February 20, 2026

Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan: Refleksi Qur’ani tentang Etika Sosial dan Kematangan Spiritual

IMG-20260213-WA0214(1)

Oleh: H. Afrizal, S.Pd.I, M.Si Dt. Anso

Sekretaris DPW GUPPI Provinsi Sumatera Barat

Ketua Bidang Agama, Adat & Pembinaan Karakter IKTD Sumatera Barat

Mahasiswa Program Doktoral UM Sumatera Barat

 

Pendahuluan

Setiap kali bulan Ramadhan mendekat, ruang-ruang sosial umat Islam dipenuhi dengan ungkapan saling memaafkan. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan cerminan dari nilai-nilai dasar ajaran Islam. Ramadhan tidak hanya mengajarkan pengendalian fisik melalui puasa, tetapi juga pembinaan karakter, penguatan nilai melalui pengendalian emosi, ego, dan hubungan sosial sesama manusia. Dalam realitas kehidupan modern yang sering kali penuh konflik, perbedaan pandangan, dan gesekan kepentingan, memaafkan sering kali menjadi nilai yang mahal. Banyak orang mudah menuntut keadilan, tetapi enggan membuka pintu maaf. Padahal, Islam meletakkan memaafkan sebagai salah satu pondasi akhlak mulia yang menjadi ciri kematangan spiritual seorang mukmin. Landasan normatif yang sangat kuat tentang hal ini terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 199, yang menekankan prinsip etika sosial dalam Islam: memaafkan, mengajak kepada kebaikan, dan berpaling dari kebodohan. Ayat ini bukan hanya panduan moral individual, tetapi juga struktur membangun harmonisasi sosial terutama dalam menyambut bulan Ramadhan.

Tafsir Al-A’raf Ayat 199: Pilar Etika Sosial Dalam Islam

Surah Al-A’raf ayat 199 berbunyi: “Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Ayat ini oleh banyak ulama tafsir dipahami sebagai inti ajaran akhlak sosial dalam Islam. Tiga perintah utama dalam ayat tersebut—memaafkan, amar ma’ruf, dan menghindari konflik destruktif (merusak) merupakan dasar untuk menjaga hubungan antar manusia yang sehat.

Pertama, perintah “khudzil ‘afwa” (jadilah pemaaf) menunjukkan bahwa memaafkan harus dilakukann dengan sikap proaktif, bukan pasif. Seorang mukmin tidak mesti menunggu orang lain sempurna atau menyesal terlebih dahulu untuk memberi maaf. Memaafkan justru menjadi pilihan sadar untuk menjaga martabat diri dan stabilitas sosial.

Kedua, perintah mengajak kepada yang ma’ruf menunjukkan bahwa memaafkan tidak berarti membiarkan kesalahan terus berlangsung dan berulang. Islam menempatkan memaafkan berdampingan dengan upaya pendidikan (edukatif) dan perbaikan sosial. Dengan kata lain, memaafkan harus disertai komitmen terhadap nilai-nilai positif.

Ketiga, perintah untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh mengajarkan bagaimana mengelola konflik yang terjadi. Tidak semua perdebatan perlu dilayani, dan tidak semua provokasi perlu dibalas. Dalam konteks ini, memaafkan adalah strategi etis untuk menghentikan siklus konflik yang tidak memberi manfaat. Ayat ini menjadi sangat penting ketika umat Islam akan memasuki Ramadhan, bulan yang menuntut kebersihan hati dan ketenangan jiwa.

Keutamaan Memaafkan dalam Perspektif Teologis dan Sosial

Dalam Islam, memaafkan bukan sekadar saran moral, melainkan keutamaan yang memiliki implikasi teologis, psikologis, dan sosial. Dari sisi teologis, memaafkan adalah jalan menuju ampunan Allah. Banyak ayat dan hadis menegaskan bahwa Allah mencintai hamba yang mampu menahan amarah dan memberi maaf. Logikanya sederhana namun mendalam: manusia yang mengharap ampunan Ilahi harus terlebih dahulu menunjukkan kelapangan hati kepada sesamanya.

Dari pandangan psikologis, memaafkan adalah terapi batin yang dapat dianggap sebagai penyembuhan jiwa. Rasa dendam dan kebencian yang dipelihara akan menjadi beban emosional yang menggerogoti ketenangan jiwa. Dalam konteks Ramadhan, kondisi batin yang dipenuhi dengan kemarahan akan mengurangi kualitas ibadah. Puasa yang ideal bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membebaskan hati dari luka sosial yang belum terselesaikan.

