April 4, 2026

Oleh: Anna Keiko
Terjemahan: Rizal Tanjung

I. Kabut dan Air, Pertemuan Pertama

Riak kabut diam menyimpan mimpi lama,
Bunga persik dari dua tepian gugur dibawa angin rindu.
Engkau datang dari selatan gunung hujan,
Sedang aku bermukim di timur danau bulan.

Pertemuan pertama, secangkir teh belum sempat dingin,
Tapi pelita hati telah berpadu dalam satu cawan.
Tiupan seruling menjangkau pulau kabut yang jauh,
Kita mabuk bersama dalam mimpi tanah surgawi.

II. Surat Rindu kepada Bulan

Lilin perak remang menerangi bantal dan surat,
Seribu kata ingin kutumpahkan, terkurung dalam secarik dingin.
Bulan terbit di antara wutong, namun engkau tiada.
Yang menetes dari ujung pena adalah tatapmu yang tertahan.

III. Bayang Pohon Willow Memisah Langit dan Bumi

Air semi baru mengalir, bayang willow memanjang,
Angin membawa lagu perpisahan ke dalam cahaya senja.
Engkau berjalan, aku tinggal — jalan kita terpaut ujung dunia,
Namun cinta dari dua negeri, satu daun pun harumnya serupa.

IV. Lentera Sunyi Seperti Mimpi

Lentera sunyi tak bersuara menerangi tirai hampa,
Dalam mimpi, wajah lama datang kembali.
Bimasakti membisu, tiada kabar darimu,
Hanya dupa cendana menemaniku dalam dingin malam.

V. Berbagi Salju dari Seribu Li Jauh

Salju dari seribu li jauh menyusup ke dalam mimpiku,
Harumnya dingin di jubah ini seolah dipakai bersamamu.
Es menggantung di atap seperti tetes air mata,
Tahukah engkau, malam ini kau pun menggigil seperti aku?

VI. Seruling Angin di Ujung Mimpi

Angin bertiup dari jendela barat, malam belum jua berakhir,
Di ujung mimpi terdengar lagi nada seruling lama.
Ingin terjaga namun tetap tertidur, hati terasa simpul,
Siapakah yang dari seberang waktu meniup lara hingga usai?

VII. Suara Air di Bawah Jembatan Mengalir Pelan

Suara sungai di bawah jembatan temani malam yang tak kunjung tidur,
Dalam mimpi samar, kulihat engkau di hadapan.
Bayang bulan miring di atas daun-daun,
Namun yang menulis rinduku hanyalah aliran air.

VIII. Teh Sudah Dingin, Kau Tak Jua Pulang

Secangkir teh telah dingin, tak seorang pun bertanya,
Surat-surat di atas meja menemani senja.
Di luar tirai, angin berhembus menggugurkan daun,
Kapankah engkau kembali, menerangi pintu lama ini?

IX. Kertas Merah dan Bayang Bunga Plum

Kertas merah separuh terlipat, harumnya masih lekat,
Bayang bunga plum jatuh di pinggir jendela.
Tinta belum kering, namun engkau telah pergi,
Yang tersisa hanya aroma, memeluk mimpiku tiap malam.

X. Mimpi Terputus di Menara Barat dan Bulan

Di menara barat aku bersandar menanti kepulangan angsa,
Mimpi terputus di tengah, bulan melengkung bagai busur.
Siapa tahu dua hati terikat lintas negeri,
Namun malam indah ini hanya mengajarku merintih pada angin gugur.

XI. Surat Angsa Melintasi Pegunungan dan Sungai

Surat angsa tiba, melintasi ribuan puncak,
Meski tinta menipis, maknanya semakin dalam.
Pegunungan dan sungai menghalang bayangmu,
Yang tersisa hanyalah rahasia hati yang kututup dalam syair.

XII. Lentera Musim Gugur Menyinari Wajah Lama

Lentera musim gugur bergoyang, menyinari wajah lama,
Senyummu seperti dulu, menghangatkan hatiku.
Suara daun gugur tak mampu mengakhiri rinduku,
Di halaman bunga kekwa, mimpiku kian dalam.

XIII. Suara Hujan Menulis Dukacita Perpisahan

Gerimis di luar tirai menulis puisi perpisahan,
Setiap huruf seperti air mata, membasahi bajuku.
Sejak kau pergi, tiada lagi malam yang baik,
Hanya suara hujan menemani kesendirianku.

XIV. Salju Jatuh Perlahan di Senja Kuning

Senja kekuningan bersalju, jatuh perlahan tanpa suara,
Di dalam tirai, seseorang menyandar di jendela.
Kenangan seperti kapas membelit ujung jari,
Mimpi lama sulit dilupakan, lebih sulit ditanggung.

XV. Kertas Wangi Seperti Ucapan

Kertas wangi belum terbuka, hati telah lebih dulu pecah,
Di antara huruf-huruf, air mata lebih dulu bicara.
Surat yang sering kutulis dalam mimpi tak pernah terkirim,
Hanya aroma kertas yang kupercayakan pada awan untuk pulang.

XVI. Perahu Anggrek Pulang Menyeberang Air

Perahu kecil berbayang anggrek melaju menyeberang gelombang,
Dua sisi tepi, dua hati dalam kejernihan masing-masing.
Saat pulang tanpa kata, air musim gugur begitu dingin,
Yang terlihat hanya bekas perahu dan bulan yang pecah cahayanya.

XVII. Bayangan di Cermin Tak Lagi Dikenal

Cermin perunggu memantulkan wajah, namun hati telah berubah,
Wajah lama, siapakah yang masih di sana?
Sendiri di jendela senyap, pikiranku mengikat sendiri,
Bayangan di cermin kini tak lagi kukenal.

XVIII. Daun Kuning Menyusun Jalan
Pulang

Daun-daun kuning memenuhi anak tangga, menyusun jalan lama,
Hati ingin pulang, langkah demi langkah menyentuh suara angin.
Siapa yang berdiri di depan pintu menunggu,
Menggenggam secawan teh, menghangatkan kasih yang membeku?

XIX. Cahaya Lampu Memisah Mimpi Berdebu

Lampu di kejauhan menyinari mimpi yang tertutup debu,
Setelah perpisahan bertahun-tahun, tulisan menjadi kelam.
Siapa yang meninggalkan isi hati di sudut atap,
Tertiup angin, menjadi nyanyian dalam mimpi malam?

XX. Ketika Kabut Sirna, Hati Pulang ke Pangkuan

Kabut pagi menghilang, pegunungan tampak makin dekat,
Hati yang berputar-putar akhirnya menemukan satu kebenaran.
Tak perlu lagi bertanya jalan pulang,
Cahaya lampu di dunia ini—itulah pintu tempatmu berdiri.

Shanghai, 2025