April 4, 2026

Ketika Gelar Tinggi Tak Selalu Berbanding Lurus dengan Penghargaan

*(Sepenggal Kisah Dr. Wijaya Kusumah

Di negeri ini, banyak cerita yang kadang terasa ironis. Ada orang yang sekolah setinggi langit, menempuh pendidikan hingga jenjang S3, dengan pengorbanan luar biasa. Mereka korban waktu, biaya, tenaga, bahkan keluarga yang harus ikut menanggung konsekuensinya.

Namun, ketika kembali ke dunia kerja, khususnya di dunia pendidikan dasar dan menengah, inilah realitas yang dihadapi: tidak jauh berbeda dengan mereka yang “cukup” berbekal jenjang S1.

  • Tidak ada kenaikan signifikan, baik dari segi penghasilan maupun penghargaan.
  • Karier pun berjalan stagnan, seolah gelar yang diperoleh hanyalah selembar kertas.

Sementara di sisi lain, mereka yang mungkin hanya berbekal ijazah SMA atau bahkan tidak tamat kuliah, bisa duduk manis di kursi empuk DPR dengan gaji fantastis dan fasilitas mewah lainnya. Bagaikan raja dan ratu di istana.

Perbandingan ini tentu menimbulkan rasa getir di hati para pendidik yang setiap hari berjuang mencerdaskan bangsa. Mereka ingin melanjutkan pendidikan, tapi penghargaan minim dari sekolah. Wisuda sarjana hanya menyenangkan sejenak saja.

Gelar Tinggi, Harapan Tinggi

Ketika seorang guru melanjutkan studi ke S2 atau S3, tentu ada cita-cita besar yang mendorongnya. Bukan semata-mata mengejar gelar, melainkan ingin meningkatkan kualitas diri dan memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia.

Ada keyakinan bahwa dengan pendidikan lebih tinggi, akan lahir penghargaan yang lebih besar. Namun sayangnya, sistem di negeri ini belum sepenuhnya berpihak. Mereka yang berpendidikan tinggi belum tentu naik gaji atau gajinya tinggi.

Guru bergelar doktor tetap saja berdiri di depan kelas dengan status dan gaji yang tidak jauh berbeda dengan rekan-rekan mereka yang bergelar sarjana muda. Inilah kenyataan hidup yang harus dijalani dengan senyuman pengabdian.

Padahal, jika logika sederhana kita gunakan: semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula seharusnya ruang untuk mengabdi dan diberdayakan. Sayangnya, logika itu tidak berlaku di banyak sekolah negeri maupun swasta.

Indonesia dan Tantangan Menghargai Ilmu

Jika kita jujur, bangsa ini belum sepenuhnya memberikan tempat yang layak bagi orang berpendidikan tinggi. Gelar akademik sering hanya dilihat sebagai formalitas, bukan sebagai investasi negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Contoh paling nyata ada di bidang pendidikan. Guru cukup diwajibkan S1. Untuk naik pangkat, syarat administratif lebih diutamakan ketimbang kualitas akademik.

Seorang guru lulus jenjang doktor S3 tetap saja berada di level yang sama dengan guru S1. Tidak ada perlakuan khusus, tidak ada ruang lebih luas untuk mengembangkan diri. Kecuali, guru tersebut mampu melakukan inovasi dan pengembangan diri serta kreatif.

Bandingkan dengan dunia akademik di perguruan tinggi. Seorang dosen yang meraih gelar doktor memiliki jalan lebih lapang untuk melangkah ke jabatan fungsional lebih tinggi, bahkan hingga mencapai profesor.

Di sana, pendidikan tinggi dihargai dan diberi ruang untuk tumbuh. Guru besar dapat diraih bila sang dosen rajin meneliti dan membuat karya tulis ilmiah yang terindeks Scopus dan jurnal internasional lainnya.

Mungkin inilah sebabnya banyak guru yang akhirnya memilih “menyeberang” menjadi dosen. Jalan menjadi guru besar terbuka, meski tentu saja tidak semua orang memiliki kesempatan atau keberuntungan ke arah itu.

Ironi Sosial: DPR vs Guru

Mari kita tarik sedikit perbandingan yang lebih tajam. Seorang anggota DPR, dengan latar belakang pendidikan seadanya, bisa memperoleh gaji dan tunjangan puluhan juta rupiah, ditambah fasilitas mobil dinas, rumah dinas, perjalanan dinas, hingga pensiun.

