April 4, 2026

Plt. Kakanwil Kemenag Sumbar H. Edison : Driver yang Tak Pernah Tidur, Energi Kepemimpinan Madrasah dalam Mengaktualisasikan Protas Kemenag

Dibalik terangnya arahan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi Sumatra Barat pada Pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) dan Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) di MAN 1 Kabupaten Solok Selatan, Senin malam, 20 Oktober 2025 terselip kalimat nyentrik ”Driver” yang direlevamsikan dengan kepemimpinan madtasah.

Kalimat itu menggelitik untuk dituangkan dalam sebuah analisa yang tajam dalam artikel

1. Ketika Kepemimpinan Menjadi Inspirasi

Di bawah langit Solok Selatan yang teduh, di aula MAN 1 yang menjadi saksi pertemuan para kepala Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Sumatera Barat, kita berbicara tentang satu kata kunci yang menjadi nyawa perubahan: kepemimpinan.

Dalam setiap roda kemajuan madrasah, ada seorang pengemudi yang tak pernah benar-benar berhenti.

Ia menatap jauh ke depan, melewati kabut tantangan dan jalan-jalan yang kadang belum berpeta.

Dialah kepala madrasah driver yang tak pernah tidur, bukan karena ia tak mengenal lelah, tetapi karena cintanya kepada perubahan terlalu besar untuk diredam istirahat.

Ia menjemput pagi dengan gagasan, menutup malam dengan doa.

Ia tidak hanya mengelola, tetapi menggerakkan. Tidak hanya memerintah, tetapi menyala dalam teladan.

Kepala madrasah adalah denyut yang menjaga irama pendidikan Islam agar tetap hidup, hangat, dan berdaya di tengah zaman yang cepat berubah.

Mereka adalah pemimpin yang tidak sekadar hadir di ruang kebijakan, tetapi hidup di denyut realitas: menyalakan semangat guru, menuntun siswa, dan menjembatani masyarakat dengan cahaya ilmu.

2. Protas Kemenag: Kompas yang Menuntun Jalan

Dalam forum Rakor KKMA dan KKMI ini, kita kembali menatap arah besar kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia yang kini telah menanam delapan bintang di langit kebijakan nasional delapan Program Prioritas (Protas) yang menjadi kompas perjalanan lembaga keagamaan menuju masa depan.

Namun bintang tidak akan bermakna tanpa pengembara yang membaca cahayanya.

Di titik inilah kepala madrasah berperan: menafsir cahaya kebijakan menjadi langkah nyata di bumi pendidikan.

Protas bukan sekadar instruksi, ia adalah ruh gerak perubahan nasional:

dari penguatan moderasi beragama hingga digitalisasi layanan,

dari pemberdayaan SDM hingga revitalisasi lembaga pendidikan.

Setiap butirnya menunggu disentuh oleh kepemimpinan yang sadar arah dan rendah hati mendengar.

Kepala madrasah menjadi tangan yang menulis visi itu dalam kenyataan.

Di ruang-ruang sederhana, mereka menyalakan gerakan kecil yang berdampak besar:

sampah dikelola dengan bijak, literasi ditumbuhkan dengan cinta, guru berjejaring lintas bidang studi, dan siswa diberdayakan melalui Forum OSIM Sumatera Barat.

Dari madrasah kecil di pelosok Bukittinggi, Pasaman, Limapuluh Kota, hingga ujung Selatan Solok Selatan lahirlah denyut perubahan yang menggetarkan se-Sumatera Barat.

Mereka menjadikan Protas Kemenag bukan sekadar kebijakan di kertas, tetapi napas yang menghidupi gerak madrasah dari hari ke hari.

3. Kecil Tapi Berdampak : Filosofi dari Akar

Tidak ada perubahan besar tanpa langkah kecil yang dikerjakan dengan cinta.

Filosofi“kecil tapi berdampak”bukan sekadar semboyan, ia adalah filsafat kepemimpinan berbasis makna.

Dalam dunia yang sering memuja skala dan angka, madrasah mengajarkan makna dari kesederhanaan:

bahwa setetes keikhlasan bisa menggerakkan lautan kebaikan.

Dari ruang kelas yang mungil, lahir gagasan besar tentang kemandirian energi, pengelolaan lingkungan, dan ekonomi kreatif madrasah.

Dari kegiatan siswa yang sederhana, tumbuh akar-akar kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

Setiap proyek kecil di madrasah adalah titik cahaya dalam gugus besar peradaban bangsa.

Madrasah tak mencari gemuruh pujian; cukup melihat anak-anaknya tumbuh menjadi insan berakhlak dan berilmu, di sanalah keberhasilan sejati bermakna.

5. OSIM : Madrasah Kepemimpinan dari Bangku Siswa

Dalam sambutan di Rakor KKMA dan KKMI di MAN 1 Solok Selatan yang dihadiri ratusan kepala madrasah dan guru, saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rapat koordinasi saya melihat denyut kehidupan baru dalam tubuh pendidikan kita: pemberdayaan siswa melalui Forum OSIM Sumatera Barat.

OSIM bukan lagi organisasi seremonial, melainkan taman tumbuhnya pemimpin masa depan.

Di sana siswa belajar bukan hanya memimpin, tetapi memahami bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab, bukan kehormatan.

Mereka berlatih mendengar sebelum berbicara, melayani sebelum diperintah.

Ketika OSIM diberdayakan, sejatinya kita sedang menanam bibit-bibit kepemimpinan bangsa.

Karena tidak ada masa depan madrasah tanpa murid yang berani bermimpi, dan tidak ada bangsa besar tanpa generasi muda yang terbiasa berorganisasi dengan nilai dan moralitas.

Forum OSIM Sumatera Barat telah membuktikan, dari madrasah tumbuhlah pemimpin yang rendah hati, namun berwawasan luas siap menjadi duta Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah dunia yang terus berubah.

5. Perkuat kolaborasi MGMP : Jembatan Intelektual

Dalam sistem yang kerap memisahkan, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) lintas bidang studi hadir sebagai jembatan ilmu dan nurani.

Guru tidak lagi berdiri di menara masing-masing, tetapi duduk dalam satu lingkaran dialog.

Dari situ lahir kolaborasi, bukan kompetisi; sinergi, bukan sekat.

MGMP adalah ruang bagi guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, untuk menulis, meneliti, dan berbagi praktik baik yang menumbuhkan kualitas pembelajaran di madrasah.

Dari mereka, lahir generasi siswa yang tidak hanya cerdas akal, tetapi juga cerdas rasa dan sikap.

MGMP menjelma menjadi jembatan spiritual intelektual menghubungkan pengetahuan dengan nilai, menguatkan karakter dengan kebersamaan.

6. Pendidikan Ramah, Unggul, dan Terintegrasi

Madrasah sejati adalah rumah bagi setiap jiwa yang ingin tumbuh dengan damai.

Ia ramah bagi yang belajar, hangat bagi yang bertanya, dan terbuka bagi yang ingin mencari makna.

Di situlah pendidikan unggul dan terintegrasi dibangun: bukan dari kurikulum kaku, tetapi dari kultur kasih, akhlak, dan kebersamaan.

Kita tidak akan sukses sendiri, karena pendidikan adalah orkestra.

Semua alat harus berbunyi dalam harmoni: kepala madrasah, guru, siswa, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Di forum Rakor KKMA dan KKMI yang penuh semangat kebersamaan ini, harmoni itu terasa nyata.

Bersama-sama, kita menulis partitur kemajuan di lembaran sejarah pendidikan Indonesia, dengan madrasah sebagai nadinya.

7. Penutup: Kuat Meski Tak Pernah Tidur

Kepemimpinan sejati tidak mencari tepuk tangan, tetapi meninggalkan jejak. Ia bukan tentang nama di papan, tetapi tentang perubahan yang terus hidup setelah ia pergi.

Kepala madrasah adalah sosok yang tidak pernah benar-benar tidur, karena dalam setiap istirahatnya, pikirannya tetap berputar tentang masa depan anak-anak bangsa.

Mereka menjemput kebijakan nasional dengan langkah lokal, menafsir visi Kemenag dengan cinta di lapangan, dan menulis sejarah dengan tinta keikhlasan.

Selama masih ada kepala madrasah yang berpikir di kala orang lain berhenti,

selama masih ada yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan suci menuju peradaban,

maka madrasah akan terus melaju menjadi mercusuar nilai, ilmu, dan kemanusiaan.

Dan dari Solok Selatan yang teduh ini, semangat itu kembali menyala mengalir dari aula MAN 1 ke seluruh madrasah di Sumatera Barat, meneguhkan pesan abadi:

bahwa pemimpin sejati boleh lelah, tapi tak akan pernah berhenti bermimpi.

Editor : Dafril, Tuanku Bandaro