ZIARAH KUBRO : MEMBANGUN NILAI SPIRITUAL KITA
Oleh Anto Narasoma
ZIARAH kubro, merupakan aktivitas spritual yang selaku digelar masyarakat Palembang dan sekitarnya setiap tahun.
Ziarah Kubro ini merupakan kegiatan spiritual yang dilakukan Sultan Palembang Darussalam, para ulama, serta masyarakat kota ini dan sekitarnya.
Ziarah itu dilakukan ke tanah pemakaman ungkonan Sabokkingking, atau ke pemakaman lainnya yang mengandung nilai-nilai kesejarahan masyarakat setempat.
Biasanya, ziarah kubro itu dilakukan di Makam Sultan Mahmud Badaruddin I, Makam Habib Abdullah bin Idrus Shahab, Makam Habib Aqil bin Yahya, Makam Kiai Marogan, Kambang Koci, Kawah Tekurep dan Telaga Swidak.
Saat kegiatan, suasananya begitu ramai, semarak, dan mariah dengan ucapan-ucapan spiritual yang menggetarkan jiwa kita.
Biasanya, dalam ziarah kubro itu dihadiri tokoh agama, seperti ulama, habib, kiai dari berbagai daerah, dan para ulama di Indonesia dan mancanegara.
Bahkan puluhan ribu peziarah dari berbagai kalangan serta pelajar dan masyarakat lokal. Dari bentuk silaturahim dan penghormatan, tokoh-tokoh pemerintahan terkadang ikut menyemarakkan suasana.
Yang membuat acara ziarah kubro itu semakin bernilai sebagai tradisi masyarakat di Kota Palembang dan sekitarnya adalah hadirnya anggota keluarga kerajaan dan bangsawan dari Malaysia, Sungapura, Brunei Darussalam dan Yaman.
Tradisi tahunan ini sangat membanggakan ritualitas wong Plembang sebagai masyarakat agamis.
Seperti lazimnya, beberapa kawasan (kuburan) yang dikunjungi peserta antara lain, Makam Ki Gese Ing Suro di Kawah Tekurep Seberang Ulu I, merupakan makam pendiri Kesultanan Palembang Darussalam.
Kemudian, ke makam Habib Aqil bin Yahya yang terletak di Kelurahan 13 Ulu Palembang. Habib Aqil bin Yahya adalah seorang tokoh ulama terkemuka yang sangat dihormati.
Ziarah kubro kemudian berlanjut ke wilayah Kambang Koci 5 Ilir yang kerapkali dikunjungi masyarakat.
Tak hanya itu, tradisi spiritual ini juga terkadang berlanjut ke Pulau Kemaro yang memiliki sejarah kuat dengan legenda percintaan Tan Bun Ann dan Siti Fatimah.
Tradisi ziarah kubro ini dilakukan pada akhir bulan Sya’ban atau satu minggu sebelum Ramadan tiba. Kegiatan spiritual ini merupakan corak ziarah besar yang dilakukan secara bersama-sama.
Dalam tradisi itu, peserta mendoakan para ulama dan wali keagamaan. Mereka berdoa dan memohon keberkahan dan syafaat dari Allah SWT.
Ziarah kubro itu merupakan momentum untuk merenungkan diri, bertaubat atas segala dosa yang dilakukan secara sengaja atau terlakukan secara tak sengaja, sehingga dapat memperbaiki akhlak dan perilaku diri agar menjadi lebih baik.
Jika ditelaah secara spirutual, ziarah kubro ini merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada para ulama dan para wali yang telah berjasa membimbing umat dalam menyebarkan agama Islam.
Dari sisi kemasyarakatan, ziarah kubro ini merupakan corak ajang pertemuan dan silaturahim bagi umat Islam dari berbagai daerah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Dalam membaca surat Yasin dan tahlilan pada acara itu, intinya untuk memgingat kefanaan hidup dan betapa pentingnya untuk mempersiapkan diri menghadapi panggilan Ilahi untuk menjelajah ke akhirat nanti.
Kesadaran ini merupakan bentuk perbuatan kasih sayang dan kepedulian kita terhadap orang yang sudah meninggal. Bahkan dalam ziarah kubro tersebut para peserta mendoakan mereka untuk mendapat rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Di dalam nilai-nilai tradisi spiritual itu dapat membantu kita untuk lebih fokus pada tujuan hidup yang sebenarnya, sehingga dapat meningkatkan kesadaran spritual untuk menghadapi batas usia kehidupan kita. (*)
Penulis adalah sastrawan, seniman, dan jurnalis