Kucing dan Anjing
Yusufachmad Bilintention
Pelajaran dari Hewan Peliharaan
Dialog di Ruang Kelas
Di sebuah ruang kelas sederhana, Aminah dan Amanah berbincang tentang hewan kesayangan.
Aminah berkata pelan, “Aku ingin punya anjing, tapi kita dilarang memeliharanya.”
Amanah penasaran, “Mengapa?”
Aminah menjelaskan, “Karena malaikat Jibril tidak masuk rumah yang ada anjingnya. Rasulullah SAW sendiri memelihara kucing bernama Mueeza.”
Amanah tersenyum, “Subhanallah, jadi kucing itu sunnah, sementara anjing bisa menghalangi keberkahan.”
(Dalam khazanah fiqih Islam, terdapat perbedaan pandangan. Sebagian madhab membolehkan memelihara anjing untuk tujuan tertentu, seperti menjaga rumah atau berburu. Namun, Aminah memilih mengikuti madhab yang lebih ketat, dan Amanah menghargai pilihan itu.)
Dialog singkat ini membuka mata bahwa pilihan kecil dalam hidup, bahkan soal hewan peliharaan, bisa membawa dampak besar bagi keberkahan rumah.
Tren Hewan Peliharaan di Era Modern
Memelihara hewan kini menjadi bagian dari gaya hidup. Data e-commerce menunjukkan penjualan produk hewan peliharaan—makanan, kandang, hingga aksesori—terus meningkat. Media sosial pun dipenuhi konten lucu tentang kucing dan anjing, menjadikannya bagian dari keseharian banyak orang.
Namun bagi Muslim, tren ini perlu ditimbang dengan syariat. Islam tidak melarang mencintai hewan, tetapi mengatur cara berinteraksi dengannya. Kucing dianggap suci dan pernah dipelihara Rasulullah SAW. Anjing, meski bermanfaat untuk menjaga rumah atau berburu, tetap memiliki aturan ketat terkait kebersihan dan keberkahan rumah.
Refleksi
Dialog Aminah dan Amanah relevan dengan kehidupan modern. Di tengah tren global, umat Islam diingatkan untuk tetap menimbang pilihan sesuai syariat. Memelihara hewan bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga menjaga nilai spiritual.
Kucing menjadi simbol kasih sayang sekaligus teladan sunnah. Sementara anjing, meski populer di banyak budaya, bagi Muslim harus dipahami dalam konteks hukum fiqih agar tidak menghalangi keberkahan.
Pesan Penutup
Pesan Aminah dan Amanah sederhana namun mendalam: mencintai hewan itu boleh, bahkan dianjurkan, tetapi tetap dalam koridor syariat agar rumah penuh keberkahan. Di era modern, ketika gaya hidup sering bertabrakan dengan nilai agama, dialog kecil ini mengingatkan kita bahwa keberkahan rumah dimulai dari pilihan sehari-hari.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly