April 5, 2026

Yusufachmad Bilintention

Dalam sunyi yang merangkak dari lorong waktu, lahirlah sebuah puisi yang belum genap dewasa. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan napas jiwa yang mengembara. Puisiku ini bukan hanya tentang bait dan rima, tapi tentang perjalanan makna, persahabatan lintas negeri, dan harapan yang menyalakan cahaya di cakrawala Nusantara. Ia menyemarakkan acara lomba puisi “Tiga Negara.”

Puisiku—baru seumur jagung, tumbuh di ladang kata yang masih mentah, melaju, tak kenal mundur atau lelah, mungkin karena nujum yang diam dalam pasrah, atau sabda guru yang telah menanam hikmah.

Ia masih belia, jejaknya pun sederhana, namun telah terbang ke Ranah Padang nan mulia, bersua sahabat dari Palembang yang bersahaja, dikawal ilmuwan dari puncak Jaya Wijaya.

Ia tak menyangka, kok bisa begini: menyeruput teh talua di pagi yang sunyi, menyusuri Musi, denyut jiwa Nusantara, Binsari bukit berseru lirih, lalu meninggi: sahabat tak kenal untung rugi.

Ungkapan itu pernah lahir dalam bukunya, menjelma mimpi dalam kata dan cita, tuk berjumpa Datuk, penggagas kemodernan Malaysia, atau bersinggah ke nisan sang mentor bijaksana, di Singapura, di tanah Malaya.

Puisiku terus mengukir, tanpa henti, sambil zikir; baginya: bila bersatu, Nusantara pun hadir. Bersahabat adalah cahaya puisi yang menyinar— entah tetangga negara atau penjelajah pikir, mungkin sahabat ASEAN yang penyair.

Merajut karya, karsa, dan rasa selaksa, Nyamplungan, kampungnya di Surabaya, adalah wadah jejak kata yang membolang, mencari pena karib yang tak tunduk durjana.

Sahabat yang hidup hingga akhirat, tak cuma dunia, menjadi cahaya dalam lorong makna. Ia percaya: menang bukan soal gemilang, melainkan suka-duka yang ditapaki bersama, dalam dunia yang tak selalu terang.

Puisiku membolang, menyalakan makna, mengajak karib pena berselancar bagi Nusantara yang terus berjaya.

28 Agustus 2025

Puisiku bukan sekadar perjalanan kata, ia adalah pelayaran jiwa yang tak mengenal batas. Ia membolang, menembus kabut zaman, menyapa sahabat di seberang lautan, dan menyalakan lentera harapan. Semoga bait-bait ini menjadi jembatan rasa, pengikat asa, dan pelita bagi Nusantara yang terus bersinar.