Di sisi lain, seorang guru bergelar doktor, dengan dedikasi tanpa batas, masih harus menghitung hari untuk gajian, masih berjuang mencari tambahan penghasilan dari menulis, mengajar les, atau bahkan membuka usaha kecil-kecilan.

  • Bukankah ini ironi?
  • Bukankah ini luka yang dalam bagi dunia pendidikan kita?

Namun, inilah realitas atau kenyataan yang mau tidak mau harus diterima. Karena jika tidak, mungkin banyak guru yang akan berhenti melangkah. Banyak guru yang akhirnya berhenti mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tetap Bersyukur, Meski Perih

Di balik semua rasa getir itu, ada hal yang selalu menjadi penyangga: rasa syukur kepada Allah SWT. Banyak guru selalu bersyukur dengan apa yang sudah didapatkannya.

Meski penghasilan tidak sepadan dengan perjuangan, guru tetap menjadi sosok yang disegani murid-muridnya. Meski jabatan stagnan, masih ada rasa bangga ketika melihat anak-anak didik berhasil.

Meski penghargaan negara belum setara, ada penghargaan dari hati kecil siswa yang terus mengingat jasa gurunya. Guru akan merasa bahagia ketika muridnya masih kenal gurunya ketika sudah sukses meraih cita-citanya.

Gaji guru yang kecil mungkin tidak bisa membeli kemewahan, tetapi kebahagiaan seorang guru sering datang dari sumber yang sederhana: ucapan terima kasih, senyum murid yang berhasil, atau sekadar sapaan dari alumni yang kini sudah sukses.

Harapan untuk Pemberdayaan Guru S3

Meski saat ini guru bergelar doktor belum sepenuhnya mendapat penghargaan yang layak, harapan tetap ada. Pemerintah dan organisasi guru perlu memikirkan wadah khusus untuk memberdayakan guru S3.

Mengapa tidak membentuk forum nasional guru bergelar doktor? Mengapa tidak ada regulasi khusus yang memberi ruang bagi mereka untuk melakukan riset, menulis buku, atau mengembangkan inovasi pembelajaran yang bisa diadopsi secara nasional?

Bukankah lebih baik negara memanfaatkan sumber daya berilmu tinggi daripada membiarkannya tenggelam dalam rutinitas administratif di sekolah?

Omjay dan Jalan Menuju Guru Besar

Sosok seperti Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd) adalah contoh nyata bahwa jalan lain sebenarnya terbuka. Dengan portofolio yang kaya, Omjay aktif menulis, menjadi pembicara, dan berjejaring luas ke dunia internasional.

Omjay sangat jelas punya peluang besar jika melangkah ke perguruan tinggi swasta (PTS) dan melanjutkan ke jenjang guru besar. Omjay layak menjadi guru besar atau profesor di perguruan tinggi swasta.

  • Mengapa tidak?
  • Mengapa seorang guru S3 tidak diberi kesempatan itu?
  • Bukankah justru PTS membutuhkan figur yang kaya pengalaman lapangan seperti Omjay?

Bahkan, bukan hanya Omjay guru blogger Indonesia. Banyak guru bergelar doktor di Indonesia yang seharusnya diberi kesempatan serupa. Kita perlu memberikan apresiasi dan kesempatan guru untuk berkarier lebih tinggi.

Penutup: Jalan Panjang yang Belum Usai

Kita boleh merasa pahit melihat kenyataan. Gelar tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan penghargaan. Namun perjalanan seorang guru sejatinya bukan soal gaji dan jabatan semata.

  • Guru adalah panggilan jiwa.
  • Meski negara belum sepenuhnya adil, meski masyarakat kadang tak menghargai, tetap ada cahaya kecil di hati seorang guru: keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah ibadah, adalah warisan abadi yang tidak akan pernah hilang.

Suatu saat, mungkin tidak sekarang, Indonesia akan belajar bahwa menghargai ilmu adalah menghargai masa depan bangsa. Dan ketika saat itu tiba, guru-guru bergelar doktor akan berdiri di garis depan, bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelita yang menerangi jalan generasi baru.

Artikel kisah Omjay ini bukan hanya tentang kekecewaan, tetapi juga tentang harapan, syukur, dan keyakinan bahwa ilmu tidak pernah sia-sia. Dia akan menemukan jalannya sendiri. Teruslah berbagi ilmu ke seluruh negeri dengan menulis setiap hari di Kompasiana tercinta.

Catatan:

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Gelar Tinggi Tak Menjamin Gaji Tinggi Bila Tidak Disertai Kreativitas dan Inovasi”, Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/wijayalabs/68af621f34777c7c0977c132/gelar-tinggi?page=all