April 3, 2026

Muhammad Radhi : Guru Biologi Cerahkan Siswa MAN Kota Sawahlunto dengan Taushiyahnya Bertajuk Proses Penciptaan Manusia

IMG-20260224-WA0000

Sawahlunto, Suara Anak Negeri–Suasana halaman MAN Kota Sawahlunto pada Senin pagi, 23 Februari 2026 M bertepatan dengan 5 Ramadhan 1447 H, terasa berbeda. Mentari Ramadhan memancar lembut, menyinari wajah-wajah penuh harap dari 390 siswa kelas X, XI, dan XII yang duduk bersaf rapi. Momentum pembukaan Pembelajaran Ramadhan 1447 H itu menghadirkan sosok yang tak asing sekaligus inspiratif: Muhammad Radhi, guru Biologi senior yang juga dikenal sebagai ustadz ternama di Kota Sawahlunto.

Kegiatan yang sarat makna tersebut dihadiri oleh Kepala Madrasah, Dafril, Tuanku Bandaro, Kaur TU Yurmaini, unsur pimpinan Oky Loly Weny, Syafri Ervandi, Husein Alhafezz, Nofri Hendra, Bendahara Junnidar, Pembina OSIM Femita Maya Dona, seluruh GTK, serta ratusan siswa yang mengikuti dengan penuh antusias.

Dengan gaya khasnya yang tenang, runtut, dan berwibawa, Muhammad Radhi memulai taushiyah bertema Tauhid dan Sains: Proses Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Ilmu Biologi. Suaranya mengalun teduh, namun sarat ketegasan ilmiah dan kedalaman iman.

Ia mengawali dengan mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun (23): 12–14 yang menjelaskan tahapan penciptaan manusia dari saripati tanah, menjadi nutfah, ‘alaqah, mudghah, tulang-belulang, hingga dibungkus daging dan menjadi makhluk sempurna.

“Dalam biologi modern,” jelasnya,“kita mengenal fase zigot, embrio, hingga janin. Al-Qur’an telah mengabarkan tahapan itu jauh sebelum mikroskop ditemukan. Ini bukan sekadar teks suci, tetapi petunjuk yang mengajak manusia berpikir dan bertafakkur.”

Ia kemudian merujuk Surah Al-Hajj (22): 5 yang menegaskan fase perkembangan embrio sebagai bukti kekuasaan Allah. Dengan bahasa ilmiah yang mudah dipahami, ia menjembatani istilah ‘alaqah dengan fase implantasi embrio pada dinding rahim, serta mudghah dengan pembentukan jaringan awal tubuh manusia.
Tak berhenti di sana, Muhammad Radhi melanjutkan dengan Surah As-Sajdah (32): 7–9 yang menyinggung asal penciptaan manusia pertama dari tanah dan keturunannya dari saripati mani. Ia menekankan bahwa sains dan tauhid bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua cahaya yang saling menguatkan.

Surah Al-Insan (76): 2 dan At-Tariq (86): 6–7 turut memperkaya pemaparannya. Ia mengajak siswa memahami bahwa manusia bukan sekadar kumpulan sel biologis, tetapi makhluk mulia yang diciptakan dengan tujuan dan amanah.
“Jika asal kita setetes mani,” ucapnya lirih namun menghunjam, “maka tidak ada ruang bagi kesombongan. Ilmu seharusnya menumbuhkan kerendahan hati dan rasa syukur.”

Seluruh siswa mendengar dengan khusyu”, penuh semangat, dan larut dalam tafakkur. Tak sedikit yang mencatat dengan tekun, sebagian lainnya menatap penuh takzim, seolah menemukan jembatan antara pelajaran Biologi di kelas dan kebesaran Ilahi yang selama ini mereka baca dalam kitab suci.

Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril, Tuanku Bandaro, mengapresiasi tinggi taushiyah yang disampaikan. Menurutnya, integrasi antara sains dan nilai-nilai tauhid adalah ruh pendidikan madrasah.
“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa madrasah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga transformasi iman dan karakter. Apa yang disampaikan Ustadz Muhammad Radhi hari ini adalah contoh nyata pembelajaran bermakna ilmiah, spiritual, dan kontekstual,”ujarnya.

Dafril menambahkan bahwa pendekatan seperti ini sangat relevan dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara akidah dan berakhlak mulia.

“Kami ingin siswa MAN Kota Sawahlunto menjadi generasi ulul albab yang berpikir mendalam, berdzikir dalam setiap langkah, dan mampu menjadikan sains sebagai jalan mengenal kebesaran Allah,”tegasnya.
Ia berharap momentum Ramadhan 1447 H ini menjadi titik tolak penguatan karakter dan spiritualitas seluruh siswa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut, agar madrasah benar-benar melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, luhur dalam budi pekerti, dan kokoh dalam tauhid.”

Pagi itu, di bawah langit Sawahlunto yang cerah, ilmu dan iman bertaut dalam harmoni. Taushiyah Muhammad Radhi bukan sekadar ceramah pembuka Ramadhan, melainkan suluh yang menyalakan kesadaran: bahwa setiap manusia adalah ayat hidup tanda kebesaran Allah yang diciptakan bukan tanpa makna.

Kontributor : Nofri Hendra
Editor : Dafril, Tuanku Bandaro