April 4, 2026

Menjadi Samaria Masa Kini: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC tentang Kasih Tanpa Batas

Oleh : joko

Mengangkat kisah orang Samaria yang baik hati, Pastor Pius mengajak umat menjadi wajah kasih di tengah dunia yang penuh sekat.

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Minggu pagi, 13 Juli 2025 – Suasana teduh dan khusyuk menyelimuti Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan. Dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, umat diajak menyelami kembali makna terdalam dari pertanyaan yang menggugah hati: “Siapakah sesamaku?”

Pertanyaan itu bukan sekadar kutipan Injil dari Lukas 10:25–37, tetapi menjadi pintu masuk untuk merenungkan kualitas iman yang sejati—iman yang hidup, aktif, dan penuh kasih.

Kasih yang Tidak Bersyarat

Dalam khotbahnya, Pastor Pius Heljanan, MSC, yang saat ini menjabat sebagai Kuasi Paroki di Gereja Hati Kudus Yesus Lauran, menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh nurani umat.

“Tidak mudah melakukan perbuatan baik dengan tulus pada sesama. Kadang, ada motif tersembunyi di balik kebaikan,” tutur Pastor Pius. “Namun Yesus memanggilmu untuk mewujudkan kasih sejati, kasih yang melampaui sekat, tanpa batas dan tanpa syarat.”

Ia menekankan bahwa menjadi orang beragama saja tidak cukup. Beragama bisa tampak indah dari luar, seperti casing yang menarik, tetapi bisa saja busuk di dalam bila tidak diiringi iman yang sungguh hidup.

Menjadi “Samaria Masa Kini”

Pastor Pius mengajak umat untuk bercermin pada kisah orang Samaria yang baik hati. Dalam cerita Injil, si Samaria menolong seorang asing yang terluka, meskipun secara budaya dan keyakinan mereka berbeda.

“Musuh dan orang tak dikenal pun pantas dikasihi,” ujarnya. “Dirimu adalah Samaria masa kini.”

Dengan penuh ketegasan namun kasih, Pastor Pius menantang umat agar tidak menjadikan agama sebagai tembok yang memisahkan diri dari sesama. Sebaliknya, iman sejati harus memproduksi perbuatan baik bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Kasih dalam Tindakan Nyata

Pesan yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC bukanlah ajakan teoritis semata, melainkan panggilan konkret untuk menjadikan kasih sebagai aksi nyata dalam kehidupan harian. Kasih yang tidak menuntut balasan, kasih yang tidak memilih-milih siapa yang layak dikasihi.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi dan egois, refleksi ini menjadi pengingat kuat bahwa iman tanpa kasih hanyalah rutinitas kosong.

Akhir yang Membuka Awal

Perayaan Ekaristi di Lauran pagi itu pun berakhir dengan damai, namun membawa pulang pesan yang menggelisahkan sekaligus membangkitkan harapan: bahwa di tengah dunia yang keras, masih ada ruang untuk kasih yang murni—dan semua orang dipanggil untuk menjadi bagian dari kasih itu.

“Dirimu orang baik bagi sesama tanpa batas dan syarat.” ujar Pastor Pius mengakhiri.