Bercengkrama dengan Prafajar
Yusufachmad Bilintention
Berbicara pada luka, berbisik pada kesedihan,
Nada-nada lirih mengiringi hati yang rapuh,
Kata tulus menenangkan jiwa yang letih,
Cerita terungkap, duka pun tertuturkan.
Sederhana, namun begitu dalam,
Terkuak, menjelma di hadapan mata,
Menggema jauh ke relung sanubari,
Menyentuh ruang sunyi yang tak terjamah.
Warna-warni malam, gurauan siang, alunan pagi,
Senyuman jernih memantulkan kejujuran,
Gema suara hati yang tak pernah pudar,
Mengalir bagai sungai menuju samudra.
Ucapan lahir sebagai penghargaan pada kata,
Seloroh lembut di getirnya hidup,
Senandungku pada bekas luka,
Jejak hitam yang masih tersisa,
Semua itu, cermin tanpa nyawa.
Bibir tersungging di kesunyian,
Kesadaran menuntun pada salah dan dosa,
Namun syukurku pada Sang Penguasa
Selalu tertanam, tak tergoyahkan dalam hati.
Karang Empat, 8 Februari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly