“Literasi sebagai Jalan Masa Depan: Refleksi atas Pidato Afiqa di Pelantikan Duta Literasi Sumatera Barat 2026”
Refleksi: Paulus Laratmase
–
Pidato Afiqa dalam momentum Seleksi dan Pelantikan Duta Penyala Literasi Sumatera Barat pada Sabtu, 28 Maret 2026, menjadi rangkaian pernyataan intelektual yang menggugah kesadaran publik tentang posisi strategis literasi dalam kehidupan generasi muda. Dunia yang ditandai oleh ledakan informasi, Afiqa menghadirkan literasi sebagai fondasi etis dan kognitif dalam membentuk manusia yang utuh.
Afiqa menegaskan bahwa literasi adalah kemampuan untuk mengetahui, memahami, dan bertanggung jawab atas apa yang diketahui. Rumusan ini menempatkan literasi dalam dimensi yang lebih dalam, yaitu sebagai actus humanus, sebuah tindakan moral. Dalam perspektif ini, pengetahuan tidak berhenti pada akumulasi informasi, ia mendorong kesadaran untuk menggunakannya secara bijak dalam kehidupan publik. Di sinilah literasi bertransformasi menjadi kekuatan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Lebih jauh, pidato Afiqa, menggarisbawahi paradoks generasi digital. Generasi Z dan milenial hidup dalam kelimpahan akses informasi, tetapi tidak selalu dibarengi dengan kemampuan memilah dan memaknai. Afiqa dengan tajam membaca situasi ini: tanpa literasi yang kuat, informasi justru dapat menjadi sumber disorientasi, bahkan konflik sosial. Oleh karena itu, literasi harus diposisikan sebagai keterampilan hidup (life skill) yang memungkinkan generasi muda menjadi subjek aktif dalam membangun pengetahuan.
Dalam kerangka yang lebih luas, literasi juga dipresentasikan sebagai instrumen transformasi sosial. Generasi muda, melalui literasi, didorong untuk memahami realitas sosial secara kritis: membaca ketimpangan, merespons isu publik, dan menghadirkan narasi alternatif yang lebih adil dan inklusif. Dengan demikian, literasi memiliki implikasi kolektif bagi arah pembangunan masyarakat.
Afiqa mereduksi konsep filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara, literasi dapat dipahami sebagai bagian dari proses “memerdekakan manusia” melalui pendidikan. Ki Hajar menekankan bahwa pendidikan sejati selain mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk kemampuan berpikir merdeka. Dalam konteks ini, membaca menjadi praktik awal dari kemerdekaan, sebuah aktivitas yang memungkinkan individu keluar dari ketergantungan, membangun penilaian sendiri, dan tidak mudah terjebak dalam dominasi informasi yang menyesatkan.
Afiqa dengan lantang mengingatkan konsep “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menemukan relevansinya dalam gerakan literasi yang kini digaungkan Afiqa. Generasi muda tidak hanya membutuhkan figur teladan dalam budaya membaca, tetapi juga ruang untuk membangun kehendak dan kreativitasnya sendiri dalam mengelola pengetahuan. Literasi, dalam hal ini, merupakan ekosistem yang membutuhkan peran pendidik, komunitas, dan institusi untuk mendorong tumbuhnya semangat belajar dari dalam diri generasi muda.
Selain itu, Afiqa menekankan konsep Ki Hajar Dewantara pada pentingnya pendidikan yang berakar pada kesadaran batin (inner consciousness). Dalam kerangka ini, membaca tidak boleh dipaksakan sebagai kewajiban eksternal, melainkan harus tumbuh sebagai kebutuhan intrinsik. Afiqa secara implisit menggemakan gagasan ini dengan menegaskan bahwa masa depan generasi muda sangat ditentukan oleh kesadaran mereka untuk terus belajar. Membaca menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memperhalus budi pekerti, dan memperkuat tanggung jawab sosial.
Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika dibaca dari perspektif generasi yang lebih tua. Ada rasa syukur sekaligus harapan, bahwa di tengah kompleksitas zaman, masih ada semangat yang menyala untuk menjadikan literasi sebagai gerakan bersama. Apa yang disampaikan Afiqa bukan hanya gagasan, tetapi juga energi moral yang menggerakkan.
Apresiasi patut diberikan kepada para penggerak literasi yang telah menghadirkan ruang ini: Ketua Penyala Literasi Sumatera Barat, Ibu Eka Teresia, S.Pd., M.M., Ketua Panitia Celsi Englen, serta para juriIbu Leni Marlina, S.S., M.A., Ibu Marnetti Yuniengsih B, M.Pd., dan Ibu Lily Yovita M.Pd yang telah berkontribusi dalam melahirkan generasi muda yang berpikir kritis dan berdaya saing. Momentum penganugerahan Duta Penyala Literasi Sumbar 2026 bukan hanya perayaan simbolik, tetapi juga penegasan komitmen terhadap masa depan.
Sebagai Pimpinan Umum Negeri News.Com, refleksi atas pidato ini menegaskan satu hal penting: perubahan besar dalam masyarakat selalu berawal dari kesadaran kecil membaca, memahami, dan berpikir. Literasi, pada akhirnya, menjadi arah, kompas yang menuntun generasi muda untuk tidak hanya bertahan di tengah arus zaman, tetapi juga mampu menentukan ke mana arah masa depan itu akan dibawa.