Di Balik Doa yang Tak Terucap
Oleh: Vera Sylvia OFS
–
Lampu ruang tamu keluarga Pak Agus masih menyala terang. Di hadapan Ve, seorang anak kelas 4 SD sedang bergelut dengan perkalian pecahan. Sebagai guru private, Ve dikenal sangat sabar. Suaranya lembut, pembawaannya tenang, dan ia selalu punya cara untuk membuat muridnya merasa cerdas.
“Selesai, Kak Ve!” seru si kecil dengan bangga.
Ve tersenyum, menyisipkan rambut ke belakang telinga. “Pintar. Besok kita lanjut ke pembagian, ya?”
Namun, saat ia merapikan buku-buku ke dalam tas, tangannya tak sengaja menyentuh saku celana kainnya. Ada benda melingkar di sana. Rosario kayu sederhana, ciri khasnya sebagai seorang Fransiskan Awam. Seketika, senyumnya memudar meski bibirnya tetap melengkung.
Setelah mengajar, Ve langsung memacu motornya menuju gereja. Malam ini ada rapat koordinasi OMK. Sebagai omk kehadiran Ve selalu dinanti. Ia adalah “Ve” yang solutif, yang selalu bisa mendamaikan perselisihan antaranggota, dan yang paling rajin memimpin doa pembuka.
Ve, kok tumben agak telat?” sapa rino, ketua OMK yang baru.
“Habis mengajar, No. Biasa, kejar setoran,” jawab Ve santai, diiringi tawa kecil yang terdengar sangat natural.
Tak ada yang tahu bahwa tawa itu adalah benteng. Di balik jabatannya sebagai pengurus OMK dan komitmennya sebagai anggota OFS, Ve menyimpan sebuah rahim kesedihan. Ada trauma masa lalu sebuah luka pengkhianatan dan trauma yang ia terima bertahun-tahun lalu yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun. Tidak pada teman OMK-nya, tidak juga pada sesama saudara di persaudaraan Fransiskan.
Butiran yang Menjadi Saksi
Rapat berakhir pukul sembilan malam. Saat yang lain pulang untuk membeli obat ke apotik karena ve penderita asam setelah balik dari apotik ve mampir sejenak ke dalam gereja yang sudah sepi. Ia duduk di bangku tengah, mengeluarkan rosarionya.
Di bawah temaram lampu altar, Ve mulai menggeser butiran kayu itu.
Satu butir… Ia teringat betapa perihnya kata-kata kasar yang dulu menghancurkan harga dirinya.
Dua butir… Ia teringat rasa takut yang muncul setiap kali ada orang yang membentaknya, meski ia hanya bisa diam mematung.
Tiga butir… Ia merasa lelah menjadi “guru yang yg baik dan humble dan OMK yang teladan, sementara di dalamnya ia merasa keropos.
Bagi Ve, luka itu tersembunyi di balik butiran rosario. Doa bukan lagi sekadar kewajiban agama, tapi satu-satunya tempat ia bisa menangis tanpa perlu menjelaskan alasannya. Setiap butiran adalah kompres dingin bagi luka batinnya yang masih meradang.
Tiba-tiba, ia teringat semangat Santo Fransiskus: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.”
Ve terisak pelan. “Bagaimana aku bisa membawa damai bagi orang lain, jika di dalam diriku sendiri masih ada perang, Tuhan?” bisiknya lirih.
Namun, di tengah keheningan itu, sebuah pemikiran melintas. Mungkin ia tidak perlu “sembuh total” untuk bisa melayani. Mungkin luka-lukanya itulah yang membuatnya bisa menjadi guru private yang sabar dan kakak OMK yang penuh empati. Karena ia tahu rasanya sakit, ia tidak ingin orang lain merasakannya.
Ve menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya. Ia mencium salib di ujung rosarionya. Luka itu masih ada, trauma itu belum hilang sepenuhnya, dan ia masih belum sanggup menceritakannya pada dunia.
Tapi malam itu, di balik butiran rosario, Ve merasa Tuhan tidak menuntutnya untuk bercerita. Tuhan hanya memintanya untuk tetap memegang tangan-Nya.
Ia berdiri, memasukkan kembali rosarionya ke saku, dan melangkah keluar. Besok pagi ia harus mengajar lagi, kembali menjadi Ve yang kuat. Tapi kini, ia tahu bahwa di balik setiap butiran doa, ada Cahaya yang perlahan sedang membasuh lukanya.
Dan keesokan harinya pagi berganti malam,di meja kayu yang penuh dengan coretan rumus matematika, Ve menatap arlojinya. Pukul tujuh malam. Di hadapannya, seorang muridnya sedang mengerutkan kening menghadapi soal logaritma. Ve, dengan ketenangan yang sudah ia latih bertahun-tahun, menyunggingkan senyum lembut.
“Coba tarik napas dulu,” bisik Ve. “Sesuatu yang sulit tidak selalu berarti kita gagal. Terkadang, ia hanya meminta kita untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.”
Anak itu mengangguk, lalu kembali fokus.
Ve sendiri? Ia pun sedang mempraktikkan hal yang sama pada hidupnya sendiri.
Sebagai Fransiskan Awam. Ia terbiasa dengan jubah batin yang sederhana semangat kemiskinan, kesetiaan, dan persaudaraan. Namun, bagi Ve, “mahkota” bukanlah simbol kekuasaan, melainkan simbol komitmennya: komitmen untuk selalu tampak tegar, selalu menjadi pendengar yang baik teman teman di OMK, dan menjadi pengajar yang sabar bagi murid-muridnya.
Tapi malam ini, mahkota itu terasa begitu berat. Nyaris miring. Nyaris jatuh.
Di balik senyum profesionalnya, ada memori tentang trauma masa lalu yang seperti duri terus menusuk setiap kali ia mencoba terlelap. Ada luka yang ia sembunyikan rapat-rapat dia sembunyikan . Ia lelah menjadi kuat. Ia lelah menjadi “tiang” bagi orang lain sementara fondasinya sendiri sedang retak.
Setelah sesi private berakhir, Ve berjalan kaki menuju gereja lagi untuk adorasi singkat. Angin malam medan terasa menusuk, namun langkah kakinya tetap konstan.
Ia teringat kata-kata St. Fransiskus: “Saudara-saudaraku, mari kita mulai kembali, karena apa yang kita lakukan sebelumnya tidak berarti apa-apa.”
Ve berhenti di depan pintu kapel yang terbuka. Ia merasa mahkotanya benar-benar sudah merosot ke alis matanya ia hampir menyerah pada rasa sakit itu. Ia ingin melepaskannya, membiarkan mahkota itu jatuh ke lantai, dan membiarkan dunia melihat bahwa ia tidak baik-baik saja.
Namun, ia masuk. Ia berlutut di bangku kayu yang keras.
Ve mengeluarkan rosarionya. Jemarinya yang tadi digunakan untuk memegang pena dan mengajari anak-anak, kini meraba butiran kayu zaitun. Setiap butiran adalah pengingat bahwa “mahkota” yang ia pikul bukanlah mahkota emas yang berkilau, melainkan mahkota duri yang pernah dipikul Sang guru private dan seoan Fransiskan dan juga seorang omk.
Ia menyadari sesuatu: Mahkota itu hampir jatuh bukan karena ia lemah, tetapi karena ia mencoba menahannya sendirian.
Ia tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi seorang Fransiskan. Ia tidak perlu menjadi guru yang tak pernah sedih untuk bisa mengajar dengan tulus. Luka itu tidak akan hilang seketika, namun luka itu adalah bagian dari perjalanan.
Ve menarik napas panjang. Ia membenarkan letak “mahkota” di kepalanya bukan dengan kesombongan, melainkan dengan penerimaan. Ia masih lelah, ia masih punya luka yang tak terucap, tapi ia kembali berdiri.
Ia melangkah keluar kapel dengan kepala tegak, bukan karena ia sudah menang atas lukanya, tapi karena ia berani melangkah bersama lukanya. Besok, ia akan kembali mengajar. Besok, ia akan kembali melayani di OMK. Dan setiap kali mahkota itu terasa akan jatuh, ia tahu di mana harus menaruh tangan untuk menahannya: pada butiran-butiran doa yang selalu setia menemaninya dalam sunyi.