Tingkatkan Rasa Cinta Al-Qur’an : GTK dan Siswa MAN Kota Sawahlunto Lantunkan Surat Ar-Rahman
Sawahlunto, Suara Anak Negeri–Fajar Ramadhan 1447 Hijriah merekah dengan cahaya yang berbeda di halaman MAN Kota Sawahlunto.
Sebanyak 427 Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) bersama siswa-siswi kelas X, XI, dan XII melantunkan Surah Ar-Rahman secara serentak, Senin (23/2/2026) bertepatan dengan 5 Ramadhan 1447 H.
Ayat-ayat suci menggema, menyatu dalam harmoni yang menggetarkan jiwa. Di bawah langit Sawahlunto yang teduh, lantunan ”Fabiayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban” berulang-ulang mengalun, seakan menjadi pengingat abadi atas nikmat Tuhan yang tak terhitung.
Kegiatan tadarus dan tahsin Al-Qur’an tersebut dipimpin oleh Kepala Urusan Tata Usaha, Yurmaini, yang juga dikenal sebagai qari’ah bersuara merdu. Hadir dalam momentum penuh berkah itu Kepala Madrasah, Dafril, Tuanku Bandaro, Kaur TU Yurmaini, unsur pimpinan Oky Loly Weny, Syafri Ervandi, Husein Al-Hafezz, Nofri Hendra, Pembina OSIM Femita Maya Dona, para guru, tenaga kependidikan, serta 390 siswa.
Sejak gema ayat pertama dilafalkan, suasana lapangan madrasah berubah menjadi majelis dzikir yang khusyuk. Wajah-wajah muda tampak teduh, mata terpejam dalam penghayatan, sementara para guru duduk dengan hati yang sama-sama terpaut pada Kalam Ilahi. Tidak sekadar membaca, mereka menyelami makna; tidak sekadar melafalkan, mereka merasakan getar cinta kepada Al-Qur’an.
Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril, Tuanku Bandaro, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadhan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan manusia kembali pada fitrahnya. Menurutnya, pembelajaran sejati bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga penanaman nilai dan pembentukan karakter Qur’ani.
“Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya peradaban. Surah Ar-Rahman mengajarkan kita tentang kasih sayang Allah yang meliputi seluruh alam. Jika ayat-ayat ini kita resapi, maka akan tumbuh rasa syukur, disiplin, dan tanggung jawab sebagai hamba dan sebagai generasi penerus bangsa,” ungkapnya dengan penuh keteduhan.
Tuanku yang sapaan akrabnya berharap kegiatan tadarus dan tahsin bersama ini tidak berhenti sebagai seremoni Ramadhan, melainkan menjadi budaya madrasah yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang menempatkan Al-Qur’an sebagai ruh pembelajaran.
“Ketika guru dan siswa berdiri sejajar melantunkan ayat suci, di situlah nilai kebersamaan, keteladanan, dan cinta ilmu menyatu. Inilah kekuatan madrasah: ilmu yang berakar pada iman,” tuturnya.
Momentum tersebut sekaligus menjadi penegasan identitas madrasah sebagai benteng moral dan pusat pembinaan generasi berakhlak mulia. Di tengah arus modernitas yang kerap menggoda nilai, lantunan Surah Ar-Rahman pagi itu menjelma menjadi oase spiritual menyegarkan hati, menguatkan tekad, dan meneguhkan komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Ramadhan baru saja bermula, namun getaran cintanya telah terasa begitu nyata di halaman MAN Kota Sawahlunto. Dari kota kecil yang sarat sejarah itu, ayat-ayat langit kembali disemai menumbuhkan harapan, memelihara iman, dan meneguhkan langkah menuju generasi Qur’ani yang berilmu, beradab, dan berkemajuan.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : Dafril, Tuanku Bandaro