Festival di Rumah yang Salah: Sastra yang Diarak, Tradisi yang Terlupa
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di sebuah rumah yang bernama kebudayaan, tiba-tiba sastra diarak seperti tamu agung. Dipasangi spanduk, disorot lampu, diberi mikrofon, lalu dipersilakan berbicara atas nama zaman. Ia disambut dengan seminar, lokakarya, diskusi, dan perayaan—namun satu pertanyaan mendasar menggema di lorong-lorong gedung itu, sayup namun tak pernah mati:
Apakah rumah ini benar-benar rumahnya?
Sastra—sebagaimana bahasa—adalah napas pendidikan. Ia tumbuh dari ruang kelas, dari perpustakaan, dari arsip ingatan kolektif yang disusun perlahan oleh waktu dan pengetahuan. Ia diasuh oleh kurikulum, oleh diskursus akademik, oleh kerja sunyi literasi. Maka ketika sastra dipaksa duduk di kursi kebudayaan pertunjukan, ia tampak seperti ikan yang diajak berlari di daratan—hidup, tetapi megap-megap.
Festival Sastra Marah Roesli 2025, yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumatra Barat melalui UPTD Taman Budaya, adalah contoh paling terang tentang perayaan yang kehilangan alamat. Ia meriah, penuh jargon, penuh agenda, penuh niat baik—tetapi justru memperlihatkan krisis pemahaman terhadap fungsi dan nomenklatur institusi itu sendiri.
—
Ketika Nomenklatur Menjadi Dekorasi, Bukan Kompas
Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya sejatinya adalah penjaga api tradisi. Mereka adalah rumah gadang bagi kesenian yang tumbuh dari tanah:
randai yang berpeluh,
saluang yang bernafas panjang,
rabab yang merintih,
tari yang lahir dari adat dan upacara,
kaba yang hidup dalam suara lisan,
dan ritual yang tak bisa dipresentasikan dalam power point.
Namun apa yang terjadi hari ini?
Alih-alih menguatkan kesenian tradisional Minangkabau yang kian terpinggirkan oleh zaman, justru sastra tulis modern—yang secara struktural berada dalam wilayah pendidikan, literasi, perpustakaan, dan arsip—dipaksa menjadi wajah utama kebudayaan.
Seakan-akan Dinas Kebudayaan kehabisan ide.
Seakan-akan Taman Budaya kehilangan akar.
Seakan-akan tradisi hanya cukup disebut dalam sambutan, lalu ditinggalkan di sudut ruangan.
—
Marah Roesli Diarak, Tapi Nilainya Dikhianati
Marah Roesli adalah penggugat.
Ia menulis Siti Nurbaya bukan untuk dirayakan dengan karpet merah, melainkan untuk membongkar kemunafikan adat, kekuasaan, dan struktur sosial yang beku.
Ironisnya, namanya kini dijadikan merek festival oleh sebuah birokrasi yang justru mengulang dosa yang sama: memaksakan struktur, mencampuradukkan fungsi, dan mengabaikan logika institusi.
Bukankah Marah Roesli akan tersenyum getir melihat ini?
Sastrawan kritis dijadikan simbol oleh lembaga yang lupa mengkritik dirinya sendiri.
Festival ini mengusung moto “Negeri (dan) Ironi”. Tetapi ironi paling telanjang justru terletak pada penyelenggaranya:
merayakan ironi tanpa menyadari bahwa merekalah ironi itu sendiri.
—
Sastra Bukan Pelarian dari Mandeknya Kebudayaan Tradisional
Menggelar festival sastra bukan kesalahan.
Yang keliru adalah menjadikannya pelarian.
Ketika randai tak lagi digarap serius.
Ketika sanggar-sanggar tradisi dibiarkan hidup seadanya.
Ketika maestro seni lisan menua tanpa regenerasi.
Ketika ritual adat kehilangan ruang aktualisasi.
Maka sastra—yang relatif lebih mudah dipresentasikan, lebih “intelektual”, lebih aman secara politik—diambil alih, diarak, dan dipoles.
Ini bukan strategi kebudayaan.
Ini kamuflase kegagalan visi.
—
Taman Budaya atau Taman Acara?
Taman Budaya semestinya menjadi ladang yang menumbuhkan, bukan sekadar panggung yang memamerkan. Ia harus bekerja dalam jangka panjang, dalam proses, dalam pengasuhan tradisi.
Namun festival ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya:
kebudayaan diperlakukan sebagai event,
tradisi diperlakukan sebagai konten,
dan sastra dijadikan pemanis program.
Segalanya tampak sibuk, tetapi miskin arah.
—
Sastra yang Seharusnya Pulang ke Rumahnya
Sastra Minangkabau—baik modern maupun klasik—lebih tepat diasuh oleh Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Kearsipan. Di sanalah ia dapat hidup sebagai teks, sebagai kurikulum, sebagai arsip pemikiran, sebagai warisan intelektual yang berkelanjutan.
Sementara Dinas Kebudayaan dan Taman Budaya seharusnya kembali pada tugas asalnya: menguatkan seni tradisi, melindungi ekspresi lokal, mengayomi kebudayaan yang lahir dari tanah dan tubuh masyarakat.
Jika semua diurus oleh satu institusi, maka yang terjadi bukan sinergi, melainkan kaburnya tanggung jawab.
—
Negeri yang Salah Alamat
Festival ini mungkin akan selesai dengan tepuk tangan.
Foto-foto akan tersebar.
Laporan akan diserahkan.
Anggaran akan dipertanggungjawabkan.
Namun pertanyaan tetap tinggal, seperti gema di rumah kosong:
Apakah kebudayaan sedang dikembangkan, atau sekadar dipamerkan?
Apakah sastra sedang dimuliakan, atau sedang dijadikan alibi?
Apakah Dinas Kebudayaan masih paham rumahnya sendiri?
Di negeri yang gemar merayakan simbol, sering kali kita lupa merawat akar.
Dan ketika akar membusuk, festival apa pun hanya akan menjadi
karangan bunga di atas tanah yang retak.
—
Sumatera Barat, 2025.