Dari perspektif sosial, memaafkan berfungsi sebagai kekuatan yang menyatukan. Banyak konflik sosial baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakatberlangsung lama bukan karena masalahnya besar, tetapi karena tidak ada pihak yang bersedia memulai maaf. Dalam pandangan Islam, memaafkan sebagai investasi sosial jangka panjang untuk membangun kepercayaan, kekompakan, dan solidaritas.

Ramadhan dan Pentingnya Membersihkan Hubungan Sosial

Ramadhan sering disebut sebagai bulan penyucian. Namun, penyucian yang tersebut tidak hanya terbatas pada aspek ritual, melainkan juga hubungan sosial. Puasa mendidik empati, karena rasa lapar menyadarkan manusia akan penderitaan orang lain. Dalam kerangka ini, memaafkan adalah kelanjutan logis dari empati tersebut. Masuknya Ramadhan tanpa menyelesaikan konflik sosial ibarat membersihkan tubuh tanpa membersihkan luka di dalamnya. Ibadah tetap berjalan, tetapi ruh spiritualnya berkurang. Karena itu, tradisi saling memaafkan menjelang Ramadhan sejatinya adalah implementasi praktis dari nilai Al-A’raf ayat 199. Di tengah polarisasi sosial, perbedaan pilihan politik, dan ketegangan akibat media sosial, Ramadhan menjadi momentum strategis untuk merajut kembali hubungan yang renggang. Memaafkan dalam konteks ini bukan hanya tindakan personal, tetapi kontribusi nyata bagi ketahanan sosial.

Langkah-Langkah Strategis Memaafkan Orang Lain

Meskipun memaafkan memiliki banyak keutamaan, dalam praktiknya di lapangan tidak selalu mudah. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis agar memaafkan menjadi proses yang realistis dan berkelanjutan.

Pertama, membangun kesadaran nilai. Memaafkan harus dipahami sebagai perintah agama dan kebutuhan spiritual, bukan sekadar tuntutan sosial. Kesadaran ini membuat seseorang memaafkan dengan niat ibadah, bukan karena tekanan.

Kedua, melakukan muhasabah diri. Sebelum menilai kesalahan orang lain, Islam mendorong refleksi diri. Kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kekhilafan akan melunakkan hati dan mengurangi sikap menghakimi.

Ketiga, mengelola emosi secara bertahap. Memaafkan tidak selalu harus dilakukan secara instan, Islam memberi ruang untuk berproses, selama ada niat untuk tidak memelihara kebencian. Mengakui luka adalah bagian dari kejujuran emosional, tetapi tidak membiarkannya menguasai diri dan kehidupan adalah bentuk kedewasaan.

Keempat, memulai dari doa. Mendoakan kebaikan bagi orang yang pernah menyakiti adalah strategi spiritual yang efektif. Doa mengubah sudut pandang dan menumbuhkan empati yang tulus. Kelima, menciptakan ruang rekonsiliasi sosial. Jika memungkinkan, memaafkan dapat diikuti dengan dialog dan pemulihan hubungan. Namun jika tidak memungkinkan, memaafkan tetap sah sebagai keputusan batin untuk berdamai dengan keadaan.

Langkah-langkah ini menegaskan bahwa memaafkan adalah proses yang memerlukan kesadaran, keberanian moral dan ketahanan spiritual.

Penutup

Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H dengan saling memaafkan adalah implementasi nyata dari ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah Al-A’raf ayat 199. Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak terletak pada kemampuan memaafkan, mengajak kepada kebaikan, dan menghindari konflik yang tidak perlu. Ramadhan akan kehilangan kekuatan an keutamaannya jika dijalani dengan hati yang masih dipenuhi dendam dan kekecewaan. Sebaliknya, Ramadhan yang disambut dengan kelapangan hati akan melahirkan kesalehan yang utuh, menghubungkan ibadah ritual dengan etika sosial. Pada akhirnya, memaafkan bukan hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan diri sendiri. Dari situlah Ramadhan benar-benar menjadi bulan pembaruan spiritual dan rekonstruksi sosial, menuju masyarakat yang lebih beradab, damai, dan berkeadilan.