April 2, 2026
Copilot_20260326_061034

Yusufachmad Bilintentio

Gelas kaca kosong,
tergeletak di meja warung sore.
Ampas putih mengering,
lengket, menghitam di dasar kenangan.

Belatung merayap pelan,
seperti waktu yang tak lagi dipanggil.
Suara motor berlalu,
meninggalkan debu dan sisa tawa.

Degan pernah segar,
pernah jadi pesta kecil di siang bolong.
Di hari-hari menjelang lebaran,
ia jadi pelipur dahaga,
teman ngobrol di bawah pohon rindang.

Kini: sisa.
Tangan enggan menyentuh,
mata enggan mengingat.
Tubuh kecil menunggu,
seperti orang yang tak lagi ditanya kabar.

Usai Idulfitri,
meja warung tak lagi ramai.
Tak ada tawa anak-anak,
tak ada obrolan tentang mudik dan maaf.
Yang tersisa hanya ampas,
dan sunyi yang perlahan menua.

Ampas degan,
seperti kenangan yang tak sempat dibersihkan.
Ia diam,
menyimpan sunyi di antara retak-retak plastik.
Seperti hati yang belum sepenuhnya pulih,
dari rindu yang tak sempat terucap.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly