menulis bersama “konsep kepemimpinan” yang diharapkan, yang dibutuhkan rakyat negeri ini. Betapa eloknya.
(Apakah ini berlebihan? Nampaknya tidak, sebab fenomena sejenis tidak di alami oleh para mantan pemimpin sebelumnya. Rakyat sepertinya tidak ingin menulis bersama mereka. Maapken. Ini ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ธ๐ช’๐ด ๐๐ฉ๐ช๐ต๐ฆ ๐๐ข๐ต๐ฉ ya, bukan ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ธ๐ช’๐ด ๐๐ฉ๐ช๐ต๐ฆ ๐๐ข๐ฑ๐ฆ๐ณ. Maapken, lagi).
By: Herry Tjahjono