April 5, 2026

Talenta Muda Bersinar, Aisyah Vine Rianda Ukir Prestasi di Lomba Cipta Puisi Sumatera Barat

IMG-20260404-WA0026(1)

SAWAHLUNTO (Humas) 4 April 2026

Dalam sunyi yang kerap melahirkan kata, dan dalam kata yang kerap menyimpan luka serta doa, nama Aisyah Vine Rianda perlahan menjelma menjadi gema yang menggetarkan. Siswi MAN Kota Sawahlunto itu berhasil meraih Juara Favorit 2 dalam Lomba Cipta Puisi antar SMP/MTs/SMA/MA/SMK tingkat Sumatera Barat, sebuah ajang bergengsi yang diikuti oleh 1.743 peserta dari seluruh penjuru ranah Minang.

Puisinya yang berjudul “Di Balik Indahnya Ramadhan” tidak sekadar rangkaian diksi, melainkan lorong sunyi yang menuntun pembaca menyusuri makna tentang rindu yang ditahan, tentang lapar yang mendidik jiwa, dan tentang cahaya yang justru lahir dari keheningan. Dalam bait-baitnya, Ramadhan tidak hanya indah di permukaan, tetapi juga menyimpan getir yang menguatkan dan luka yang menyucikan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bunda Literasi Sumatera Barat, Ummi Hj. Harnely Bahar Mahyeldi, pada Jumat malam, 03 April 2026, di Aula Gubernuran Sumbar. Dalam suasana khidmat yang diselimuti haru, Aisyah menerima sertifikat, trofi, dan tabanas simbol sederhana dari kerja keras yang berakar dalam ketekunan.

Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam. Ia menuturkan bahwa capaian ini bukan hanya milik Aisyah semata, tetapi juga buah dari bimbingan tulus para guru serta doa yang tak putus dari keluarga besar madrasah.

“Selamat untuk Aisyah. Ini adalah bukti bahwa ketekunan dan keikhlasan akan selalu menemukan jalannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada guru pelatih dan pendamping hebat  Rita Elmiza dan Dilla, serta seluruh GTK dan siswa yang terus mendoakan dan mendukung,” ujar Dafril

Di balik gemerlap penghargaan itu, tersimpan kisah panjang tentang malam-malam yang dipeluk sunyi, tentang kata-kata yang lahir dari perenungan, dan tentang keyakinan bahwa setiap huruf memiliki jiwa. Aisyah telah membuktikan bahwa sastra bukan sekadar seni merangkai kata, tetapi juga cara manusia menyentuh yang tak terlihat—dan menghidupkan yang nyaris terlupa.