February 20, 2026
Copilot_20260216_073813

Yusufachmad Bilintention

Aku menghindar, bukan karena gentar,
Kupendam rasa, kupejamkan mata.
Bukan sekadar darah yang berceceran,
Namun peluh derita yang tak sanggup kutatap.

Gambar, cerita, nasib Palestina,
Terhampar di layar mata.
Sebuah kisah bukan hanya duka,
Melainkan gema perjuangan yang tak padam.

Aku bukan tanpa rasa, bukan lemah tanpa daya.
Marahku bergejolak di relung jiwa,
Di tanah kurma, unta, rumah yang dijarah,
Palestina—sejarah yang tak pernah menyerah.

Mereka tak gentar kehilangan,
Mata, kaki, bahkan keluarga tersayang.
Bukan jeritan kosong yang terdengar,
Namun batu dilempar, tekad menerjang,
Dan luka diterima dengan sabar.

Kitab suci yang mereka genggam,
Iman yang terus menguatkan,
Nyali yang tak pernah padam,
Meski peluru memburu nyawa.

Aku bukan rapuh, bukan sekadar marah.
Yakinku tegar di tiap sujud,
Doa kuhela dalam pasrah,
Tak hanya sekali, tak hanya lima kali,
Namun dalam setiap kedipan mata ini.

Jangan sangka perjuangan ini sia-sia.
Kemenangan semu hanya sesaat,
Namun tekad yang terpatri,
Segagah tank yang menyerang,
Sedahsyat rudal yang menghadang.

Di tengah badai, kuingat masa lalu,
Nenek moyang menanam juang di jiwaku.
Peluh mereka tak hilang ditelan waktu,
Jejak mereka terpatri di setiap langkahku.

Palestina—penjaga kata, penyandang sabda Ilahi.
Tak terganti meski hanya pasrah diri.
Doa mereka menjelma cahaya,
Mengguncang hati si durjana.

Surabaya, 18 Januari 2025

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly