“Syair Cinta di Antara Dua Negeri”
Oleh: Rizal Tanjung
–
Malam turun perlahan
seperti kelambu langit yang dibentangkan dewa-dewa perasaan,
dan di bawahnya,
dua kekasih duduk dalam diam yang paling bersuara—
diam yang bernapas dari rindu,
diam yang tumbuh dari akar dua tanah,
dari dua negeri
yang dilahirkan oleh puisi yang berbeda
namun bermuara pada mata yang saling menatap.
Ia datang dari ranah yang permai,
di mana bukit berselimut kabut,
dan air terjun menuliskan pantun
di bebatuan yang mengaji waktu.
Ia membawa suara saluang
dan harum daun sirih yang dironce dengan adat,
dan di dadanya,
berdebar dendang leluhur
yang selalu menasihati:
Cinto indak baranti sapanjang jalan pulang…
Ia, perempuan dari Lembah Yangtze,
rambutnya mengalir seperti tinta lukisan Dinasti Tang,
gerak tubuhnya adalah kaligrafi
yang menari di udara senja.
Ia bicara dengan nada musim semi,
dan tertawanya seperti kelopak sakura
yang jatuh tanpa gemetar
ke atas teko keramik dari Hangzhou.
Ia menyambut lelaki itu
dengan segelas teh dan sepotong senyuman
yang lebih lembut dari sutra Suzhou,
lebih hangat dari lentera merah
yang menyala di jendela pagoda cinta.
“Apakah kau percaya pada takdir langit?”
tanya sang lelaki Minangkabau,
dengan suara yang mengandung sunyi rimba,
dengan mata yang telah jauh berjalan
dari Muaro ke Hangzhou,
dari rumah gadang ke taman penuh bunga prunus.
“Apakah kau percaya bahwa
dua jiwa dari dua huruf yang berbeda
bisa disatukan dalam satu bait puisi?”
Perempuan itu tersenyum,
dan senyumnya adalah jembatan batu
yang menghubungkan dua gunung tak bersaudara,
senyumnya adalah perahu bambu
yang berlayar di sungai Lugu
menuju dermaga yang belum punya nama.
“Jika takdir adalah angin,
maka cinta adalah layarnya,”
katanya,
“dan malam ini, kita sedang berlayar
di samudera yang bernama janji.”
Mereka bersulang,
dengan cawan yang bukan hanya berisi teh,
tetapi juga air mata zaman,
dan harapan masa depan.
Cawan yang dibuat dari tanah dua negara,
dicetak dengan api cinta,
dan diberi cap:
Cinta lintas adat, lintas aksara, lintas sejarah.
Langit menjadi altar.
Purnama menjadi imam.
Dan dedaunan menjadi para saksi
dari ijab yang tak diucap,
tetapi didengar oleh angin,
dan dicatat oleh waktu di buku bambu keabadian.
“Aku akan menjahitkan rumah gadang di halaman hatimu,”
bisik sang lelaki,
“dan memahat harimu dengan ukiran Minang
agar cinta ini tak hanya tinggal di rembulan,
tetapi hidup di dapur, di sumur,
di pelataran anak-anak kita kelak.”
“Aku akan menanam pohon plum
di tengah padang ilalangmu,” jawabnya,
“dan membiarkan ranting-rantingnya
menyanyikan sajak-sajak Tiongkok kuno
sambil menggoyang atap rumahmu
dengan angin penuh kedamaian.”
Mereka tak lagi dua.
Mereka menjadi satu puisi
yang ditulis dengan dua tinta:
tinta emas dari Ukiran Pagaruyung
dan tinta perak dari Kertas Beras Dinasti Song.
Mereka menjadi satu musik
yang dimainkan oleh saluang dan guzheng
dalam nada yang saling menyapa,
seperti rindu dan pertemuan,
seperti Timur dan Barat
yang tak pernah benar-benar berpisah
bila cinta menjembatani perbedaan.
Maka biarlah malam ini dikenang:
sebagai malam di mana adat Minang mencium harum peony,
dan langit Tiongkok
menerima salam dari kabut Bukit Marapi.
Biarlah sejarah menulis nama mereka
dengan aksara campur:
huruf Han di dada kiri,
aksara Arab Melayu di jari kanan,
dan cinta…
terukir di langit,
tak bisa dibaca siapa-siapa,
kecuali mereka
yang pernah mencintai seseorang
di tanah yang bukan tanahnya—
dan menjadikannya rumah paling abadi
dalam syair paling sunyi.
Sumatera Barat,2025