February 8, 2026

Catatan Kesembilan atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar-Mitos, Kesadaran, dan Pergeseran Paradigma

sampul buku sun shattering

Yusufachmad Bilintention

Membaca Sun-Shattering Mythology of Tanimbar adalah seperti menelusuri lorong antara masa lalu dan masa kini. Di sana, mitos tidak hadir sebagai dongeng usang, melainkan sebagai jalinan kesadaran—rasional sekaligus simbolik—yang terus hidup dalam tubuh komunitas dan jiwa manusia.

Pada bagian ini, mitos tampil bukan hanya sebagai narasi, melainkan sebagai struktur kesadaran yang menyeberangi batas antara rasionalitas dan simbolisme. Mircea Eliade menegaskan bahwa mitos adalah “cerita suci” yang mengatur cara manusia memahami waktu, ruang, dan keberadaan. Dalam konteks ini, mitos tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi ruang hidup yang terus berinteraksi dengan manusia dan komunitasnya.

Thomas Kuhn, melalui gagasan paradigm shift, mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan pun memiliki mitosnya sendiri—narasi besar yang bisa bergeser ketika cara pandang berubah. Dengan demikian, mitos dan ilmu bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua saudara yang sama-sama menyimpan intuisi dan kedalaman.

Di Tanimbar, mitos hadir sebagai living philosophy—filsafat yang dijalani, bukan sekadar dipikirkan. Ia berbicara melalui ritus, simbol, dan cerita lintas generasi. Mitos menjadi alat membaca perubahan sosial dan spiritual, sekaligus ruang penyembuhan luka kolektif. Dalam hal ini, saya melihat gema pemikiran Clifford Geertz yang menempatkan simbol sebagai jantung kebudayaan: mitos adalah cara komunitas menegosiasikan identitas dan merawat harapan bersama.

Mitos, dengan segala lapisan simboliknya, adalah partitur spiritual. Setiap nada adalah tanda, setiap diam adalah ruang kontemplasi. Ia mengajarkan bahwa di balik algoritma dan percepatan teknologi, masih ada jiwa yang mencari cerita. Doty menyebut mitologi sebagai studi tentang mitos, tetapi lebih dari itu, ia adalah rediscovery of myth—proses pemulihan kesadaran kolektif yang mengingatkan kita pada akar, relasi, dan makna yang tak bisa diukur dengan angka.

Sampai di sini, mitos adalah cermin jiwa sekaligus partitur spiritual. Ia mengingatkan kita bahwa di balik algoritma dan percepatan zaman, masih ada ruang kontemplasi, masih ada cerita yang menjaga nyala kesadaran. Menulis tentang mitos berarti merawat ingatan kolektif, sekaligus menjaga agar pergeseran paradigma tidak melupakan akar manusia.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly